Hari itu semua mata tertuju padaku. Suatu hari yang takkan pernah
kulupakan. Ia berdiri di hadapanku dan matanya menatap tajam ke arah
mataku. Aku tahu Ia marah. Saat itu tidak ada satu pun dari mereka yang
berani mendekati kami. Mereka menatap dari kejauhan tanpa berani
besuara. Hanya kami berdua berhadap-hadapan. Ia lalu memelukku dengan
erat sekali. Pelukan bagi seorang sahabat yang sangat dikasihinya.
“Mengapa?” tanyaNya lembut. “Mengapa kau lakukan ini terhadapKu?”
Aku diam. Aku tak tahu apa yang harus kukatakan kepadaNya.
Sekian
lama kami bersahabat, jauh sebelum semuanya ada. Kami hanya berdua saja
kala semua ini bermulai. Kemudian Ia mulai menciptakan segala sesuatu
sesuai dengan rancangannya. Aku pun mendukungNya saat itu dan turut
membantu menyelesaikan maha karya yang tak terkira itu. Namun kemudian
aku mulai menyadari bahwa ada hal-hal yang tidak Ia penuhi atau berikan
pada sebuah maha karya yang ajaib itu. Mereka tidak memiliki
kemandirian. Mereka hanya ada untuk menyenangkanNya. Kemudian aku mulai
berusaha untuk membantu. Kukatakan membantu karena manusia
merupakan karya terbaikNya dan dibuat sesuai dengan setiap detail apa
yang diinginkanNya. Aku ingin mereka mandiri. Memiliki akal dan budi
sehingga dapat melangsungkan kehidupan dengan lebih baik dari pada hanya
sekedar tunduk padaNya tanpa tahu mengapa harus tunduk.
Aku tak
dapat menahan lagi. Kala salah satu dari mereka sedang berjalan-jalan
sendiri, kuberikan ia cara untuk menjadi tahu. Selama ini kitab-kitab
menuliskan bahwa aku menghasutnya. Itu adalah kekeliruan besar. Aku
tidak menghasutnya. Menghasut adalah kata yang salah untuk ku karena aku
menginginkan yang terbaik untuk mereka. Kukatakan bahwa ia dapat
menjadi sepertinya, berpengetahuan dan sanggup membedakan mana yang baik
dan tidak. Mereka akan menjadi otonom dan bertanggung jawab. Salahkah
aku membuat mereka menjadi mengerti?
“Kau telah menghianati aku”
“Tidak” jawabku. “Aku mencintaiMu”
“Mengapa kau menghianatiku?”
“Tidak
sekalipun aku pernah mau menghianatiMu. Aku hanya menginginkan mereka
untuk mengerti. Tidakkah Kau mau mereka juga mengerti mengenai segala
hal? Paham akan apa yang terjadi di sekitar mereka? Apa salahku mengajak
mereka untuk tahu?”
“Pengetahuan yang kau bawa adalah kejahatan terselubung”
“Ya, tetapi ketaatan mereka hanyalah kebodohan yang bernasib sial.” Jawabku
Kami
terdiam sesaat. Dari ujung mataku kulihat Gabriel tertunduk. Ia adalah
pesuruh. Ia yang menyampaikan apa-apa saja yang perlu untuk disampaikan
kepada mereka. Aku merasakan pelukannya melemah dan akhirnya ia
mendorongku.
“Pergilah kau” katanya. “Aku tak mau kau ada di sini lagi. Pergilah dan jangan pernah kembali ke sini.”
Dapatkah
kalian merasakan apa yang kurasakan saat itu. Saat seorang sahabat tak
lagi mau bersahabat. Ia telah menghancurkan hatiku. Ia merobek-robek
sukmaku. Ia lalu berpaling. Ku tahu bahwa Ia sedih telah mengatakan
demikian. Ia sedih karena akan kehilangan diriku. Aku adalah sahabatnya,
satu-satunya yang dipercayaiNya dan kini Ia memintaku untuk pergi dari
hadapanNya.
Aku tertunduk, namun sebelum aku menjauhiNya aku berkata
“Aku tetap mencintaiMu sahabat. Aku akan selalu mencintaiMu.” Lalu aku
berlalu menjauh dari diriNya. Menjauh dari seorang sahabat yang begitu
kukasihi. Menjauh dengan hati yang terkoyak-koyak dan kepedihan yang tak
akan pernah kalian rasakan. Kala aku melangkah, aku berjanji pada
hatiku untuk selalu menolongnya, menolong manusia agar memperoleh
pengetahuan dan menjadi dewasa.
I
Saat
ini, ku terdiam seorang diri. Mengapa begitu sepi hidupku? Mungkinkah
kutukNya abadi? Jika begitu, maka sepi adalah keniscayaan yang harus
kuhidupi sepanjang zaman.
