Translate

Minggu, 19 Oktober 2014

IDE MESIANIS KEINDONESIAAN





Indonesia jelas sebuah bangsa yang unik dengan kemajemukannya. Tidak hanya karena keanekragaman suku, budaya dan agama yang terdapat di dalamnya, melainkan juga keanekaragaman hayati yang terkandung di dalamnya. Namun, apa yang paling unik dari Indonesia dibandingkan dengan banyak negara lain adalah bagaimana keragaman itu dapat disatukan dalam suatu wadah yang bernama Negara Kesatuan Republik Indonesia, yang diikat dengan rasa sebagai sebuah bangsa. Tentu tidak mudah untuk menyatukan dan mengakomodir semua kemajemukan, termasuk juga kepentingan yang berada di dalamnya. Di sini saya mengajak pembaca untuk melihat satu sisi yang kerap terlupa dalam pembacaan kita mengenai arus sejarah keindonesiaan, yaitu ide mesianis yang mengikat kita sebagai suatu bangsa di dalam sebuah negara.
           
Ide Mesianis?
Kata “Mesianis” adalah kata umum dalam terminologi religius agama-agama abrahamistik. Di dalam kata tersebut terkandung sebuah harapan akan masa yang cemerlang di depan sana. Secara etimologis kata ini berasal dari bahasa Ibrani, Mesyiakh yang berarti yang diberkati. Hans Kohn dalam Encyclopaedia of the Social Sciences mendefinisikan mesias sebagai “kepercayaan religius akan kedatangan seorang penebus yang akan mengakhiri peraturan (order) masa kini, baik secara universal maupun pada kelompok tertentu, dan membangun sebuah peraturan baru yang mengacu pada keadilan dan kebahagiaan.” Namun demikian, mesianisme di kemudian hari tidak hanya menjadi milik ranah religius belaka. Ia menembus batas yang membelenggunya dan merasuki kehidupan politik.
            Kondisi pemerintahan yang bobrok, keadaan sosial dan ekonomi yang kacau, bahkan penderitaan eksistensial sebuah warga bangsa dapat menimbulkan harapan mesianis. Nikolay Berdyaev, seorang filsuf Rusia, mengatakan:

“Harapan mesianis lahir melalui penderitaan dan ketidakbahagiaan serta harapan akan datangnya penghakiman terakhir... pilihan terhadap kesadaran mesianis merupakan ganti dari pengalaman menderita. Penderitaan orang Yahudi, Polandia, Jerman, dan kelas pekerja di masyarakat menjadi faktor penumbuh kesadaran mesianis.”
            Dalam dunia politik, ide mesianis ini meresap dalam kesadaran sebuah bangsa. Ia menjadi sebuah cita-cita bersama yang kemudian dikemas dalam ideologi-ideologi. Meski tak tampil secara vulgar dalam sebuah ideologi, dalam arti tak tertuliskan, namun ide mesianis menjadi hal yang tidak dapat dipungkiri memiliki pengaruh untuk menentukan perjalanan sebuah bangsa.
            Di sini ide mesianis menjadi sebuah eskatologisme sejarah. Ia adalah harapan bahwa akan ada pembebasan di depan sana. Bahwa penderitaan yang dialami kini adalah suatu situasi yang tak bisa dihindarkan untuk menuju kebahagiaan paripurna. Dalam sejarah politik, kiranya dapat dilihat bagaimana marxisme adalah jelmaan dari ide mesianis. Runtuhnya kapitalisme dan berakhirnya penderitaan kelas akan membuat tidak ada lagi penindasan, dan kebahagiaan bersama akan terenggut dari tangan para penindas. Di sini kiranya dapat ditunjukan bahwa ide mesianis bahkan hadir dalam doktrin yang paling materialis.
Mesianisme dalam keindonesiaan
Indonesia sebagai sebuah negara modern tidak dapat berkelit dari ide mesianis keindonesiaan. Bahkan dalam terminologi khas Indonesia terdapat padanan bagi kata mesias itu sendiri. Kita melihat ide mengenai “Ratu Adil” yang hingga kini masih dipercaya banyak orang. Sosok Ratu Adil ini adalah sosok yang hadir karena penderitaan yang pernah dialami rakyat Indonesia. Presiden Soekarno dalam Indonesia Menggugat bahkan menguatkan kepercayaan tentang Ratu Adil sebagai paham yang timbul karena penderitaan. Senada dengan yang diungkapkan Nikolay Berdyaev, Soekarno mengatakan:

 “Tuan-tuan Hakim, apakah sebabnya rakyat senantiasa percaya dan menunggu-nunggu datangnya ‘Ratu Adil’, apakah sebabnya sabda Prabu Jayabaya sampai hari ini masih terus menyalakan harapan rakyat ? Tak lain ialah karena hati rakyat yang menangis itu, tak habis-habisnya menunggu-nunggu, mengharap-harapkan datangnya pertolongan. Sebagaimana orang yang dalam kegelapan, tak berhenti-berhentinya menunggu-nunggu dan mengharap-harap kapan, kapankah matahari terbit?”
            Apa dan siapa sebenarnya Ratu Adil, sang Mesias Indonesia tersebut? Konsep Ratu Adil berasal dari seorang raja Mataram, Prabu Jayabaya yang hidup di abad 12. Di masa hidupnya ia meramalkan akan datangnya masa kelam di mana bencana menjadi hal yang biasa terjadi. Tidak hanya alam yang akan menyebabkan terjadinya bencana bagi manusia, melainkan juga dari manusia itu sendiri. Kehidupan sosial akan didominasi oleh orang-orang licik dan menindas sesamanya. Namun, masa itu akan segera berganti ketika sosok Ratu Adil datang dan membawa pembebasan dan kesejahteraan bagi rakyat. Pada masa itulah Nusantara akan memasuki zaman keemasannya. Sebuah zaman baru tanpa penindasan dan kelaparan.

Seiring berkembangnya zaman dan interaksi intelektual antara kaum bumiputera dan dunia Barat, Ratu Adil pun mengalami pergeseran makna. Ramalan Jayabaya yang tadinya merujuk pada suatu figur yang akan datang, kini dipahami sebagai suatu sistem di dalam pemerintahan. Melalui sistem rakyat dapat hidup sejahtera dan memperoleh pembebasan. Pada pidato tanggal 1 Juni 1945, Soekarno mengatakan:
“…Apakah yang dimaksud dengan Ratu Adil? Yang dimaksud dengan faham Ratu Adil, ialah sociale rechtvaardigheid. Rakyat ingin sejahtera. Rakyat yang tadinya merasa dirinya kurang makan kurang pakaian, menciptakan dunia baru yang di dalamnya ada keadilan, di bawah pimpinan Ratu-Adil. Maka oleh karena itu, jikalau kita memang betul-betul mengerti, mengingat, mencinta rakyat Indonesia, marilah kita terima prinsip hal sociale rechtvaardigheid ini, yaitu bukan saja persamaan politik, saudara-saudara, tetapi pun di atas lapangan ekonomi kita harus mengadakan persamaan, artinya kesejahteraan bersama yang sebaik-baiknya.”

Dalam pidato tersebut, Soekarno secara tegas menyebut kata ‘Ratu Adil’. Namun tidak seperti faham tradisional yang menganggap Ratu Adil adalah  figur, presiden Indonesia pertama itu lebih merujuk kata Ratu Adil pada sociale rechtvaardigheid, yang juga tercantum di dalam Pancasila sila ke 5, yaitu Keadilan Sosial.
            Ratu Adil kemudian terejawantah menjadi suatu Negara. Ia bukan lagi figur personal, melainkan sebuah negara. Di sin Indonesia sebagai sebuah kekuatan administratif (negara) adalah keharusan untuk mewujudkan kepentingan bersama. Negara menjadi alat untuk mengakomodir kepentingan bersama dan membawa pada tujuan paripurna cita-cita bangsa. Dalam pembukaan UUD 1945 alinea 4 tertulis peran Negara sebagai berikut.
“… untuk membentuk suatu pemerintah negara Indonesia yang melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial,…”
Meski kata Ratu Adil dimoderasi dan dijadikan ideologi oleh Soekarno,jika dicermati ia ternyata juga membuka celah bagi tafsir tradisional. Tengoklah kutipan di atas, saat ia mengatakan “menciptakan dunia baru yang di dalamnya ada keadilan, di bawah pimpinan Ratu-Adil.” Di sini ia menampilkan kembali Ratu Adil sebagai sebuah figur. Entah disengaja atau tidak, namun interpretasi rakyat kebanyakan yang hadir atau mendengarkan dari siaran radio saat itu sontak dapat mengenakan predikat Ratu Adil pada diri Soekarno sebagai pemimpin saat itu.
Soekarno jelas pernah menjadi figur yang menyatukan Indonesia. Tetapi penyatuan Indonesia saja nampaknya belum cukup untuk membuat rakyat sejahtera dalam sebuah ikatan bernama negara. Pasca Soekarno, Soeharto sebagai presiden terpilih ke 2 mencoba menyejahterakan rakyat melalui sistem pembangunan material yang digagasnya. Sayangnya sistem ini tidak dilandasi oleh pembangunan mental. Alih-alih menyejahterakan rakyat banyak, yang terjadi justru Indonesia mengalami ketergantungan  pada dunia Barat, yang hampir pula menenggelamkan kepribadian bangsa.
Apakah dengan berakhirnya pemerintahan Soeharto, ide mesianis bangsa Indonesia berakhir dengan materialisme? Nampaknya tidak. ide mesianis terlalu lentur untuk patah dalam perjalanan sejarah. Di masa pasca Soeharto, ide mesianis melebur dalam semangat reformasi. Reformasi kemudian menjadi tolok ukur kebangsaan. Seseorang dapat dikatakan reformis atau antek Orba. Ukuran ini laksana ukuran halal atau haram di dalam suatu agama. Namun tentu saja tidak ada imbalan surga atau neraka dibalik ide reformasi.

Jokowi Sang Ratu Adil?
Sejak Reformasi dipertengahan tahun 90-an yang seperti berjalan di tempat. Rakyat menemukan suatu kejenuhan akan jargon-jargon yang berlaku. Elit-elit politik ternyata tidak pernah berubah, tetap mengabdi pada kekuasaan dan tidak pernah bersama dengan rakyat. Rakyat pun hanya menjadi penonton dari keangkuhan dan pendengar setia janji-janji politis.
            Hingga suatu saat muncullah suatu nama ndeso yang dianggap sebagai Ratu Adil. Joko Widodo atau Jokowi dengan kesederhanaannya lantas dikait-kaitkan dengan Ratu Adil. Menjelang pemilu lalu, jargon-jargon mesianik tentang Ratu Adil bermunculan dalam diskusi-diskusi warung kopi hingga ke jejaring sosial.
            Kini ide mesianis kembali ke paradigma tradisional. Mesias, sang Ratu Adil adalah figur personal yang akan memberi pembebasan. Hal yang menjadi nyata dalam majunya Jokowi dan hantaman keras dari lawan-lawan politiknya, serta aksi diam tak membalas sang calon presiden itu semakin menguatkan klaim mesianis rakyat biasa pada Jokowi.
            Yang menarik dari fenomena Jokowi sebagai  presiden terpilih Indonesia adalah ia nampaknya sadar bahwa klaim Ratu Adil pada dirinya itu berbahaya. Suatu saat klaim seperti ini dapat membawa pada bencana personal jika ia gagal mengemban tugas. Upaya mengembalikan Ratu Adil menjadi sebuah sistem pun selalu dilakukan. Tentu hal ini bisa dilihat juga sebagai sebuah usaha penyadaran bahwa kesejahteraan itu adalah urusan bersama dan bukan bergantung pada sosok Ratu Adil secara personal.
            Dengan mengembalikan ide pembebasan dan juga kesejahteraan pada usaha bersama, dapat dilihat moderasi ide Ratu Adil atau mesianisme adalah kita. Kita adalah Ratu Adil dan kita lah yang akan mengubah keadaan korup, culas, munafik, bangsa tak berkepribadian, dan jagoan ngutang, menjadi bangsa yang mandiri dan bermartabat. Tentu hal ini berarti berat bagi rakyat yang selama ini hanya menuntut dan berdemo jika tuntutannya tak dipenuhi. Paradigma rakyat kini diubah menjadi pelaku perubahan itu sendiri. Jika bangsa ini mau maju atau tetap berjalan ditempat, maka itu menjadi tanggung jawab bersama.
            Kini pertanyaan kembali kepada kita. Sanggupkah kita sebagai rakyat menjadi Ratu Adil bagi bangsa ini? Sanggupkah kita menilai diri sendiri sebagai pembebas bagi bangsa ini?