Zaman ini, aku merupakan seorang mahasiswa
di sebuah perguruan tinggi bergengsi. Rasanya aneh, aku telah menjadi
tabib di abad-abad yang lalu, menjadi pemikir di abad tertentu, menjadi
seniman, pendeta, rahib, ilmuan dan kini harus menjadi mahasiswa. Namun
itulah aku. Mereka tidak boleh mengenal aku karena mereka akan
menghancurkan aku jika mereka mengetahuinya. Kitab-kitab itu telah
membuatku tidak dapat menjadi diriku sendiri. Mereka bahkan membuat
gambaran yang sangat menyedihkan untuk diriku. Aku digambarkan sebagai
mahluk berwajah merah, bertanduk dan buruk rupa. Gambaran tersebut lebih
tepat untuk monster dan bukan diriku. Kadang aku heran dari mana
datangnya gambaran diriku yang seperti itu. Adakah kalian pernah
berpikir, sebagai seorang panglima tertinggi waktu itu, aku memiliki
rupa yang demikian. Kalian menggambarkan Gabriel, Mikhael dengan wajah
yang anggun. Aku adalah atasan mereka dan tampangku kalian buat lebih
buruk dari seekor binatang. Keterlaluan, benar-benar keterlaluan. Ah,
biarlah mereka yang percaya aku demikian tetap mempercayainya, tetapi
bagi mereka yang bertanya-tanya, hendaklah berpikir mengenai gambaran
yang salah tersebut. Kini sebagai seorang mahasiswa aku cukup puas
dengan bentuk tubuh yang kuingini. Sebagai mahasiswa aku dapat menjadi
begitu kreatif tanpa harus takut jika adaku terbongkar.
Tahukah
kalian bahwa kreativitas merupakan hal yang penting bagi kita? Seorang
mahasiswa merupakan sebuah peran di mana kreativitas menjadi hal yang
dimaklumi. Orang-orang selalu beranggapan bahwa orang yang sudah mapan
tidak lagi membutuhkan kreativitas. Mereka hanya perlu mengikuti apa
yang ada dan mereka ciptakan di masa muda. Bah!! bagiku hal tersebut
merupakan kebodohan yang paling bodoh dari umat manusia. Dunia ini
diciptakan dengan kreativitas yang tinggi dariNya dan kalian telah
mewarisi kreativitas tersebut. Akulah yang membukakan mata nenek moyang
kalian. Menjadi seorang mahasiswa begitu menyenangkan. Kita dapat
berpikir sebebas-bebasnya dan tak takut dengan belenggu apapun. Itulah
diriku, itulah jiwaku. Sebuah diri yang dipenuhi semangat yang tak
pernah habis dari zaman ke zaman. Revolusi, revolusi adalah keniscayaan
yang harus ditempuh bagi dunia ini. Tanpa revolusi tak akan pernah ada
apa-apa.
Mereka tak pernah tahu bahwa akulah yang menginspirasikan
setiap perubahan di setiap bidang. Apa itu perubahan? Tidak lain adalah
suatu cara untuk memperbaiki keadaan. Setiap revolusi suatu saat akan
menjadi baku dan beku. Oleh karena itu revolusi tidak boleh dan tidak
akan pernah berhenti sehingga segala sesuatu terus berjalan. Revolusi
yang telah berjalan harus ditutup dengan revolusi yang kemudian. Begitu
seterusnya dan seterusnya.
Ku ingat ketika dunia ini baru berjalan,
ketika mereka baru belajar untuk tahu, mereka begitu rentan tehadap
hal-hal yang ada di sekelilingnya. Dahulu para penulis kitab mengatakan
takut akan Dia merupakan awal dari pengetahuan. Sebenarnya kesakitan dan
penderitaan adalah permulaan dari pengetahuan. Saat mereka terlempar ke
luar dari kenyamanan bersamaNya. Di saat terlempar itulah mereka mulai
mencari kemungkinan-kemungkinan untuk tetap hidup. Aku, saat itu, tidak
tinggal diam. Aku mengurus mereka, membantu mereka untuk memecahkan
permasalahan yang ada. Mereka mulai menggunakan hewan-hewan untuk
membantu mereka mengerjakan alam ini. Aku juga membantu mereka dalam
memahami, memahami pengetahuan. Mereka mulai tahu beranak-pinak,
bersahabat dengan alam dan memenuhi kebutuhan hidup mereka. Namun
demikian, sahabatku berpandangan lain. Ia tak mengizinkan mereka untuk
mengetahui secara tuntas. Mereka tidak diberi waktu karena mereka harus
mati. Ya kematian merupakan suatu hambatan untuk mengetahui segala hal.
Dari situ maka manusia harus berlomba dengan waktu, dengan masa depannya
yaitu kematian, untuk meraup pengetahuan. Dapatkah kalian bayangkan
betapa pedih hatiku melihat mereka yang bersemangat untuk tahu harus
berhenti ketika kematian tiba. Kadang kematian tidak lagi memandang. Ia
laksana batu yang dapat menimpa apa pun di bawahnya. Ia bahkan dapat
menjemput seorang anak kecil yang bakat-bakatnya pun belum lagi nampak.