HAK WARGA DALAM NEGARA DEMOKRATIS (Problem Perkawinan Beda Agama)





Dalam negara demokrasi hak setiap warga memperoleh jaminan yang sama. Dengan kata lain  setiap warga negara menginginkan suatu perlakuan yang fair dari negara pada dirinya. Itulah yang menjadi posisi dasar  setiap warga sebagai sebagai bagian dari institusi besar bernama negara. Perlakuan yang fair ini dituntut tanpa memandang jenis kelamin, ras, suku, agama, budaya yang ada.
            Warga negara Indonesia, yang memang majemuk, tentu menginginkan perlakuan yang fair terlepas dari suku mana ia berasal dan kepercayaan apa yang dipeluknya. Dalam hal perkawinan, apakah hak-hak untuk memilih pasangan yang memang dicintai sudah dijamin oleh negara? Tentu dalam tulisan ini saya tidak ingin jatuh kepada argumen teologis di mana tiap agama memiliki kebenarannya sendiri-sendiri. Sebagai warga negara (dan belum menjadi warga negara surga atau neraka), yang hidup di dalam suatu negara demokratis, keberadaan mereka harus mendapat jaminan penuh dari negara.
            Lantas bagaimana jika orang yang berbeda keyakinan atau agama ingin menyatukan cinta mereka dalam ikatan perkawinan? Jika agama memiliki doktrinnya sendiri untuk menentang, apakah negara kemudian memihak pada salah satu doktrin agama, atau ia berdiri netral? Dalam negara demokratis, negara tidak boleh berdiri untuk salah satu pihak saja, melainkan berdiri netral untuk semua orang dengan segala keyakinannya.

Problem Perkawinan Beda Agama
Problem perkawinan beda agama kembali menyeruak ketika para alumnus Fakultas Hukum UI mengajukan gugatan ke Mahkamah Konstitusi perihal UU Pernikahan, pasal 2 ayat (1), UU No 1 Tahun 1974, yang berbunyi "Perkawinan adalah sah, apabila dilakukan menurut hukum masing-masing agamanya dan kepercayaan itu". Menurut mereka pasal ini tidak dapat mengakomodir realitas yang terjadi di masyarakat. Bagaimana mungkin kebutuhan eksistensial seseorang untuk memiliki pendamping hidup dapat dipasung melalui pasal tersebut? Perlukah agama mengintervensi hubungan eksitensial dua manusia yang saling mencintai?
            Di sisi lain, agama dengan doktrinnya merasa perlu untuk menjaga keutuhan iman para pemeluknya. Oleh karena itu banyak dari kalangan agamawan beranggapan bahwa negara juga memiliki kewajiban untuk melindungi umat dari hukum neraka nantinya. Argumen teologis dan ayat-ayat yang memang tak bisa, bahkan tak boleh dibantah menjadi dalil yang dipakai. Negara pun “terancam” dosa jika berani melawan doktrin agama. Tentu saja kalangan agamawan pun ada yang memiliki sikap yang berbeda. Di antara mereka ada yang menerima perkawinan beda agama, yang sumber argumennya juga dari kitab.
Konstitusi Sebagai Landasan Negara
            Lantas bagaimana posisi negara seharusnya dalam penyelesaikan pertikaian antardoktrin agama? Menelisik lebih jauh, haruslah dipahami bahwa negara harus berpegang pada konstitusi, dan bukan doktrin apa pun. Di sini negara berdiri netral dan tidak ikut campur dalam perdebatan teologis agama-agama. Mengapa demikian? Karena tujuan negara sebagai mana yang tercantum dalam konstitusi kita adalah untuk “… melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial,…” Di sini tidak tercantum negara memiliki peran untuk membawa warganya menuju surga atau neraka. Dengan kata lain, para pendiri bangsa sadar bahwa doktrin mengenai keselamatan umat manusia setelah mati, tidak ditentukan oleh negara.
            Apa yang menjadi urusan negara adalah apa yang menjadi kepentingan bersama antar kelompok. Problem keadilan, kesenjangan sosial, ekonomi, budaya dan hal lain yang dapat memajukan negara dan warganya. Negara dituntut mampu membawa rakyatnya menuju kesejahteraan bersama, menciptakan sekolah-sekolah bermutu agar generasi mendatang memiliki pengetahuan yang mumpuni untuk mengangkat harkat dan martabat bangsa.
Negara Tidak Perlu Kafir
Negara merupakan instrumen bersama untuk maju bersama-sama. Di dalam negara yang baik, manusia dengan segala hak dasarnya dilindungi. Lantas tidakkah negara menjadi terlalu arogan untuk tidak mendengarkan suara rakyatnya yang meminta agar doktrin didengar dan dihargai? Tentu kewajiban negara untuk memperhatikan suara warganya. Bahkan suara terkecil dari kaum minoritas pun wajib didengar oleh negara. Tetapi perlulah diingat bahwa negara adalah milik bersama dan apa yang menjadi tuntutan kita hendaklah bisa berlaku secara umum. Jika kita negara memperhatikan kita, maka hendaklah perhatian negara itu bukan hanya bagi kita dan golongan kita juga. Tetapi juga dapat berlaku umum bagi golongan-golongan lain.
            Kembali ke problem perkawinan beda agama. Agama dan kepercayaan seseorang telah dijamin dalam Undang-undang Dasar kita. Dengan demikian, baik si A yang beragama itu dan si B yang beragama ini, memiliki kedudukan yang sama untuk menjalankan keyakinan agamanya. Lantas bagaimana jika si A dan si B sepakat untuk melaksanakan perkawinan? Apakah negara dapat campur tangan? Negara tidak punya wewenang dalam pernikahan tersebut. Yang dapat dilakukan negara adalah melindungi hak-hak individu yang mengikatkan diri dalam tali perkawinan

Selasa, 26 Februari 2013

Saatnya Pulang Untuk Mimpi di Malam Hari



Seusai acara launching buku seorang penulis baru yang mengklaim sebagai penganut marxisme, suasana riuh. Beberapa orang berupaya mengejar penulis untuk sekedar meminta bukunya ditandatangani dan sebagian mencoba menyapa penulis untuk menunjukan pada tamu lain bahwa mereka adalah teman atau orang yang memiliki relasi langsung dengan penulis. Ya untuk sekedar pamer bahwa mereka itu juga orang-orang cerdas, berpengetahuan dan yang sangat penting tahu banyak soal marxisme. Sementara pengunjung yang lain, tidak perduli dan asyik dengan obrolan mereka sendiri tentang kampus, pacar, macet, banjir, atau bahkan lelucon konyol. Mereka juga larut menikmati satu atau dua gelas kopi dan kue-kue yang memang disediakan  oleh panitia untuk acara ramah tamah.
Aku masuk ke golongan yang asyik sendiri, ah lebih tepatnya mungkin  asyik dengan diri sendiri. Aku sulut batang rokok dan menikmati kopi di sudut dekat pintu keluar. Melamun, hanya itu yang kulakukan sambil menatap pohon kamboja yang tumbuh rindang di teras gedung itu. Hampir dua puluh menit lamunanku menjalar, tiba-tiba dua anak muda datang menyapaku. Dari perawakan mereka dan tas kucel serta jeans lusuh dapat dilihat bahwa mereka mungkin adalah mahasiswa.
“Selamat sore bung!” sapa mereka.
“Ya, selamat sore, mari duduk.” Kataku sambil menggeser pantatku untuk memberi tempat pada sebagian dari mereka.
“Diskusi tadi menarik ya, pembicaranya pun sangat hebat dalam memaparkan pemikiran Marx.” Kata salah seorang dari mereka, yang akhirnya kuketahui bernama Andi.
“Benar, bagiku pemikiran Marx itu sangat penting bahkan sampai saat ini. Ya kalau pun ada beberapa penerapan yang tidak relevan, tidak perlulah kita membuang semua pemikirannya. Jangan membuang air mandi bayi beserta bayi-bayinya.” Kata Marto sahabatnya yang mengenakan kemeja flannel hijau. Nampaknya, ia membaca buku karya Franz Magnis Suseno karena kalimat yang ia sampaikan memang berasal dari rohaniwan tua yang juga filsuf itu.
Aku menyimaknya. Menyimak perkataan mereka dan juga lelucon khas dua pemuda itu. Sesekali kulemparkan senyum pada mereka, ya hanya sesekali. Aku lebih asyik dengan rokok dan kopi di kedua tanganku, meski tak bisa kurintangi suara-suara mereka masuk ke kupingku. Melihat aku asyik sendiri, mungkin mereka agak jengah juga. Lalu mulai mengajakku ke dalam lingkaran pembicaraan mereka. Dengan kata-kata standar perkawanan dadakan mereka bertanya “bagaimana pendapat bung?”, atau “menurut bung, bagaimana seharusnya itu ditafsirkan dalam konteks keindonesiaan?”. Tentu saja ada sebagian yang kujawab dengan argumen ringan dan sisanya kujawab “tidak tahu”.
Aneh juga mendengar mereka tertarik untuk menanyakan ini-itu padaku. Mungkin karena usiaku lebih tua dan penampilanku sama lusuhnya dengan mereka. Mungkin kelusuhan memberikan stigma yang sama dalam kondisi seperti ini. Orang lusuh di acara launching buku kiri adalah aktivis marxis. Mungkin ada benarnya mengingat beberapa aktivis yang masih “miskin” masih menggilai mode demikian. Tetapi tentu saja pendapat tersebut tidak tepat untuk para aktivis lain yang sudah mulai dikenal publik dan gemar berdiskusi di kedai-kedai kopi mewah. Singkatnya setiap jawaban yang keluar dari mulutku begitu diperhatikan oleh mereka. Sementara untuk jawaban yang kujawab “tidak tahu” mereka anggap sebagai kerendahan hati.
Namun aku senang dengan pemikiran mereka yang bebas merdeka. Kadang aku bahkan iri karena mereka belum memikirkan bagaimana orang-orang seperti aku ini bergulat untuk mendapatkan makan bagi keluarga, menyekolahkan anak yang nantinya akan tumbuh seperti mereka. Mereka juga tidak perlu risau seperti aku saat tetangga mengetuk pintu menagih hutang atau bagaimana memutar otak mencari-cari alasan saat kepergok di dalam gang sempit dengan tetangga yang kuhutangi minggu lalu itu. Mereka juga tidak perlu mencari tutur kata logis dan meyakinkan agar pemilik warung percaya bahwa aku akan mendapat uang besok dan ia merelakan berasnya beberapa liter untuk aku dan keluargaku.
Sesekali memang aku “melacur” menuliskan makalah-makalah untuk para aktivis super sibuk atau untuk mahasiswa yang tidak punya waktu menulis karena harus menyelesaikan level akhir dalam permainan game online. Ya dari situ cukuplah kiranya untuk menyambung hidup tiga sampai empat  hari. Saat ini, ketika anak-anak muda itu dengan semangat membara berkata-kata soal kemiskinan dan penindasan, apa yang dapat kukatakan? Bukankah aku pun masih bergelut dengan hal itu. Sepertinya kemiskinan dan penindasan mencintai aku tanpa perduli apakah aku membalas cintanya atau tidak. “Wejangan” apa yang bisa aku lontarkan bagi mereka? Bukankah melawan sistem tidak semudah menulis ribuan halaman buku-buku tentang bagaimana meraih kesuksesan hidup? Terlebih, saat tadi sang penulis yang mengklaim diri sebagai marxisme  memaparkan inti dari bukunya yang revolusioner itu, aku bahkan tidak dapat memikirkan untuk berpikir apakah bisa kupakai argumen-argumennya sebagai landasan epistemik berhutang di warung dekat rumahku? Ah, Hidup tidak sebatas memahami suatu teks dan melancarkan kritik atau pujian pada teks tersebut. Tidak, hidup adalah seni mempertahankan orang-orang yang kita cintai, yang ingin kita hidupi dan yang kita inginkan hidup bersama-sama dengan  kita.
Melihat, tatapanku yang tertuju ke arahnya, Marto pemuda berflanel hijau itu bertanya.
“Bung, bung itu marxisme aliran mana? Neomarxis, leninnis atau maois?” Tanyanya sembari senyum bersahabat. Mungkin ia tidak mau membuat orang seusiaku tersinggung dengan pertanyaannya, atau mungkin ia memang senang tersenyum karena ia memang ramah.
Tentu saja aku tidak terlalu yakin akan jawaban apa yang bisa kukeluarkan dari mulutku. Pertanyaan ini mungkin “remeh-temeh” bagi sebagian orang meski bagi sebagian lagi mungkin pertanyaan ini begitu serius karena menyangkut ideologi dan cara mengimplementasian ideologi tersebut. Namun bagiku, pertanyaan ini sungguh sulit untuk dijawab bukan karena kedua hal tersebut melainkan karena aku sendiri tidak tahu aku di posisi mana. Terlebih aku juga tidak mengerti benar apa yang ada di balik ideologi-ideologi tersebut. Yang aku tahu, semua ideologi, baik itu kiri atau kanan memiliki pijakan yang sama dan janji yang sama pula, yaitu membawa manusia pada kesejahteraannya.
Tetapi ia menunggu jawaban. Ia dan kawan-kawannya memperhatikan dengan seksama pergerakan bibirku. Aku harus menjawab.
“Apakah seorang marxis, entah itu neomarxis, leninis, maois boleh menggemari The Beatles dan Elvis Presley?” Jawabku dengan pertanyaan.
“Ah, bung ini bercanda. Bung lupa, bahkan Soekarno pun menganggap musik-musik mereka itu sebagai produk kapitalis. Mereka itu digunakan untuk menjajah kebudayaan bung. Jika kebudayaan sudah dikalahkan dan kepribadian bangsa sudah hancur, maka tingkat selanjutnya untuk menjajah secara ideologis akan sangat mudah.” Andi mengomentari pertanyaanku.
“Pertanyaan bung itu terkesan… Maaf bung, tapi saya harus mengatakan kalau bung tidak konsisten dengan perjuangan kelas” Marto menimpali pendapat kawannya.
Aku terdiam, mungkin mereka benar bahwa aku tidak memiliki konsistensi layaknya seorang pejuang. Bukankah Che Guevara mengatakan bahwa di dalam revolusi yang ada hanyalah pemenang dan orang mati saja. Mungkin aku bukan termasuk yang revolusioner itu, tetapi toh aku juga tidak mau mati. Tidak, tidak ada yang benar-benar siap menerima kematian meski pun agama memberikan janji-janji surgawi di balik semua kisah kematian. Lagi pula, sejak kita kecil, bukankah manusia-manusia dewasa tidak pernah memberikan pelajaran bagi anak-anaknya guna mempersiapkan diri menghadapi kematian? Tidak, bahkan di bangku sekolah pun tidak pernah ada pembicaraan macam itu. Manusia diajarkan cara untuk hidup dan bagaimana menjadi pemenang di dalam kehidupan ini.
“Jika memang demikian, mungkin aku hanyalah anak punk.” Kataku, dan mereka pun tertawa.
“Ah, bung ini selera humornya tinggi juga ya.” Sambut Marto di tengah-tengah tawanya.
“Ya, bukankah punk itu berontak dari rock and roll resmi. Menjadi musuh dari mainstream musik cadas. Bukankah para mafia di film-film Hollywood mengatakan jika musuh dari musuhmu adalah kawan? Dengan begitu, punk itu revolusioner.” Jawabku menimpali tawa mereka. Dan mereka pun semakin terbahak mendengarnya.
Ah, masih banyak relung kehidupan yang harus kita telusuri. Melihat para pemuda yang begitu bersemangat memperjuangkan ide-ide mereka tentu memberikan cita rasa tersendiri bagi orang seusiaku. Kenanganku kini hadir menyandera diriku. Dahulu aku pun seperti mereka, ya seperti itulah  kiranya setiap pemuda di zamannya. Dan aku tertegun… Siapakah yang menghancurkan impian indah para pemuda dan menggantikannya dengan mimpi buruk di usia dewasa. Sebagian menganggap mimpi buruk sebagai realitas dan membangunnya menjadi lebih buruk lagi. Sementara sebagian lain asyik masyuk dengan nostalgia kenangan masa muda yang revolusioner dan enggan terjaga untuk mewujudkan impiannya.
Hari sudah hendak menutup dirinya. Kini saatnya pulang dan bersiap untuk mimpi di malam hari…

Senin, 18 Februari 2013

Lucifer's Pain (sebuah cerpen)

Hari itu semua mata tertuju padaku. Suatu hari yang takkan pernah kulupakan. Ia berdiri di hadapanku dan matanya menatap tajam ke arah mataku. Aku tahu Ia marah. Saat itu tidak ada satu pun dari mereka yang berani mendekati kami. Mereka menatap dari kejauhan tanpa berani besuara. Hanya kami berdua berhadap-hadapan. Ia lalu memelukku dengan erat sekali. Pelukan bagi seorang sahabat yang sangat dikasihinya.

“Mengapa?” tanyaNya lembut. “Mengapa kau lakukan ini terhadapKu?”
Aku diam. Aku tak tahu apa yang harus kukatakan kepadaNya.

Sekian lama kami bersahabat, jauh sebelum semuanya ada. Kami hanya berdua saja kala semua ini bermulai. Kemudian Ia mulai menciptakan segala sesuatu sesuai dengan rancangannya. Aku pun mendukungNya saat itu dan turut membantu menyelesaikan maha karya yang tak terkira itu. Namun kemudian aku mulai menyadari bahwa ada hal-hal yang tidak Ia penuhi atau berikan pada sebuah maha karya yang ajaib itu. Mereka tidak memiliki kemandirian. Mereka hanya ada untuk menyenangkanNya. Kemudian aku mulai berusaha untuk membantu. Kukatakan membantu karena manusia merupakan karya terbaikNya dan dibuat sesuai dengan setiap detail apa yang diinginkanNya. Aku ingin mereka mandiri. Memiliki akal dan budi sehingga dapat melangsungkan kehidupan dengan lebih baik dari pada hanya sekedar tunduk padaNya tanpa tahu mengapa harus tunduk.

Aku tak dapat menahan lagi. Kala salah satu dari mereka sedang berjalan-jalan sendiri, kuberikan ia cara untuk menjadi tahu. Selama ini kitab-kitab menuliskan bahwa aku menghasutnya. Itu adalah kekeliruan besar. Aku tidak menghasutnya. Menghasut adalah kata yang salah untuk ku karena aku menginginkan yang terbaik untuk mereka. Kukatakan bahwa ia dapat menjadi sepertinya, berpengetahuan dan sanggup membedakan mana yang baik dan tidak. Mereka akan menjadi otonom dan bertanggung jawab. Salahkah aku membuat mereka menjadi mengerti?

“Kau telah menghianati aku”
“Tidak” jawabku. “Aku mencintaiMu”
“Mengapa kau menghianatiku?”
“Tidak sekalipun aku pernah mau menghianatiMu. Aku hanya menginginkan mereka untuk mengerti. Tidakkah Kau mau mereka juga mengerti mengenai segala hal? Paham akan apa yang terjadi di sekitar mereka? Apa salahku mengajak mereka untuk tahu?”
“Pengetahuan yang kau bawa adalah kejahatan terselubung”
“Ya, tetapi ketaatan mereka hanyalah kebodohan yang bernasib sial.” Jawabku

Kami terdiam sesaat. Dari ujung mataku kulihat Gabriel tertunduk. Ia adalah pesuruh. Ia yang menyampaikan apa-apa saja yang perlu untuk disampaikan kepada mereka. Aku merasakan pelukannya melemah dan akhirnya ia mendorongku.
“Pergilah kau” katanya. “Aku tak mau kau ada di sini lagi. Pergilah dan jangan pernah kembali ke sini.”
Dapatkah kalian merasakan apa yang kurasakan saat itu. Saat seorang sahabat tak lagi mau bersahabat. Ia telah menghancurkan hatiku. Ia merobek-robek sukmaku. Ia lalu berpaling. Ku tahu bahwa Ia sedih telah mengatakan demikian. Ia sedih karena akan kehilangan diriku. Aku adalah sahabatnya, satu-satunya yang dipercayaiNya dan kini Ia memintaku untuk pergi dari hadapanNya.
Aku tertunduk, namun sebelum aku menjauhiNya aku berkata “Aku tetap mencintaiMu sahabat. Aku akan selalu mencintaiMu.” Lalu aku berlalu menjauh dari diriNya. Menjauh dari seorang sahabat yang begitu kukasihi. Menjauh dengan hati yang terkoyak-koyak dan kepedihan yang tak akan pernah kalian rasakan. Kala aku melangkah, aku berjanji pada hatiku untuk selalu menolongnya, menolong manusia agar memperoleh pengetahuan dan menjadi dewasa.