Tahu kah kalian bahwa anak-anak yang direngut oleh kematian pada
dasarnya merupakan anak-anak yang akan menjadi begitu jenius di usia
yang matang. Aku tak dapat berbuat apa-apa bagi mereka. Aku tak dapat
menyelamatkan mereka dari kematian.
Karena adanya kematian itu, maka
seperti yang kukatakan tadi, revolusi menjadi keniscayaan. Manusia
harus berevolusi agar evolusi kesadaran dimungkinkan. Tanpa itu mereka
tak ada bedanya dengan hewan yang hanya menyerahkan diri pada takdir
belaka.
Manusia mengerti. Ya, mereka mengerti bagaimana harus
menghidupi diri. Namun mereka belum cukup untuk mengenali diri.
Mengenali setiap potensi yang terdapat pada diri mereka. Mereka harus
terus menggalinya dan untuk itulah maka aku ada. Aku adalah keabadian
yang akan selalu membangkitkan kreativitas yang mereka miliki.
Kreativitas yang berasal dari padaNya. Kalian pikir menjadi seperti
apakah secitra dengannya? Ku katakan sekarang, menjadi secitra denganNya
adalah menjadi sekreatif diriNya. Ia begitu kreatif. Lihatlah segala
yang ada di sekeliling dunia. Lihatlah warna hijau. Dapatkah kalian
hitung ada berapa macam warna hijau yang terdapat pada setiap daun?
Lihatlah! Untuk satu warna saja Ia telah menciptakan ribuan variasi apa
lagi terhadap hal-hal lain yang Ia ciptakan. Ia adalah seniman agung dan
aku adalah sahabatNya dan sekaligus pemuja setiap karyaNya.
Tentu
kalian tak akan mengerti mengapa aku begitu memujaNya setelah Ia
mengusirku. Yang dapat kukatakan adalah Ia sahabatku dan aku selalu
merindukan diriNya. Aku tidak pernah memendam apapun terhadapNya dan Ia
pun begitu pula. Aku tahu Ia mengetahui apa yang kukerjakan. Apa yang
aku lakukan hanyalah membantuNya. Terkutuklah mereka yang menganggap aku
penyesat, sumber segala bencana dan penyebab kematian. Aku tidak
inginkan itu semua terjadi pada kalian. Aku ingin kalian mandiri,
bahagia dan abadi. Aku tidak pernah menginginkan kematian kalian. Mereka
berbohong, mereka para penulis kitab itu berbohong. Mereka tak tahu apa
yang sebenarnya terjadi antara aku dan Dia. Mereka hanya mereka-reka
saja dan aku menjadi korbannya.
***** ** ******* *******
Pada
masa lalu, ketika peperangan tiap suku bangsa terjadi di mana-mana, aku
hadir di situ. Aku tahu sahabatku tak menyukainya. Ia terlalu cinta
pada manusia dan aku tahu betapa sedihnya Ia menyaksikan mereka bertikai
dan saling bunuh. Kalian pasti berpikir aku ada di sana untuk menghasut
mereka membunuh. Tidak! Ku katakan aku tidak menghasut mereka. Aku
justru berusaha untuk menghentikan mereka. Ya, menghentikan mereka
karena sahabatku tak menyukai hal tersebut. Ku kira kalian adalah mahluk
paling aneh yang pernah ada. Kalian tidak pernah menyadari kesempurnaan
kalian di banding dengan mahluk-mahluk lain. Dalam setiap pertikaian
dan peperangan kalian selalu berpikir bahwa Ia ada di pihak kalian.
Tahukah kalian bahwa hal tersebut merupakan hal terlucu yang pernah ada.
Kalian meminta pada Dia yang sama? Kalian saling meminta kemenangan dan
yakin bahwa Ia akan memihak kalian. Kukatakan sekarang: Ia tak pernah
berpihak pada hal-hal tersebut. Ia tak pernah mau memenangkan yang satu
dan mengorbankan yang lain. Bagaimana mungkin untuk satu orang atau
kelompok Ia mengorbankan manusia ciptaannya yang lain, yang begitu
dikasihinya?
Pada siapakah sebenarnya mereka berdoa? Kukatakan pada
kalian bahwa mereka tidak berdoa kepada siapa-siapa, apalagi kepada Dia.
Dia tidak pernah mendengarkan doa-doa semacam itu. Dia tahu tapi tak
mau mendengarkan. Yang aku tahu dari semua permohonan-permohonan kalian
untuk mendapatkan kemenangan hanyalah berita sedih bagiNya. Bagaimana
mungkin Ia menolong kalian dan mencelakakan yang lain? Pikirkanlah!