I


Saat ini, ku terdiam seorang diri. Mengapa begitu sepi hidupku? Mungkinkah kutukNya abadi? Jika begitu, maka sepi adalah keniscayaan yang harus kuhidupi sepanjang zaman.
Zaman ini, aku merupakan seorang mahasiswa di sebuah perguruan tinggi bergengsi. Rasanya aneh, aku telah menjadi tabib di abad-abad yang lalu, menjadi pemikir di abad tertentu, menjadi seniman, pendeta, rahib, ilmuan dan kini harus menjadi mahasiswa. Namun itulah aku. Mereka tidak boleh mengenal aku karena mereka akan menghancurkan aku jika mereka mengetahuinya. Kitab-kitab itu telah membuatku tidak dapat menjadi diriku sendiri. Mereka bahkan membuat gambaran yang sangat menyedihkan untuk diriku. Aku digambarkan sebagai mahluk berwajah merah, bertanduk dan buruk rupa. Gambaran tersebut lebih tepat untuk monster dan bukan diriku. Kadang aku heran dari mana datangnya gambaran diriku yang seperti itu. Adakah kalian pernah berpikir, sebagai seorang panglima tertinggi waktu itu, aku memiliki rupa yang demikian. Kalian menggambarkan Gabriel, Mikhael dengan wajah yang anggun. Aku adalah atasan mereka dan tampangku kalian buat lebih buruk dari seekor binatang. Keterlaluan, benar-benar keterlaluan. Ah, biarlah mereka yang percaya aku demikian tetap mempercayainya, tetapi bagi mereka yang bertanya-tanya, hendaklah berpikir mengenai gambaran yang salah tersebut. Kini sebagai seorang mahasiswa aku cukup puas dengan bentuk tubuh yang kuingini. Sebagai mahasiswa aku dapat menjadi begitu kreatif tanpa harus takut jika adaku terbongkar.
Tahukah kalian bahwa kreativitas merupakan hal yang penting bagi kita? Seorang mahasiswa merupakan sebuah peran di mana kreativitas menjadi hal yang dimaklumi. Orang-orang selalu beranggapan bahwa orang yang sudah mapan tidak lagi membutuhkan kreativitas. Mereka hanya perlu mengikuti apa yang ada dan mereka ciptakan di masa muda. Bah!! bagiku hal tersebut merupakan kebodohan yang paling bodoh dari umat manusia. Dunia ini diciptakan dengan kreativitas yang tinggi dariNya dan kalian telah mewarisi kreativitas tersebut. Akulah yang membukakan mata nenek moyang kalian. Menjadi seorang mahasiswa begitu menyenangkan. Kita dapat berpikir sebebas-bebasnya dan tak takut dengan belenggu apapun. Itulah diriku, itulah jiwaku. Sebuah diri yang dipenuhi semangat yang tak pernah habis dari zaman ke zaman. Revolusi, revolusi adalah keniscayaan yang harus ditempuh bagi dunia ini. Tanpa revolusi tak akan pernah ada apa-apa.
Mereka tak pernah tahu bahwa akulah yang menginspirasikan setiap perubahan di setiap bidang. Apa itu perubahan? Tidak lain adalah suatu cara untuk memperbaiki keadaan. Setiap revolusi suatu saat akan menjadi baku dan beku. Oleh karena itu revolusi tidak boleh dan tidak akan pernah berhenti sehingga segala sesuatu terus berjalan. Revolusi yang telah berjalan harus ditutup dengan revolusi yang kemudian. Begitu seterusnya dan seterusnya.
Ku ingat ketika dunia ini baru berjalan, ketika mereka baru belajar untuk tahu, mereka begitu rentan tehadap hal-hal yang ada di sekelilingnya. Dahulu para penulis kitab mengatakan takut akan Dia merupakan awal dari pengetahuan. Sebenarnya kesakitan dan penderitaan adalah permulaan dari pengetahuan. Saat mereka terlempar ke luar dari kenyamanan bersamaNya. Di saat terlempar itulah mereka mulai mencari kemungkinan-kemungkinan untuk tetap hidup. Aku, saat itu, tidak tinggal diam. Aku mengurus mereka, membantu mereka untuk memecahkan permasalahan yang ada. Mereka mulai menggunakan hewan-hewan untuk membantu mereka mengerjakan alam ini. Aku juga membantu mereka dalam memahami, memahami pengetahuan. Mereka mulai tahu beranak-pinak, bersahabat dengan alam dan memenuhi kebutuhan hidup mereka. Namun demikian, sahabatku berpandangan lain. Ia tak mengizinkan mereka untuk mengetahui secara tuntas. Mereka tidak diberi waktu karena mereka harus mati. Ya kematian merupakan suatu hambatan untuk mengetahui segala hal. Dari situ maka manusia harus berlomba dengan waktu, dengan masa depannya yaitu kematian, untuk meraup pengetahuan. Dapatkah kalian bayangkan betapa pedih hatiku melihat mereka yang bersemangat untuk tahu harus berhenti ketika kematian tiba. Kadang kematian tidak lagi memandang. Ia laksana batu yang dapat menimpa apa pun di bawahnya. Ia bahkan dapat menjemput seorang anak kecil yang bakat-bakatnya pun belum lagi nampak. Tahu kah kalian bahwa anak-anak yang direngut oleh kematian pada dasarnya merupakan anak-anak yang akan menjadi begitu jenius di usia yang matang. Aku tak dapat berbuat apa-apa bagi mereka. Aku tak dapat menyelamatkan mereka dari kematian.
Karena adanya kematian itu, maka seperti yang kukatakan tadi, revolusi menjadi keniscayaan. Manusia harus berevolusi agar evolusi kesadaran dimungkinkan. Tanpa itu mereka tak ada bedanya dengan hewan yang hanya menyerahkan diri pada takdir belaka.
Manusia mengerti. Ya, mereka mengerti bagaimana harus menghidupi diri. Namun mereka belum cukup untuk mengenali diri. Mengenali setiap potensi yang terdapat pada diri mereka. Mereka harus terus menggalinya dan untuk itulah maka aku ada. Aku adalah keabadian yang akan selalu membangkitkan kreativitas yang mereka miliki. Kreativitas yang berasal dari padaNya. Kalian pikir menjadi seperti apakah secitra dengannya? Ku katakan sekarang, menjadi secitra denganNya adalah menjadi sekreatif diriNya. Ia begitu kreatif. Lihatlah segala yang ada di sekeliling dunia. Lihatlah warna hijau. Dapatkah kalian hitung ada berapa macam warna hijau yang terdapat pada setiap daun? Lihatlah! Untuk satu warna saja Ia telah menciptakan ribuan variasi apa lagi terhadap hal-hal lain yang Ia ciptakan. Ia adalah seniman agung dan aku adalah sahabatNya dan sekaligus pemuja setiap karyaNya.
Tentu kalian tak akan mengerti mengapa aku begitu memujaNya setelah Ia mengusirku. Yang dapat kukatakan adalah Ia sahabatku dan aku selalu merindukan diriNya. Aku tidak pernah memendam apapun terhadapNya dan Ia pun begitu pula. Aku tahu Ia mengetahui apa yang kukerjakan. Apa yang aku lakukan hanyalah membantuNya. Terkutuklah mereka yang menganggap aku penyesat, sumber segala bencana dan penyebab kematian. Aku tidak inginkan itu semua terjadi pada kalian. Aku ingin kalian mandiri, bahagia dan abadi. Aku tidak pernah menginginkan kematian kalian. Mereka berbohong, mereka para penulis kitab itu berbohong. Mereka tak tahu apa yang sebenarnya terjadi antara aku dan Dia. Mereka hanya mereka-reka saja dan aku menjadi korbannya.


***** ** ******* *******
Pada masa lalu, ketika peperangan tiap suku bangsa terjadi di mana-mana, aku hadir di situ. Aku tahu sahabatku tak menyukainya. Ia terlalu cinta pada manusia dan aku tahu betapa sedihnya Ia menyaksikan mereka bertikai dan saling bunuh. Kalian pasti berpikir aku ada di sana untuk menghasut mereka membunuh. Tidak! Ku katakan aku tidak menghasut mereka. Aku justru berusaha untuk menghentikan mereka. Ya, menghentikan mereka karena sahabatku tak menyukai hal tersebut. Ku kira kalian adalah mahluk paling aneh yang pernah ada. Kalian tidak pernah menyadari kesempurnaan kalian di banding dengan mahluk-mahluk lain. Dalam setiap pertikaian dan peperangan kalian selalu berpikir bahwa Ia ada di pihak kalian. Tahukah kalian bahwa hal tersebut merupakan hal terlucu yang pernah ada. Kalian meminta pada Dia yang sama? Kalian saling meminta kemenangan dan yakin bahwa Ia akan memihak kalian. Kukatakan sekarang: Ia tak pernah berpihak pada hal-hal tersebut. Ia tak pernah mau memenangkan yang satu dan mengorbankan yang lain. Bagaimana mungkin untuk satu orang atau kelompok Ia mengorbankan manusia ciptaannya yang lain, yang begitu dikasihinya?
Pada siapakah sebenarnya mereka berdoa? Kukatakan pada kalian bahwa mereka tidak berdoa kepada siapa-siapa, apalagi kepada Dia. Dia tidak pernah mendengarkan doa-doa semacam itu. Dia tahu tapi tak mau mendengarkan. Yang aku tahu dari semua permohonan-permohonan kalian untuk mendapatkan kemenangan hanyalah berita sedih bagiNya. Bagaimana mungkin Ia menolong kalian dan mencelakakan yang lain? Pikirkanlah!
Mereka menuduhku bahwa penyebab segala pertikaian, peperangan dan pembunuhan adalah aku. Akulah penyebab semua ini. Akulah yang mengakibatkan manusia memiliki ambisi buta, keinginan untuk saling mengungguli, keinginan untuk berkuasa dan keinginan untuk memasyurkan diri. Tidak! Keinginan-keinginan itu adalah milik kalian dan itu adalah alam kalian. Kuberi tahu satu hal, kalian sebenarnya dapat lepas dari keinginan kalian tersebut jika kalian mau belajar. Mau belajar menjadi seperti diriNya. Ia penuh dengan kasih dan mengerti diri. Yang kumaksud dengan mengerti diri adalah ia begitu tahu apa-yang perlu dan benar-benar perlu bagi diriNya. Ia tahu sifat-sifatnya dan segala potensi yang ada bagi diriNya. Jika kalian mampu belajar untuk memahami diri seperti Dia dan mampu mengembangkan kasih, maka kalian akan hidup dengan lebih baik. Mengertilah apa-apa saja yang dapat menyulut pertikaian di antara kalian dengan begitu kalian akan memahami bahwa pertikaian itu tidak perlu. Pengetahuan yang kuberikan pada kalian sebenarnya memampukan hal tersebut, namun kalian dibutakan oleh apa yang kalian sebut jati diri. Kalian saling ingin menegaskan diri masing-masing.

***** ** ******* *******

Kini kalian akan bertanya, bagaimana aku hadir di dunia ini? Bagaimana aku berperan pada kehidupan ini? Aku ada dari tiap generasi ke generasi. Aku menjadi seperti kalian. Hidup dalam kefanaan. Kalian pikir di mana aku akan hidup setelah ia mengusirku? Aku di sini bersama-sama dengan kalian. Aku tidak akan pernah pergi meninggalkan kalian karena aku telah membuka pintu pengetahuan bagi kalian dan aku bertanggungjawab atas apa yang telah kuberikan.
Aku hidup dalam tubuh fana namun jiwaku mengembara di dalam diri kalian. Aku memberi pengertian. Ahh ....... lebih tepatnya melengkapi pengertian kalian. Ia telah memberikan pengertian dan aku pun berbuat hal yang sama. Jika kalian mengerti, itulah sebabnya ada begitu banyak pengertian yang berbeda-beda yang dipahami oleh manusia. Tidak ada satupun yang tidak baik. Kukatakan sekali lagi bahwa tidak ada yang tidak baik yang kami berikan pada kalian, hanya saja kalian belum mau mengerti apa yang kalian benar-benar inginkan sehingga dapat timbul kekacauan dan pertikaian. Kenalilah dulu diri. Kalian adalah nada-nada yang otonom dari sebuah orkes. Bunyi-bunyi yang berbeda. Do bukanlah Re dan Mi bukan Fa. Namun jika kalian tahu kapan harus berbunyi dan dengan siapa kalian dapat berpadu dengan harmonis, maka kalian dapat hidup dengan begitu indah. Tidakkah kalian mengerti ungkapan ‘Carilah dulu kerajaanNya, maka semuanya akan dilimpahkan kepadamu’? kerajaanNya ada di dalam mu. Jika engkau mengerti siapa kalian dan apa yang benar-benar baik maka semua hal di luar kalian akan dapat dimengerti.

Aku ada untuk kerajaanNya. Tak dapat kusangkal bahwa aku ikut berperan di dalamnya dan seperti janjiku dahulu, aku akan selalu membantuNya untuk mewujudkan kerajaanNya. Suatu waktu di masa yang lalu, aku sempat bertemu denganNya. Ia hadir dalam rupa manusia. Pertama-tama aku memang tidak mengenalinya sampai ketika ia berada di padang gurun. Para penulis kitab mengatakan bahwa aku mencobai Dia di sana, tetapi yang benar bukan demikian. Pertemuan di gurun tersebut merupakan sebuah perjumpaan antar sahabat yang telah lama tak bertemu. Semula aku tidak yakin apakah itu adalah Dia, sahabat lamaku. Aku harus mengetahuinya dengan lebih jelas jika Ia benar-benar sahabatku. Ia nampak seperti manusia biasa. Ia tersenyum, bercanda atau seringkali bergunjing dengan para temanNya. Namun ada yang lain dari diriNya. Tatap mata yang tak akan pernah kulupa saat terakhir kali kami saling tatap.

Aku bertanya akankah dia mau menyerahkan kekhawatiranNya dengan mementingkan diriNya sendiri? Ia katakan tidak. Ia tidak memerlukan makanan duniawi untuk mengenyangkan diriNya. Dari situ aku tahu mengenai ketetapan hatiNya yang teguh. Lalu aku bertanya lagi apakah Ia sanggup menyelamatkan diriNya jika Ia benar adalah Dia. Ia tersenyum dan berkata bahwa aku tidak perlu meragukan apa yang benar-benar dapat dilakukanNya.
“Mengapa kau bertanya seolah-olah kau tidak mengenaliku?” BisikNya. “Apakah kau ragu tentang Aku? Ini adalah Aku.” Lanjutnya sambil mengores-goreskan kayu yang dipegangnya pada pasir yang mengeliling diriNya.

“Jika Engkau benar-benar Dia, apa yang Kau lakukan di sini? Tidakkah Engkau dapat melihatnya dari sana? Atau....kini Engkau sadar bahwa apa yang dahulu kulakukan hanyalah ingin membantuMu? Lihatlah kini, mereka sudah banyak belajar dari kehidupan. Ya..walaupun masih harus belajar lagi, tetapi mereka telah belajar untuk hidup. Maukah Kau bergabung denganku untuk mewujudkan apa yang dahulu pernah kulakukan?.”

“Tidak” jawabnya. “Bukan untuk itu Aku datang. Tidakkah kau lihat bahwa apa yang telah kau lakukan memakan begitu banyak korban? Kau selalu mengatakan soal diri otonom, lihatlah. Tidak akan pernah hal demikian menjadikan mereka baik. Otonomi diri merupakan ilusi dan keangkuhan diri. Mereka saling bunuh hanya atas nama otonomi diri, otonomi bangsa, otonomi daerah. Otonomi adalah penegasan diri yang semena-mena. Tidakkah kau mengerti hal itu?

“Tetapi itu hanya tahap di mana mereka belajar. Itu hanya bagian dari sebuah proses yang berlangsung. Mereka akan belajar dari situ dan suatu saat mereka akan mengerti bahwa hal-hal seperti itu sebenarnya tidak perlu. Bantulah aku untuk mewujudkan hal tersebut jika engkau benar-benar mampu.”

“Tidak! Jika engkau benar-benar yakin akan apa yang kau lakukan, lakukanlah. Namun Aku tidak akan bertindak demikian. Aku memiliki caraKu sendiri untuk membuat mereka mengerti.”

“Apa itu?”

“Cinta kasih yang akan membuat mereka mengerti dan bukan otonomi!” katanya sambil memberikan senyumNya.

Ya itu adalah Dia. Aku yakin bahwa itu adalah diriNya. Cinta kasih merupakan hal yang penting bagi diriNya dan bagi apa yang berasal dari diriNya. Setelah sekian lama ia tidak pernah berubah untuk mengasihi. Untuk mengasihi itulah Ia datang. Tetapi mereka tidak mengerti apa itu cinta kasih. Ia akhirnya mati dibunuh. Ia mati secara fisik, namun mereka tidak dapat benar-benar membunuhNya. Ia adalah sang abadi itu sendiri.
Saat Ia akan kembali ke sana, beberapa hari setelah kematianNya, aku berjumpa lagi denganNya.

“Lihatlah, mereka belum mengerti apa itu cinta kasih.” Kataku kepadaNya.
Mereka membunuhMu, tetapi ku katakan padaMu bahwa itu hanyalah bagian dari proses pembelajaran mereka. Mereka akan mengerti nantinya bahwa apa yang mereka lakukan padamu adalah kesalahan. Ah.., bukan mereka melainkan anak cucu mereka yang akan mengerti hal tersebut.”

Ia tersenyum, lalu dari balik senyumNya Ia berkata:
“Bukan untuk itu kawan, kematianKu bukan untuk suatu pembelajaran akan kebebasan atau otonomi diri. Lewat kematianKu Aku ingin mereka tahu bahwa dengan cinta kasih Aku rela menanggung apa yang tidak pantas bagi diriKu. Bahkan kematianpun bukan apa-apa jika ada cinta kasih. Dan Aku ingin mereka bertindak demikian.”

Tidakkah Ia mengerti bahwa dengan cinta kasih saja mereka belum mampu menanggung beban? Mereka tidak paham. Mereka menginginkan makanan duniawi, mereka butuh sesuatu yang tampak dan nyata untuk menenangkan diri sementara Ia hadir dengan menawarkan makanan rohani dan janji-janji yang tidak akan terdapat di dunia ini. Ya, janji-janjinya hanya akan terwujud di dunianya dan itu pun nanti. Jika semua ini berakhir dan bukan sekarang. Mereka butuh kekinian dan bukan nanti. Mewujudkan apa yang dia inginkan terjadi di sini seperti menginginkan sesuatu dari ketiadaan. Apa yang dapat kita diharapkan dari ketiadaan?

Rabu, 12 Desember 2012

SASTRA SEBAGAI PENYADARAN F.M. DOSTOEVSKY dan N. G. CHERNYSHEVSKY



Karya sastra sering kali dianggap sebagai hiburan atau pengisi waktu luang. Kegiatan sastra sendiri lebih dipandang sebagai kegiatan komersil yang berorientasi pada kapital belaka. Karya politik, filsafat, ekonomi, sosiologi, dan lain-lain dianggap sebagai karya yang lebih serius dibanding dengan karya sastra. ”Belajarlah serius, jangan terlalu banyak baca buku cerita (novel, cerpen atau karya sastra yang lain), nanti tak tajam otakmu!” begitulah kira-kira tanggapan masyarakat mengenai orang yang gemar akan karya sastra.
            Anggapan akan kedangkalan suatu karya sastra tentu tidak akan terlihat dalam tradisi sastra Rusia. Sastra di sana digandrungi tidak hanya oleh masyarakat kebanyakan melainkan juga para pemikir serius, seperti filsuf dan politisi. Orang-orang seperti Lenin gemar membaca sastra, seperti karya-karya dari Chernyshevsky. Dan filsuf seperti Berdyaev membaca karya-karya Dostoevsky. Singkatnya karya sastra tidak menjadi sesuatu yang ”murahan” di Rusia, karena di dalam karya sastra mereka terdapat begitu banyak perenungan filosofis untuk selalu direnungkan dan dipikirkan.
            Sebaliknya, sastrawan Rusia pun memiliki kepekaan filosofis yang tertuang di dalam karya-karya mereka. Chernyshevsky misalnya, ia adalah seorang pemikir yang genuine. Karya estetikanya merupakan perlawanan terhadap konsep estetika Hegel dan para hegelian, yang saat itu menjadi trend dikalangan para intelektual dunia. Begitu juga dengan Dostoevsky, Karya-karya sastranya merupakan perlawanan terhadap konsep manusia yang mekanistis, yang merupakan hasil dari modernisasi ala Barat. Singkatnya, mereka tidak hanya sastrawan, melainkan juga pemikir yang konsisten dengan gagasan-gagasan yang dianutnya.
            Merupakan hal yang menarik untuk melihat kedua sastrawan besar Rusia di abad 19, yaitu F. M. Dostoevsky dan N. G. Chernyshevsky. Keduanya menyampaikan gagasan-gagasan yang cemerlang, provokatif, politis dan sekaligus filosofis melalui karya-karya sastranya. Mengapa dua tokoh ini penting untuk diangkat dan dibahas bersama? Jawabannya adalah karena pertama kedua tokoh ini hidup di masa yang sama. Kedua, kedua tokoh ini merupakan rival dari polemik budaya yang terjadi di Rusia pada abad 19. Ketiga, baik Dostoevsky dan Chernyshevky, memiliki pandangan yang khas mengenai apa yang harus dilakukan untuk kemajuan dan kemakmuraan bangsa Rusia.