Mereka menuduhku bahwa penyebab segala pertikaian, peperangan dan
pembunuhan adalah aku. Akulah penyebab semua ini. Akulah yang
mengakibatkan manusia memiliki ambisi buta, keinginan untuk saling
mengungguli, keinginan untuk berkuasa dan keinginan untuk memasyurkan
diri. Tidak! Keinginan-keinginan itu adalah milik kalian dan itu adalah
alam kalian. Kuberi tahu satu hal, kalian sebenarnya dapat lepas dari
keinginan kalian tersebut jika kalian mau belajar. Mau belajar menjadi
seperti diriNya. Ia penuh dengan kasih dan mengerti diri. Yang kumaksud
dengan mengerti diri adalah ia begitu tahu apa-yang perlu dan
benar-benar perlu bagi diriNya. Ia tahu sifat-sifatnya dan segala
potensi yang ada bagi diriNya. Jika kalian mampu belajar untuk memahami
diri seperti Dia dan mampu mengembangkan kasih, maka kalian akan hidup
dengan lebih baik. Mengertilah apa-apa saja yang dapat menyulut
pertikaian di antara kalian dengan begitu kalian akan memahami bahwa
pertikaian itu tidak perlu. Pengetahuan yang kuberikan pada kalian
sebenarnya memampukan hal tersebut, namun kalian dibutakan oleh apa yang
kalian sebut jati diri. Kalian saling ingin menegaskan diri
masing-masing.
***** ** ******* *******
Kini kalian akan
bertanya, bagaimana aku hadir di dunia ini? Bagaimana aku berperan pada
kehidupan ini? Aku ada dari tiap generasi ke generasi. Aku menjadi
seperti kalian. Hidup dalam kefanaan. Kalian pikir di mana aku akan
hidup setelah ia mengusirku? Aku di sini bersama-sama dengan kalian. Aku
tidak akan pernah pergi meninggalkan kalian karena aku telah membuka
pintu pengetahuan bagi kalian dan aku bertanggungjawab atas apa yang
telah kuberikan.
Aku hidup dalam tubuh fana namun jiwaku mengembara
di dalam diri kalian. Aku memberi pengertian. Ahh ....... lebih tepatnya
melengkapi pengertian kalian. Ia telah memberikan pengertian dan aku
pun berbuat hal yang sama. Jika kalian mengerti, itulah sebabnya ada
begitu banyak pengertian yang berbeda-beda yang dipahami oleh manusia.
Tidak ada satupun yang tidak baik. Kukatakan sekali lagi bahwa tidak ada
yang tidak baik yang kami berikan pada kalian, hanya saja kalian belum
mau mengerti apa yang kalian benar-benar inginkan sehingga dapat timbul
kekacauan dan pertikaian. Kenalilah dulu diri. Kalian adalah nada-nada
yang otonom dari sebuah orkes. Bunyi-bunyi yang berbeda. Do bukanlah Re
dan Mi bukan Fa. Namun jika kalian tahu kapan harus berbunyi dan dengan
siapa kalian dapat berpadu dengan harmonis, maka kalian dapat hidup
dengan begitu indah. Tidakkah kalian mengerti ungkapan ‘Carilah dulu
kerajaanNya, maka semuanya akan dilimpahkan kepadamu’? kerajaanNya ada
di dalam mu. Jika engkau mengerti siapa kalian dan apa yang benar-benar
baik maka semua hal di luar kalian akan dapat dimengerti.
Aku ada
untuk kerajaanNya. Tak dapat kusangkal bahwa aku ikut berperan di
dalamnya dan seperti janjiku dahulu, aku akan selalu membantuNya untuk
mewujudkan kerajaanNya. Suatu waktu di masa yang lalu, aku sempat
bertemu denganNya. Ia hadir dalam rupa manusia. Pertama-tama aku memang
tidak mengenalinya sampai ketika ia berada di padang gurun. Para penulis
kitab mengatakan bahwa aku mencobai Dia di sana, tetapi yang benar bukan
demikian. Pertemuan di gurun tersebut merupakan sebuah perjumpaan antar
sahabat yang telah lama tak bertemu. Semula aku tidak yakin apakah itu
adalah Dia, sahabat lamaku. Aku harus mengetahuinya dengan lebih jelas
jika Ia benar-benar sahabatku. Ia nampak seperti manusia biasa. Ia
tersenyum, bercanda atau seringkali bergunjing dengan para temanNya.
Namun ada yang lain dari diriNya. Tatap mata yang tak akan pernah kulupa
saat terakhir kali kami saling tatap.
Aku bertanya akankah dia mau
menyerahkan kekhawatiranNya dengan mementingkan diriNya sendiri? Ia
katakan tidak. Ia tidak memerlukan makanan duniawi untuk mengenyangkan
diriNya. Dari situ aku tahu mengenai ketetapan hatiNya yang teguh. Lalu
aku bertanya lagi apakah Ia sanggup menyelamatkan diriNya jika Ia benar
adalah Dia. Ia tersenyum dan berkata bahwa aku tidak perlu meragukan apa
yang benar-benar dapat dilakukanNya.
“Mengapa kau bertanya
seolah-olah kau tidak mengenaliku?” BisikNya. “Apakah kau ragu tentang
Aku? Ini adalah Aku.” Lanjutnya sambil mengores-goreskan kayu yang
dipegangnya pada pasir yang mengeliling diriNya.
“Jika Engkau
benar-benar Dia, apa yang Kau lakukan di sini? Tidakkah Engkau dapat
melihatnya dari sana? Atau....kini Engkau sadar bahwa apa yang dahulu
kulakukan hanyalah ingin membantuMu? Lihatlah kini, mereka sudah banyak
belajar dari kehidupan. Ya..walaupun masih harus belajar lagi, tetapi
mereka telah belajar untuk hidup. Maukah Kau bergabung denganku untuk
mewujudkan apa yang dahulu pernah kulakukan?.”
“Tidak” jawabnya.
“Bukan untuk itu Aku datang. Tidakkah kau lihat bahwa apa yang telah kau
lakukan memakan begitu banyak korban? Kau selalu mengatakan soal diri
otonom, lihatlah. Tidak akan pernah hal demikian menjadikan mereka baik.
Otonomi diri merupakan ilusi dan keangkuhan diri. Mereka saling bunuh
hanya atas nama otonomi diri, otonomi bangsa, otonomi daerah. Otonomi
adalah penegasan diri yang semena-mena. Tidakkah kau mengerti hal itu?
“Tetapi
itu hanya tahap di mana mereka belajar. Itu hanya bagian dari sebuah
proses yang berlangsung. Mereka akan belajar dari situ dan suatu saat
mereka akan mengerti bahwa hal-hal seperti itu sebenarnya tidak perlu.
Bantulah aku untuk mewujudkan hal tersebut jika engkau benar-benar
mampu.”
“Tidak! Jika engkau benar-benar yakin akan apa yang kau
lakukan, lakukanlah. Namun Aku tidak akan bertindak demikian. Aku
memiliki caraKu sendiri untuk membuat mereka mengerti.”
“Apa itu?”
“Cinta kasih yang akan membuat mereka mengerti dan bukan otonomi!” katanya sambil memberikan senyumNya.
Ya itu adalah Dia. Aku yakin bahwa itu adalah diriNya. Cinta kasih
merupakan hal yang penting bagi diriNya dan bagi apa yang berasal dari
diriNya. Setelah sekian lama ia tidak pernah berubah untuk mengasihi.
Untuk mengasihi itulah Ia datang. Tetapi mereka tidak mengerti apa itu
cinta kasih. Ia akhirnya mati dibunuh. Ia mati secara fisik, namun
mereka tidak dapat benar-benar membunuhNya. Ia adalah sang abadi itu
sendiri.
Saat Ia akan kembali ke sana, beberapa hari setelah kematianNya, aku berjumpa lagi denganNya.
“Lihatlah, mereka belum mengerti apa itu cinta kasih.” Kataku kepadaNya.
Mereka
membunuhMu, tetapi ku katakan padaMu bahwa itu hanyalah bagian dari
proses pembelajaran mereka. Mereka akan mengerti nantinya bahwa apa yang
mereka lakukan padamu adalah kesalahan. Ah.., bukan mereka melainkan
anak cucu mereka yang akan mengerti hal tersebut.”
Ia tersenyum, lalu dari balik senyumNya Ia berkata:
“Bukan
untuk itu kawan, kematianKu bukan untuk suatu pembelajaran akan
kebebasan atau otonomi diri. Lewat kematianKu Aku ingin mereka tahu
bahwa dengan cinta kasih Aku rela menanggung apa yang tidak pantas bagi
diriKu. Bahkan kematianpun bukan apa-apa jika ada cinta kasih. Dan Aku
ingin mereka bertindak demikian.”
Tidakkah Ia mengerti bahwa
dengan cinta kasih saja mereka belum mampu menanggung beban? Mereka
tidak paham. Mereka menginginkan makanan duniawi, mereka butuh sesuatu
yang tampak dan nyata untuk menenangkan diri sementara Ia hadir
dengan menawarkan makanan rohani dan janji-janji yang tidak akan
terdapat di dunia ini. Ya, janji-janjinya hanya akan terwujud di
dunianya dan itu pun nanti. Jika semua ini berakhir dan bukan sekarang.
Mereka butuh kekinian dan bukan nanti. Mewujudkan apa yang dia inginkan
terjadi di sini seperti menginginkan sesuatu dari ketiadaan. Apa yang
dapat kita diharapkan dari ketiadaan?