Latar Belakang Sosial Politik Rusia Abad 19
Apa yang digumuli oleh Dostoevsky dan Chernyshevsky di Rusia pada abad 19 tidak dapat dilepaskan dari reformasi[1] yang pernah dicanangkan oleh Tsar Peter Agung (1672-1725) pada abad XVII. Saat itu, Tsar Peter mengirimkan siswa-siswa unggulan untuk belajar di luar negeri dengan tujuan agar dapat menyerap sains dan teknologi yang sedang berkembang di Eropa (Barat) dan membawanya ke Russia.[2] Gema dari reformasi tersebut tidak hanya berhenti pada masa pemerintahan Tsar Peter Agung melainkan tetap dilanjutkan oleh Tsar-Tsar lain setelah ia wafat.[3]
Namun demikian, reformasi tersebut belum cukup untuk menyejahterakan rakyat Russia. Secara ekonomis mayoritas dari mereka tetap hidup ‘pas-pasan’. Dan secara intelektual, saat itu masih banyak orang yang buta huruf. Jadi apa yang dicanangkan oleh pemerintah dengan reformasinya tidaklah berdampak kuat pada kehidupan masyarakat secara keseluruhan. Reformasi hanya menyenangkan kaum atas saja dan rakyat biasa hanya menjadi “pelengkap penderita”. Situasi demikian membuat  banyak intelektual merasa terpanggil untuk memikirkan ketidakadilan yang terjadi. Mereka kecewa terhadap apa yang menimpa bangsanya dan berusaha untuk merumuskan yang terbaik untuk semua. Situasi kekecewan tersebut kiranya yang dalam pandangan Berdyaev menjadi sumber bagi para penulis Russia untuk berkarya.[4]
Pada abad XIX, timbullah suatu kelompok yang menjadi cikal bakal perlawanan terhadap pemerintah feodal saat itu. Sekitar tahun 1838 dan 1848 terdapat sekumpulan pemuda yang mencoba mengeritik pemerintah. Orang-orang seperti Belinsky, Turgenev, Bakunin dan Herzen dapat dikatakan sebagai cikal-bakal dari gerakan yang disebut ‘Intelegensia’. Intelegensia sendiri merupakan istilah khas Rusia yang timbul pada masa itu. Istilah ini tidak sama artinya dengan intelektual, intelegensia lebih bernuansa “propetik”. Setiap intelegensia beranggapan bahwa mereka memiliki ikatan yang sama, yakin bahwa mereka memiliki tugas khusus untuk “mewartakan” pembaruan sosial. Tugas mereka laksana seorang pendeta atau pastor namun dalam bentuk sekular.[5] Ikatan tersebut kiranya melebihi ide pemikiran yang mereka miliki (anut) masing-masing. Karena kegigihan mereka memperjuangkan ide-ide kemasyarakatan, mereka bahkan dikenal sebagai sebuah “kelas” yang siap untuk dipenjara, menjalani kerja paksa bahkan kematian sebagai upah dari pemikiran mereka.[6]
Wacana yang begitu diminati oleh para intelegensia saat itu adalah bagaimana menemukan bentuk “manusia baru” untuk bangsa Rusia. Pertanyaan “seperti apa sebenarnya ke-rusia-an orang Rusia” tersebut kemudian menjadi salah satu tema pemikiran mereka. Di sini, usaha untuk merumuskan identitas bangsa Rusia giat dilakukan oleh para intelegensia. Selain itu, mereka juga mencari alternatif sistem sosial yang ada, baik itu pemerintah maupun sistem kemasyarakatan agar dapat membuat kehidupan rakyat menjadi lebih baik.
Pencarian akan kerusiaan orang Rusia kemudian menimbulkan sebuah polemik kebudayaan di antara mereka. Perlu diingat bahwa intelegensia bukanlah golongan homogen, malainkan terbagi menjadi dua kelompok, yang satu adalah kelompok yang menginginkan pengadopsian pola-pola Eropa Barat untuk kemajuan bangsa Rusia, yang disebut Zapadniki (westernizer); sedangkan yang lain adalah kelompok yang menginginkan Rusia untuk kembali ke akar budayanya sendiri, yaitu kelompok Slavophil. Dua kelompok ini sebenarnya menginginkan hal yang sama, yaitu pembaharuan dan kemajuan bangsa Rusia. Orang-orang Zapadniki beranggapan bahwa jika Rusia ingin maju, maka ia harus mencontoh apa yang terjadi di Eropa Barat. Seperti diketahui, bahwa bangsa Barat dengan rasionalitas yang mereka miliki telah mengalami kemajuan yang pesat dibidang ilmu-ilmu, terlebih pada ilmu alam. Kaum zapaniki beranggapan bahwa masa depan Rusia hanya dapat dituju dengan mengikuti apa yang terjadi di belahan Eropa Barat. Sementara itu, kaum slavophil percaya bahwa untuk mencapai  kemajuan bangsa Rusia harus kembali pada tradisi di mana gereja ortodoks menduduki tempat yang utama. Mereka percaya bahwa melalui ortodoksi yang mereka miliki, mereka dapat sebanding atau tidak kalah dengan  bangsa-bangsa Eropa Barat. Meskipun pilihan idiologis mereka berbeda, tetapi terdapat benang merah yang serupa dari pemikiran-pemikiran kedua kelompok tersebut. Hal yang menyatukan mereka adalah sosialisme (yang dapat berbentuk sekular atau religius).
            Sosialisme merupakan idiologi profetik di dalam kehidupan manusia modern. Sosialisme merupakan suatu doktrin yang mengagas kebersamaan sebagai panji utamanya. Kebersamaan ini diwujudkan dengan tiadanya kepemilikan dan keuntugan pribadi. Semua hal yang diusahakan manusia haruslah untuk tujuan bersama dan milik bersama pula karena kepemilikan pribadi dapat menimbulkan penindasan dan perbedaan antara yang kaya dan yang miskin. Dengan tiadanya kepemilikan secara pribadi sosialisme percaya dapat membawa kehidupan manusia ke arah yang lebih baik dan tanpa penindasan karena setiap orang akan menjadi saudara.
Sosialisme sendiri hadir di Russia dalam tiga bentuk. Pertama,  sosialisme utopis,  yang beranggapan bahwa pembaharuan sosial hanya dapat terjadi melalui perubahan-perubahan struktur pemerintahan.[7] Kedua adalah sosialisme Narodnik[8] yang percaya bahwa pembaharuan tidak dapat tercapai melalui perubahan-perubahan yang dilakukan oleh negara dengan mengubah sistem birokrasi dan struktur pemerintahan. Mengapa? Karena mereka percaya bahwa pada dasarnya negara adalah vampire yang menghisap darah rakyat. Ide utama dari kaum Narodnik adalah pemisahan atau pengambilan jarak terhadap kekuasaan pemerintah.[9] Ketiga adalah sosialisme  ilmiah atau juga dikenal dengan istilah sosialisme marxis. Bentuk pemikiran seperti sosialisme dan saintisme mewarnai pemikiran penganut sosialisme ketiga ini secara kental sebagai perlawanan terhadap feodalisme pemerintahan Tsar di abad 19, dan reformasi yang pernah dicanangkan oleh Tsar Peter Agung.[10]
Chernyshevsky adalah seorang zapadniki (westernaizer). Ia percaya bahwa perubahan dapat terjadi jika cara kerja ilmu-ilmu alam diterapkan pada sistem sosial. Ia percaya bahwa hanya ilmu alam yang dapat mempertahankan objektivitasnya. Dengan ilmu alam yang rasional itu, bangsa Rusia akan sanggup untuk mencapai tujuannya, yaitu kesejahteran bagi seluruh rakyat. Melalui tulisan dan tindakannya, Chernyshevsky ingin mendidik rakyat Rusia  untuk melaksanakan tugas termulia: berbakti pada rakyat dengan jalan melaksanakan revolusi sosialis.[11] Pengaruhnya begitu kuat bagi gerakan-gerakan revolusioner Russia pada saat itu. Mulai dari tokoh-tokoh Nachaev, seorang nihilis[12], hingga Lenin dipengaruhi oleh pemikiran Chernyshevsky. Lenin bahkan mengadopsi judul novelnya yang berjudul ‘What is to be Done?’[13] untuk judul traktat politiknya. Keberadaannya di Russia dapat dikatakan sebagai santo sekular.[14]  
Sementara itu, Dostoevsky sebagai seorang Slavophil beranggapan bahwa Rusia tidak perlu mengikuti (apa lagi mengimitasi) bangsa-bangsa Barat. Rusia memiliki keutamaan dan identitasnya sendiri yang berbeda dengan bangsa-bangsa Eropa Barat. Keutamaan dan identitas Rusia yang luhur itu terdapat di dalam  tradisi, di mana gereja ortodoks menduduki tempat yang utama. Ortodoks (prasvo-slavie – bhs. Rusia)  berarti kepercayaan yang murni. Ortodoksi yang mereka miliki tersebut sebanding atau tidak kalah dengan modernitas yang dimiliki bangsa-bangsa Eropa Barat. Dengan kembali kepada akar budaya, mereka yakin bahwa Rusia akan memperoleh kembali kejayaan mereka. Dostoesvky sebagai seorang Slavophil pernah mengatakan bahwa:  “Keselamatan kita (Rusia – HS) berada pada tanah dan rakyat”.[15]

Realisme Sebagai Landasan
Baik Dostoevsky maupun Chernyshevsky menggunakan faham realisme di dalam karya-kaya mereka. Realisme sendiri di dalam ranah pemikiran (secara umum) berarti suatu usaha untuk melihat segala sesuatu sebagaimana adanya. Maksudnya adalah menerima fenomen-fenomen seperti benda-benda atau pikiran sebagaimana adanya, tanpa idealisasi dan spekulasi.
            Di dalam realisme, fenomen-fenomen “dilihat” sebagai sesuatu yang berdiri sendiri, lepas dari gagasan-gagasan (seperti idealisasi atau spekulasi) yang dimiiki oleh manusia. Jadi jika ada sebuah meja, maka meja itu ada secara tersendiri. Meja bukanlah suatu yang eksis di dalam pikiran belaka, seperti yang bayangkan oleh pada penganut idealisme. Meja itu ada, dan tetap ada tanpa perlu kehadiran seseorang untuk mempersepsikannya. Lebih lanjut, seperti layaknya meja, dunia juga merupakan fenomen yang berdiri sendiri. Dunia itu ada secara kongkret dan bukan dalam persepsi manusia. Jika dunia itu hanya ada di dalam persepsi seseorang, maka ketika orang itu meninggal, maka dunia itu ikut mati bersamanya. Tetapi kenyataannya tidak. Dunia tetap ada walaupun orang yang mempersepsikannya telah tiada. Pendapat ini tentu masih dapat dipertanyakan. Bukankah manusia di dalam dunia juga mendunia? Maksudnya bukankah manusia juga membentuk dunianya sendiri, seperti dunia bisnis, dunia olah raga, dunia pemikiran, dan lain-lain. Tetapi bukan dunia seperti itu yang dimaksudkan di dalam realisme. Dunia seperti yang tadi disebutkan merupakan dunia kedua yang dikonstruksi oleh manusia. Dunia yang dimaksud dalam realisme adalah dunia yang juga di sebut bumi dalam arti yang khusus. Jadi bukan dunia yang terdapat di dalam dan dikonstruksi oleh manusia sendiri.
            Di dalam ranah seni, realisma muncul sebagai perlawanan terhadap dua arus pemikiran, yaitu idealisme dan romantisisme. Idealisme adalah pemikiran yang dingin, abstrak dan melulu teoritis, sehingga tidak menjejak lagi di dalam kenyataan kongkret. Sementara romantisime adalah gerakan yang telah memisahkan seniman dan juga karya seni dari akarnya, yaitu masyarakat. Semboyan Romantik yang mengatakan l’art pour l’art merupakan jargon yang memuakkan dalam pandangan realisme. Mengapa? Karena l’art pour l’art itu absurd. Tidak ada seni yang dapat berdiri sendiri tanpa ada manusia dan masyarakat yang menjadi dasarnya. Bagi faham realisme, seni itu haruslah berasal dari manusia dan masyarakat, dan haruslah bagi masyarakat.
            Jika dirunut lebih jauh, faham realis dalam seni sebenarnya dapat ditelusuri dari pandangan August Comte (1798-1857). Comte mengatakan bahwa pengalaman akan keindahan dan seluruh bidang kesenian tidak bisa merupakan tujuan pada dirinya sendiri. Sebaliknya, seni harus lahir dari masyarakat dan demi masyarakat pula.[16] Pandangan tentang seni ini kemudian dilanjutkan pula oleh pemikir-pemikir lain seperti Hyppolyte-Adolphe Taine (1828-1893), Charles Fourier ( 1772-1837), Pierre Joseph Proudhon (1809-1865), dan lain-lain. Dua tokoh terakhir merupakan tokoh yang memiliki pengaruh kuat terhadap intelektual Rusia abad 19.
            Dasar dari metode realisme  dalam seni, secara sederhana, adalah analisa sosial, yaitu studi dan penggambaran manusia di dalam masyarakat. Realisme tidak seperti faham-faham lain (idealisme maupun romantisisme) yang mengisolasi manusia dari latar belakang sosial yang dihidupinya. Sebaliknya, realisme mengungkapkan apa yang ada di dalam masyarakat dan menyodorkan kembali kepada masyarakat agar mereka menyadari situasi tersebut.[17] Hal tersebut kiranya nampak dalam karya-karya sastra realis. Di dalam karya sastra realis dapat dijumpai gambaran-gambaran kongkret mengenai situasi sosial yang tertuang dan menjadi latar belakang yang dihidupi oleh tokoh-tokoh di dalam karya tersebut.
            Chernyshevsky dan Dostoevsky adalah orang-orang realis. Di dalam karya-karya mereka dapat ditemukan gambaran-gambaran kehidupan serta kepelikan yang terdapat di dalamnya. Lebih lanjut, Chernyshevsky sendiri memandang seni sebagai sesuatu yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan dan alam ini karena seni merupakan reproduksi dari keindahan yang terdapat di dalam kehidupan dam alam itu sendiri. Sebagai sesuatu yang hadir dan eksis di kehidupan, seni juga memiliki fungsi moral, yaitu seni harus membuat orang semakin menyadari kemanusiaan yang dimiliki dan dihidupinya. Maksudnya adalah selain mengangkat realitas yang ada di tengah-tengah masyarakat, seni juga harus menggugah masyarakat untuk meyadari realitas hidupnya. Dengan mengguangkapkan realitas kehidupan dan apa yang penting di dalam kehidupan manusia dan alam, bagi Chernyshevsky, seni telah menjalakan fungsi moralnya.[18] Pentingnya seni di dalam kehidupan manusia, maka seperti juga ilmu-ilmu alam, menurutnya, seni haruslah terbuka atau dapat diakses secara masal.[19]
             Seperti para realis lainnya, Dostoevsky menolak l’art pour l’art. Baginya seni adalah ekspresi kreativitas manusia. Seniman, pencipta karya seni, adalah manusia yang hidup di sini dan kini, dan seni sebagai karya adalah hasil dari pengungkapan kehidupan itu sendiri. Seni tidak dapat dilepaskan dari kehidupan.[20] Sepintas, pandangan Dostoevsky dan Chernyshevsky mengenai seni nampak serupa, namun demikian dua tokoh ini berbeda di dalam memandang fungsi dari seni. Jika pada Chernyshevsky seni dipandang sebagai alat untuk menyadarkan manusia akan kemanusiaan dan realitas hidupnya serta bertujuan untuk mengubah masyarakat, pada Dostoevsky manfaat seni tidak dipahami demikian. Manfaat seni baginya adalah keindahan itu sendiri. Seni menjalankan fungsinya jika seni dibiarkan bebas dan menjadi dirinya sendiri ketimbang dipaksakan untuk suatu tujuan-tujuan politik (yang menjadi tujuan dari realisme sosialis).  Menurutnya, manfaat seni, dalam kaitannya dengan kebutuhan manusia, adalah keindahan dirinya. Keindahan seni bermanfaat karena ia indah.[21] Dari pendapatnya tersebut, apakah kemudian Dostoevsky jatuh ke dalam romantisisme yang digugat para realis? Jawabannya tidak. Di dalam novel-novelnya dapat ditemukan bahwa ia konsisten dengan realisme. Ia bahkan tidak menolak tema-tema sosial yang menjadi latar belakang dari karya-karya sastra. Namun demikian, yang menjadi maksud darinya adalah ia menolak jika usaha kreatif seniman dalam menulis dibatasi oleh tuntutan-tuntutan di luar kreativitas itu senidiri. Ia menolak jika tujuan karya sastra hanya direduksi menjadi pelayan bagi kepentingan-kepentingan nonestetik, sepeti tujuan politik.[22]
            Perbedaan mengenai manfaat seni dalam pandangan kedua tokoh ini mungkin menarik untuk dikaji secara lebih mendalam, tetapi di dalam tulisan ini saya tidak akan membahasnya secara lebih lanjut. Yang akan kita gumuli bersama di dalam tulisan ini adalah bagaimana mereka menggambarkan realitas yang ada di zamannya dan bagaimana mereka melihat apa yang seharusnya dilakukan oleh bangsa Rusia.