Translate
Tampilkan postingan dengan label philosophy. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label philosophy. Tampilkan semua postingan
Senin, 18 Februari 2013
Selasa, 27 November 2012
“Что,батюшка, чест, кагда нечего есть?” Kepentingan Diri dalam Pergulatan Etika Keutamaan dan Etika Orang Biasa Dalam Kisah Sang Inkuisitor
“Что,батюшка,
чест, кагда нечего есть?”[1]
Kepentingan
Diri dalam Pergulatan Etika Keutamaan dan Etika Orang Biasa
Dalam
Kisah Sang Inkuisitor
Pada bahasan ini akan diperlihatkan
masalah-masalah yang terkait dalam pemikiran utilitaisme. Untuk itu kasus yang
akan dianalisa pada bahasan ini adalah kasus yang terdapat di dalam kisah Sang
Inkuisitor yang ditulis oleh F. M. Dostoevsky
(1821 – 1881). Sang Inkuisitor sendiri terdapat di dalam novel terakhir
Dostoevsky Karamazov Bersaudara, yang ditulis tahun 1878-1880. Di dalam kisah
tersebut dapat dilihat bagaimana paradigma etis utilitaris yang menekankan
manfaat suatu tindakan (diwakili oleh Kardinal) berhadapan dengan etika
keutamaan (diwakili oleh Kristus). Atas nama orang-orang yang lemah, yang tidak
dapat mengikuti etika keutamaan, sang Kardinal lantas menolak Kristus.
Kedatangan Kristus ke dunia untuk kedua kalinya, bagi Kardinal, hanyalah
mengacaukan stabilitas yang selama ini telah tercapai.
Pembahasan makalah
ini akan mencoba menjawab tiga petanyaan berikut: (1) Mengapa Kardinal
beranggapan bahwa ajaran Kristus gagal? (2)Apakah yang menjadi dasar dari
argumen Kardinal tersebut? (3) Bagaimana Tanggapan Dostoevsky sendiri terhadap
tokoh Kardinal? Guna menjawab tiga pertanyaan tersebut maka alur makalah ini
adalah sebagai berikut: Pendahuluan yang akan memperlihatkan tokoh Kardinal
dalam kisah Sang Inkuisitor. Dilanjutkan dengan argumen-argumen Kardinal untuk
melihat mengapa ia menolak Kristus. Setelah itu akan dianalisa kisah
Sang Inkuisitor dalam perspektif utilitaris. Sebagai pembanding akan dihadirkan
pandangan Dostoevsky mengenai kisah Sang inkuisitor. Sebagai akhir akan
disertakan penutup yang berisi kesimpulan dan refleksi.
Kisah
Sang Inkuisitor dan Kardinal
Dalam kisah Sang Inkuisitor diceritakan mengenai
kedatangan Yesus yang kedua kali di Seville, Spanyol pada masa inkuisisi.
Kedatangan Yesus dianggap oleh Gereja, yang diwakili oleh Kardinal,
membahayakan stabilitas yang selama ini telah tercapai di dalam keimanan umat
secara umum. Oleh karena itulah Kardinal menangkap Yesus dan menjebloskannya ke
dalam penjara. Di dalam penjara terjadilah dialog (lebih tepatnya monolog
karena Yesus hanya diam saja; satu-satunya respon Yesus saat itu adalah ciuman
pada Kardinal ketika ia dilepaskan dari penjara.). Di dalam dialog itu dapat
dilihat mengenai pemikiran-pemikiran mengenai apa yang patut dan apa yang
tidak. Singkatnya adalah apa yang diajarkan Kristus itu terlalu tinggi dan tak
dapat dimengerti dan diikuti oleh orang kebanyakan. Yesus mewartakan
keutamaan-keutamaan sementara apa yang dibutuhkan hanyalah makanan duniawi
semata. Sang Kardinal mengatakan kepada Kristus demikian: “…Kau
begitu bangga akan mereka yang terpilih, namun Kau hanya memiliki mereka, yang
jumlahnya sedikit, sementara kami mampu memberi kedamaian pada seluruh umat
manusia.” (BK: R.
320/ E. 311)
Argumen-Argumen Kardinal
Sebagaimana disebutkan diatas, pandangan Kardinal ini
bertumpu pada bagaimana menyelamatkan (membahagiakan) lebih banyak orang.
Ajaran Kristus yang begitu sulit dianggap tidak memberikan jawaban kepada
problem kemanusiaan yang dihadapi orang banyak di dalam hidup sehari-hari.
Berikut Argumen-argumen penolakan Kardinal atas Yesus.
Argumen
untuk Menolak Kristus
Atas nama penderitaan manusia, Kristus tidak diijinkannya
kembali ke dunia ini untuk mengacau stabilitas yang telah dicapai oleh gereja.
Mengapa gereja, yang direpresentasikan oleh Kardinal, menolak Kristus? Bukankah
Kristus dipercaya sebagai kepala gereja? Kardinal memiliki dua alasan utama untuk
menolak Kristus datang di dunia. Pertama,
karena gereja telah menggantikan Kristus dalam misi melepaskan penderitaan
manusia. Kedua, gereja telah
mengoreksi kesalahan-kesalahan Kristus di masa lalu, dan untuk itu Ia tidak
perlu lagi mengacaukan kestabilan yang telah tercipta.
Kardinal
menganggap kedatangan Kristus sebagai penambah beban kehidupan manusia.
Mengapa? Karena Kristus datang dan memberikan kebebasan yang lebih besar bagi
manusia. Menurut Kardinal manusia itu lemah, bermental kawanan, dan takut
menanggung kebebasan. Ia mengatakan bahwa
”manusia itu tidak dapat hidup
dengan kebebasannya karena manusia itu lemah, busuk, tidak layak, dan
pemberontak.” (BK: 305.) Bagi Kardinal Kristus mungkin lupa atau tidak memahami atau tidak mau
tahu kondisi manusia.
Manusia
adalah pembangkang sejati, dan karena itulah manusia menderita. Kebebasan hadir
sebagai anugerah terbesar kehidupan menjadi sekaligus kutukan. Manusia takut
akan kebebasannya. Ia ingin sesuatu yang tetap, konstan, dan tidak lagi mau
berhadapan dengan pilihan-pilihan sebagaimana yang ditawarkan dalam kebebasan.
Ia membutuhkan pemimpin yang dapat membimbingnya melalui kehidupan yang penuh
derita. Oleh karena itulah, maka manusia menyerahkan diri pada institusi
tertentu yang dapat mengatur kehidupan mereka dan menjadi tempat bagi mereka
untuk meletakkan kebebasannya tepat di atas altar yang dijaga oleh para pemuka
agama. Dalam kisah ini, institusi itu bernama Gereja.
Kisah Pencobaan dalam Injil sebagai Referensi Kegagalan
Kristus
Penolakan Kardinal
atas kedatangan Kristus didasari oleh suatu kisah yang terdapat di dalam injil.
Dalam kisah tersebut dikisahkan bagaimana Iblis datang “mencobai” Kristus yang
saat itu sedang berpuasa selama empat puluh hari empat puluh malam. Pada
peristiwa itu iblis mengajukan tiga pertanyaan yang sangat penting dan
merepresentasikan keadaan kehidupan
manusia. Pencobaan-pencobaan yang diajukan oleh Iblis
tersebut di dalam injil adalah pertama
“jika Engkau Anak Tuhan, ubahlah batu ini menjadi roti”. Kedua, Jika Engkau Anak Allah loncatlah dari menara ini karena
malaikat-malaikat Tuhan tidak akan
membiarkanmu mati. Pencobaan ketiga
adalah “Sembahlah aku (iblis), maka seluruh kerajan dunia akan menjadi milikmu.”
Dalam tiga pencobaan tersebut termuat tiga masalah yang
diangkat Kardinal dalam kehidupan manusia, yaitu: masalah pangan, masalah suara
hati, dan masalah kesatuan umat manusia.
Masalah Pangan
Salah satu masalah utama dalam kehidupan manusia adalah
masalah pangan. Sejak dari dahulu, jika mengacu pada mitos penciptaan dalam
Perjanjian Lama, manusia dihukum harus memenuhi kebutuhan pangannya dengan
bekerja. Memang manusia tidak hidup untuk makan, tetapi makan untuk hidup. Namun
makanan toh harus dicari atau
diusahakan. Semua pekerjaan yang dilakukan oleh setiap orang bertujuan untuk
memenuhi kebutuhan pangannya, disamping kebutuhan akan tempat tinggal dan
pakaian tentunya. Orang bahkan dapat bertindak jahat karena kebutuhan pangannya
tidak terpenuhi. Telah banyak contoh-contoh di mana orang mencuri, berbohong, mengemis,
bahkan membunuh sesamanya untuk dapat makan.
Kardinal
yang adalah Sang Inkuisitor kiranya menyadari hal tersebut. Ia memberikan
kebutuhan pangan bagi orang-orang yang lapar merupakan hal yang sangat penting
untuk dapat memperoleh hati mereka. Ia sadar bahwa seorang pemimpin tidak dapat
mengabaikan kebutuhan dasar orang-orang yang dipimpinnya. Kristus di sini tidak
dapat menyediakan kebutuhan pangan bagi orang-orang yang lapar. Ia hanya
menjanjikan makanan surgawi, sementara yang dibutuhkan secara kongkret adalah
makanan duniawi yang dapat mengenyangkan perut mereka. Kardinal mengatakan bahwa karena telah
mengabaikan kebutuhan pangan duniawi itulah maka manusia bangkit melawanNya.
Kau
telah janjikan mereka makanan surgawi, tetapi kuulangi lagi, bagaimana makanan
itu dapat bersaing dengan makanan duniawi di hadapan orang-orang lemah, berdosa
dan tak bermartabat? Bahkan jika ada seratus atau seribu yang mampu untuk
mengikutiMu dan menerima makanan surgawi, bagaimana dengan jutaan manusia lain
yang begitu lemah untuk mengabaikan makanan duniawi mereka? (BK: 305)
...
Dengan makanan, Kau dapat menawarkan sesuatu yang akan membuat mereka patuh
padaMu dengan segenap kesetiaan: Kau memberi makan dan manusia akan
membungkukkan badannya untukMu. Karena tidak ada yang lebih penting bagi mereka
selain makanan.