Sto Delat? Versus Zapiski iz Podpol’ya
Gambaran akan kondisi Rusia di abad 19 dan apa yang harus diperbuat oleh bangsa itu, kiranya tertuang di dalam karya dua sastrawan besar ini. Situasi ambigu yang lahir dari ketegangan antara modernitas dan tradisi, antara kaum zapadniki dan slavophil kiranya tercermin jelas di dalam novel Chernyshevsky dan Dostoevsky.
            Novel Sto Delat? atau ‘Apa Yang Harus Dilakukan?’ merupakan novel yang ditulis Chernyshevsky di Siberia tahun 1862, ketika ia menjalani hukuman akibat aktivitas politiknya. Sebagaimana diketahui bahwa Dalam peta pemikira Rusia, Chernyshevsky tidak hanya dikenal sebagai seorang pemikir dan sastrawan. Ia juga dikenal sebagai seorang yang melakukan apa yang digaungkan dalam tulisan-tulisannya. Dapat dikatakan bahwa teori dan praksis adalah kesatuan di dalam kehidupan Chernyshevsky.
            Semangat revolusioner merasuk pada diri Chernyshevsky ketika ia kuliah di universitas St. Petersburg. Dengan membaca karya-karya pemikir sosialis dunia seperti Fourier, Proudon, Robert Owen, dan lain-lain, ia mulai memahami bahwa dalam kehidupan berbangsa tidak boleh ada satu kelas yang menindas kelas lainnya. Berbekal pemikiran tokoh-tokoh sosialis, ia melihat bahwa Rusia adalah contoh kongkret adanya penindasan suatu kelas terhadap kelas lainnya, yaitu kelas borjuis (juga feodal) terhadap kelas petani. Baginya  jalan damai tidak akan berhasil untuk menumbangkan kelas penghisap darah rakyat, harus dengan revolusi-lah petani dan rakyat tertindas akan memperoleh kebebasannya.
            Keyakinan bahwa harus ada revolusi dibuktikannya dengan keluarnya ia dari dunia akademik tempatnya mengajar, dan memulai aktivitas politiknya dengan menceburkan diri dalam bidang sastra dan jurnalis di St. Petersburg tahun 1853.  Ia membantu dua majalah yang kiri Otechestvenniya Zapiski (Catatan Tanah Air) dan Sovremennyik (Orang Sejaman). Melalui dua majalah tersebut gagasan-gagasannya mengenai revolusi sosialis mengalir dan membakar semangat para pembacanya.
Di tahun 1860-an  Chernyshevsky ikut aktif berperan dalam kelompok pochva i svoboda (tanah dan kebebasan). Lebih dari itu, ia juga memproklamasikan perlawanan terhadap Tsar. Proklamasi tersebut ditujukan bagi para Barskim krestyanam (petani tanpa tanah atau petani budak). Dalam proklamasi tersebut, ia menganjurkan adanya sebuah revolusi sebagai jalan bagi terciptanya kesamaan harkat dan derajat bagi para petani dan para petani diminta untuk bersatu dan menyiapkan senjata untuk kepentingan revolusi. Selain itu, ia juga meminta petani untuk lebih mendekatkan diri dan bersahabat dengan para tentara.  
Chernyshevsky dijebloskan ke dalam penjara pada tahun 1862 namun ia baru menjalani sidang setelah dua tahun menjalani masa tahanan di Penjara Peter and Paul di St. Petersburg. Di dalam persidangan, sebenarnya tidak ditemukan bukti-bukti yang menunjang untuk menetapkan kesalahannya, namun dengan tuduhan palsu bahwa ia menjalankan usaha percetakan ilegal ia akhirnya dihukum kerja paksa selama empatbelas tahun dan menjalani pembuangan di Siberia (Tsar kemudian mengubah hukumannya menjadi tujuh tahun). Chernyshevsky tahu bahwa tuduhan itu adalah tuduhan palsu, dan untuk menunukan pebelaannya ia melakukan aksi mogok makan selama sembilan hari yang mengakibatkannya hampir mati karena lemas. Senat Rusia saat itu mencabut semua hak-hak sipil yang dimiliki Chernyshevsky.
Sebelum menjalani hukuman kerja paksa, Chernyshevsky dipermalukan di depan publik. Ia diikat rantai dan di arak ketengah kota serta dinaikan ke panggung dengan mengenakan papan yang dikalungkan dilehernya. Panpan tersebut bertuliskan ‘Penjahat Bangsa’. Di penjara, jiwa revolusioner Chernyshevsky tidak padam. Di Siberia ia menuliskan banyak karya berbentuk sastra, roman, politik, ekonomi, sejarah, dan juga terjemahan-terjemahan. Karya yang sangat terkenal, yang ditulis ketika ia dipenjara yaitu karya sastra berjudul ‘Apa Yang Harus Dilakukan’. Karya sastra ini merupakan sastra politik-filosofis. Di dalam karya tersebut ia mengungkapkan apa-apa saja yang diperlukan guna membebaskan bangsa dari penindasan kaum aristokrat. Revolusi rakyat adalah keniscayaan yang harus dilakukan jika petani dan orang miskin Rusia menginginkan kebebasan.
Di dalam novel ini dapat dilihat bagaimana Chernyshevsky merasa bahwa bangsa Rusia harus belajar banyak dari dunia Barat, di mana sains dan rasionalitas  menjadi perangkat mereka untuk mencapai kemajuan. Argumen-argumen yang dikemukakannya melalui figur Lopukhov jelas didasarkan atas pemikiran Eropa Barat mengenai rasionalitas dan perfeksibilitas manusia.[23] Di sini ia mengemukakan pentingnya sebuah kalkulasi atau perhitungan atas segala tindakan yang dilakukan oleh manusia. Baginya, suatu tindakan haruslah dipilih berdasarkan apa yang paling bermanfaat. Melalui Lopukhov ia mengatakan:
“Kita mulai dari melihat bahwa tindakan manusia didasarkan atas apa yang perlu untuk dilakukan. Tindakan-tindakan tersebut kiranya di dasarri oleh motovasi-motivasi yang dimilikinya. Dalam bertindak, salah satu motivasi menjadi dasar bagi apa yang dilakukannya. Dalam masalah hidup dan mati, di situlah kiranya tempat di mana kita meletakan proposisi kita antara apa yang paling bermanfaat untuk dilakukan. Pertarungan antarmotif di dalam diri manusiakita sebut sebagai pertimbangan apa yang paling bermanfaat untuk dilakukan. Dengan demikian, sebenarnya manusia selalu bertindak berdasarkan pertimbangan apa yang paling bermanfaat dan apa yang kuran bermanfaat.”[24]

                  Apa yang dikemukakan di atas merupakan konsep utilitarian yang digagas oleh Chernyshevsky untuk bangsa Rusia. Sepintas terlihat bahwa konsep tersebut begitu egoistik karena manusia menentukan apa yang paling bermanfaat atau menguntungkan bagi dirinya. Namun, kalkulasi tersebut tidak harus bersifat egoistik karena di dalam pandangan utilitarianisme, manusia dikatakan baik jika, ketika mencari keuntungan bagi dirinya sendiri, ia juga harus memberikan keuntungan bagi orang lain. Selaras dengan pandangan John Stuart Mill, seorang pemikir yang dikagumi oleh Chernyshevsky, moralitas utilitaris juga mengenal konsep pengorbanan diri untuk kepentingan orang lain. Dengan demikian, pencarian keuntungan atau manfaat dari suatu tindakan tidak melulu bersifat egoistik.[25]
             Tindakan untuk mencari apa yang paling bermanfaat haruslah mempertimbangkan keberadaan orang lain agar tidak jatuh ke dalam tindakan yang egoistik. Keberadaan orang lain perlu diperhitungkan karena manusia tidak hidup sendiri, dan individualitas manusia tidak cukup sebagai sumber kebahagiaan. Oleh karena itu, individualitas harus diminimalisir supaya kebahagiaan bersama dapat dicapai. Di sini Chernyshevsky menekankan pentingnya kebersamaan manusia. Tindakan harus didasarkan pada kalkulasi terhadap apa yang paling bermanfaat bagi banyak orang. Jika tindakan itu hanya bermanfaat bagi sedikit orang, tindakan itu masih kurang baik. Suatu tindakan bisa menjadi benar-benar baik jika tindakan itu memberi manfaat bagi banyak orang. Semakin banyak orang yang menerima manfaat darinya, semakin baiklah tindakan itu.[26]
            Menurut Chernyshevsky, Rusia bisa melakukan tindakan yang akan memberikan banyak manfaat bagi rakyatnya jika ia mau mencontoh apa yang terjadi di Eropa Barat. Melalui sains dan teknologi Rusia akan mampu mencapai kemajuan yang akhirnya akan dapat memberikan kesejahteraan yang lebih besar bagi rakyatnya. Impian yang menunjukan hal tersebut nampak pada bagian  novelnya yang berjudul ‘Mimpi Vera Pavlona’. Di dalam mimpi tersebut, dikisahkan  Vera berada di dalam sel yang gelap. Sel tersebut kemudian terbuka dan Vera tiba-tiba berada di sebuah lapangan yang dipenuhi oleh orang-orang tua, baik lelaki maupun perempuan, yang lumpuh. Vera sendiri juga mengalami kelumpuhan, namun ia tidak pernah menyadari bahwa dirinya lumpuh. Hal ini menurutnya karena ia terlahir dengan kondisi demikian dan dikelilingi oleh orang-orang yang juga sama sehingga ia tidak menyadari kelumpuhannya. Ia tidak pernah berjalan maupun berlari. Dengan demikian, bagaimana ia tahu bahwa ada kondisi lain selain kelumpuhan yang dialaminya. Kelumpuhan kemudian dimaklumkan sebagai sesuatu yang memang harus demikian dan sudah semestinya ada di dalam kehidupan. Tiba-tiba sebuah suara yang tidak dikenalnya menyembuhkan Vera. Ia bisa berjalan, bahkan berlari. Ia bebas dan lepas berjalan dan berlari kesana-kemari hingga akhirnya ia mendapatkan tugas mulia dari suara tersebut. Tugas itu adalah suatu perintah agar Vera menyembuhkan juga orang-orang lumpuh di sekitarnya.
            Mimpi yang dialami oleh Vera Pavlovna kiranya merupakan representasi dari situasi yang terjadi di Rusia saat itu. Chernyshevsky melihat bahwa bangsanya tinggal di dalam kegelapan dan keterkungkungan (tradisi, agama dan feodalisme), yang digambarkan melalui orang-orang tua yang lumpuh. Suara yang membebaskan itu adalah representasi dari sains dan rasionalitas bangsa Eropa Barat. Orang-orang Rusia selama ini tidak menyadari dan mengerti bahwa mereka tinggal di dalam kegelapan dan mengalami kelumpuhan karena mereka lahir dan dibesarkan dalam kondisi seperti itu. Hanya sains dan Rasionaitas Barat-lah yang dapat menyembuhkan mereka dari kelumpuhan dan membawa mereka ke luar dari kegelapan yang mereka alami selama ini. Tugas yang diemban oleh Vera merupakan representasi dari apa yang harus dilakukan oleh orang-orang muda yang progresif. Mereka harus memberikan penyadaran akan realitas yang kelam dan membebaskan masyarakat dari kegelapan yang dialaminya serta menyembuhkan masyarakat dari ketidakberdayaanya.
    Novel Zapiski iz Podpol’ya yang ditulis Dostoevsky merupakan perlawanan dari apa yang dicetuskan Chernyshevsky dalam novelnya Sto Delat?. Dostoevsky, seperti telah disinggung di bagian awal, adalah seorang slavophil. Sebagai mana orang-orang slavophil, ia menolak pengadopsian budaya Barat oleh bangsa Rusia. Baginya kemajuan bangsa Rusia hanya dapat dicapai jika Rusia kembali kepada keutamaan dan identitasnya sendiri yang berbeda dengan bangsa-bangsa Eropa Barat, yaitu tradisi, di mana gereja ortodoks menduduki tempat yang utama.
Di dalam novel ini dapat dilihat sanggahan-sanggahan yang dilakukan Dostoevsky terhadap pemikiran Chernyshevsky dan kaum zapadniki yang pro Barat. Ia mengatakan bahwa rasionalitas Barat yang merasuk ke dalam orang-orang Rusia itu sama dengan penyakit gigi yang diderita oleh manusia. Namun karena penyakit itu tidak kunjung sembuh, maka orang kemudian malah menikmatinya. Orang-orang sakit itu adalah orang-orang seperti Chernyshevsky dan kaum zapadniki, mereka tidak sadar akan “penyakit” yang merongrong kedaulatan bangsa Rusia. Mereka, karena tak dapat sembuh malah menikmati penyakit gigi tersebut. Bagi Dostoevsky tidak ada yang patut dibanggakan dari rasionalitas Barat, yang mendudukan pikiran di atas segalanya. Apakah rasionalitas itu? Rasionalitas hanyalah cara berpikir, dan sebagaimana pikiran, ia hanya akan memuaskan kapasitas berpikir manusia, tidak lebih.[27]
Mengenai konsep utilitarian yang digagas Chernyshevsky, di mana manusia harus mengkalkulasi tindakan-tindakannya berdasarkan apa yang paling bermanfaat atau yang paling menguntungkan, Dostoevsky membantah hal tersebut. Ia mengatakan bahwa perhitungan dan kalkulasi itu tidak dapat memberikan kepastian pada manusia. Apakah yang dapat dipastikan dari manusia? Hanya orang bodohlah yang dapat dipastikan.[28] Manusia sebenarnya lebih dari pada perhitungan dan kepastian-kepastian tersebut.
Dostoevsky tidak sependapat dengan proyek Chernyshevsky tersebut. Ia melihat bahwa perubahan harus dimulai dari manusia itu sendiri. Menurutnya apa yang digagas oleh Chernyshevsky tidak melihat manusia sebagai manusia melainkan mesin. Manusia bukan benda. Oleh karena itu maka ia tidak dapat ditentukan dalam kalkulasi-kalkulasi saintifik. Dostoevsky beranggapan bahwa perlu cintakasih bagi manusia  untuk bereksistensi. Dengan cintakasih penindasan terhadap manusia tidak akan terjadi karena cintakasih akan menjadikan manusia untuk bertindak secara adil.
Dostoevsky berpendapat bahwa apa yang ada di Barat tidak perlu menjadi identitas bangsanya. Rusia memiliki budayanya sendiri, yang lebih baik jika dibandingkan dengan budaya Barat. Perbedaan Rusia dengan bangsa Eropa Barat, mengikuti pembagian yang dilakukan Komyakov, seorang slavophil, diungkapkan dengan istilah iranstvo dan kushitstvo. Iranstvo adalah istilah yang berarti kebebasan dan spiritualitas, sedangkan kushitstvo berarti keniscayaan dan materialistik. Komyakov beranggapan bahwa identitas Bangsa Rusia adalah iranstvo dan dunia Barat adalah kushitstvo.[29] Kebebasan yang dimaksud dengan iranstvo tidak sama dengan kebebasan individual yang terdapat dalam liberalisme Barat. Di Rusia kebebasan dipahami sebagai kebebasan spiritual umat Tuhan. Menurut Dostoevsky, pengadopsian nilai-nilai Barat tidak perlu dilakukan karena peradaban Eropa akan jatuh karena liberalisme yang dianutnya, dan mengikuti liberalisme yang terjadi di Eropa sebagaimana yang berlangsung di Rusia saat itu sama saja dengan mengikuti kejatuhan mereka.[30]
Penutup
Pertarungan konsep dan idiologi kedua pemikir besar Rusia abad 19, yang dituangkan ke dalam karya-karya sastra mereka, kiranya bukan sekedar pertarungan intelektual belaka. Pertarungan ini adalah pertarungan untuk kedaulatan dan kemajuan bangsa Rusia sendiri. Apa yang dilakukan oleh Chernyshevsky dan Dostoevsky di dasarkan kepada rasa nasionalisme yang tinggi. Mereka berdua memiliki kerinduan yang sama untuk melihat Rusia mencapai kemajuan dan kesejahteraan. Apa yang menjadi pembeda dari dua sastrawan-filsuf ini adalah cara-cara yang mereka gagas untuk mencapai kemajuan tersebut.
          Dari perjalanan sejarah, menjelang revolusi Bolshevik, dukungan terhadap pemikiran kaum zapadniki menguat. Ini berarti apa yang digagas oleh Chernyshevsky mendapat dukungan di masa itu. Harus diakui bahwa dengan gagasan-gagasan sosialisme sekular (marxis), dalam waktu singkat Rusia (kemudian menjadi Uni Soviet) telah berhasil menjadi salah satu negara adi daya di dunia.
          Kehidupan Chernyshevsky memang telah usai ketika revolusi Bolshevik meletus, tetapi semangat dan gagasan-gagasan darinya kiranya telah mengilhami sejumlah tokoh-tokoh revolusioner untuk berjuang membebaskan rakyat Rusia dari ketertindasnnya. Lenin sendiri di dalam bukunya Emperio Criticism mengatakan:
Chernyshevsky merupakan satu-satunya pemikir besar yang, sejak tahun limapuluhan sampai 1888, mampu mempertahankan filsafat materialisme dan mendepak hal-hal tak masuk akal dari neo-Kantian, Machian dan para pemikir yang berpikiran kusut lainnya.[31]
Namun demikian, seturut dengan keberhasilan pendukung-pendukung zapadniki, apakah gagasan yang dibangun Dostoevsky dan kaum slavophil tenggelam dan hilang begitu saja? Nampaknya tidak. Justru, apa yang digagas Dostoevsky terbukti benar di kemudian hari. Gagasan Chernyshevky terbukti terjebak pada perbudakan “gaya baru”. Jika dahulu rakyat diperbudak oleh pemerintahan feodal, kini rakyat diperbudak oleh rezim komunis. Dengan mengatasnamakan kepentingan bersama, individualitas hampir setiap warga negara tertindas. Harus diakui pula bahwa pengagungan terhadap rasionalitas manusia telah menimbulkan bencana yang tidak sedikit. Dostoevsky benar ketika ia mengatakan: “Lihatlah darah mengalir di sungai-sungai... Lihatlah apa-apa yang terjadi sepanjang abad 19... Lihatlah Napoleon ... Lihatlah apa yang terjadi di Amerika Utara.”[32]
          Apa yang dapat kita petik dari kedua sastrawan besar dan bangsa Rusia untuk Indonesia kiranya adalah usaha untuk membangun karakter bangsa dan perdebatan logis atas suatu masalah. Perdebatan seperti itu memang pernah ada  di dalam sejarah sastra Indonesia sebelum peristiwa Gestok (Gerakan Satu Oktober 1965). Saat itu sastrawan baik dari pihak kiri maupun kanan, pihak Manipol maupun Manikebu berdebat mengenai hal-hal serupa untuk membangun karakter bangsa. Kini debat-debat untuk membangun karakter bangsa kiranya sudah jarang terjadi, terlebih dalam ranah sastra. Karya-karya sastra pun kini jarang ada yang mengangkat tema tersebut. Mungkin karena tidak “menjual” seperti tema-tema cinta remaja, maka tema kebangsaan sudah tidak menarik lagi. Ah, jika Chernyshevsky hidup di Indonesia pada zaman ini, tentu ia akan mengatakan “Что Делат Индонезийкий? Dan Dostoevsky akan menulis “Записки из Индонезя”, untuk menggagas keindonesiaan orang Indonesia

* Catatan kaki dan daftar pustaka tidak disertakan untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan. Edisi lengkap dapat dilihat di  Journal Glasnost (FIB Universitas Indonesia), Vol.  IV. April 2008 – September 2008 atau dapat diminta pada penulis