.... (BK: 306)
Kesalahan pertama Kristus pada masalah pangan ini
adalah Ia menolak atau mengabaikan kebutuhan pangan manusia, Ia telah menolak
mengubah batu menjadi makanan (roti). Di sini, Ia tak mampu memberikan bukti
empiris bahwa Ia mampu mengubahnya. Argumen Kristus yang mengatakan bahwa
manusia tidak hidup dari roti saja membuat Ia sulit dipahami dan tak dapat
diikuti. Kristus justru dapat
dianggap telah “melecehkan” kemanusiaan dengan
menolak memberi makanan duniawi bagi manusia.
Masalah Suara Hati
Pada
pencobaan kedua ini iblis mengajak Kristus untuk membuktikan keilahianNya.
Namun Kristus sekali lagi menolak untuk
melakukan pembuktian tersebut. Penolakan ini, menurut Kardinal, berdampak pada
ketidakpercayaan manusia pada keilahian Kristus. Bagaimana manusia dapat yakin
jika Ia adalah anak Allah jika Ia tidak dapat memberikan pembuktian kongkret
atas keilahianNya? Manusia mengikuti sesuatu berdasarkan bukti. Tanpa bukti
tersebut, dapat dipastikan bahwa suatu kepercayaan akan gagal. Kardinal
mengatakan:
“Kau
mengacuhkannya, menolak sarannya, melawan cobaan dan tidak terjun dari menara.
Oh, tentu saja tindakanMu membanggakan dan mulia; bahkan kau bertindak seperti
Tuhan, tetapi dapatkah Kau mengharapkan hal yang sama terjadi pada manusia,
dengan kelemahan yang mereka miliki, tak disiplin, dan keturunan terkutuk, yang
bukan Tuhan? (BK: 307 – 8))
Kesalahan Kristus yang kedua ini
membuktikan bahwa dirinya tidak memiliki bukti konkret yang dapat membuat orang
akan percaya bahwa ia adalah anak Allah. Kardinal mengatakan bahwa manusia
membutuhkan pembuktian akan ke-Allah-an Kristus. Kesalahan Kristus ini, menurut Kardinal,
telah membiarkan manusia untuk memilih apa yang ingin dipercayainya. Ia
mengandaikan bahwa setiap manusia dapat memiliki suara hati sepertiNya. Namun,
manusia lebih lemah dari yang Ia bayangkan, dan membiarkan mereka memilih
dengan suara hatinya adalah keterlaluan karena mereka tidak memiliki kesadaran
layaknya Kristus sendiri. Bukti tentang keilahianNya untuk tidak dapat mati
juga tidak dipenuhi oleh-Nya dan dengan demikian manusia tidak dapat meyakinkan
dirinya untuk mempercayai keilahian Kristus.
Masalah Kesatuan Umat Manusia.
Pada pencobaan ketiga, Kristus
menolak kerajaan dunia yang ditawarkan oleh iblis. Kerajaan dunia ini, menurut
Kardinal, merupakan satu-satunya cara untuk mengembalakan manusia. Bagaimana
Kristus dapat menggembalakan manusia jika Ia menolak satu-satunya cara untuk
mengorgansir manusia? Untuk membumikan suatu ajaran bagi manusia adalah dengan
menerima kerajaan dunia (yang tentunya ada di bumi) lebih dahulu. Jika menolak
dunia, bagaimana mau mendunia? Gereja yang dijunjung oleh Kardinal telah
mengambil kesempatan yang ditawarkan iblis untuk menjadi raja dunia. Kardinal mengatakan:
“...
sejak delapan abad yang lalu. Tepatnya delapan abad ketika kami menerima apa
yang telah Kau tolak dengan kemarahan, pemberian terakhir yang ia tawarkan
padaMu – semua kerajaan di muka bumi. Kami menerima Roma dan pedang kekaisaran
darinya, dan kami memaklumatkan
diri sebagai satu-satunya hukum di dunia,… Kau seharusnya menerima pedang
kaisar ketika ia menawarkannya padaMu. Mengapa Kau menolak tawaran terakhirnya?
Jika Engkau menerima tawaran ketiga yang diberikan oleh roh itu, kau akan dapat
memenuhi kebutuhan paling mendasar dari umat manusia yaitu: kebutuhan untuk
memiliki seorang yang dapat dipuja, seorang yang mampu untuk membebaskan mereka
dari beban hati nurani yang mereka miliki dan akhirnya yang mampu menyatukan
mereka dalam suatu harmoni di mana tak ada lagi suara-suara yang tak senada,
karena haus yang tak dapat terpuaskan untuk kesatuan universal merupakan
tawaran ketiga dan cobaan terakhir bagi manusia. Manusia selalu berusaha untuk
mengorganisasikan diri menuju kesatuan universal...”
(BK: 310)
Kesalahan ketiga Kristus adalah menolak kerajaan
dunia. Jika Ia mau menerima tawaran untuk memimpin pemerintahan dunia, maka Ia
akan dapat menciptakan perdamaian dunia. Jika Kristus menerima untuk memimpin
dunia, maka ajaran-Nya dapat diberlakukan secara universal. Namun, karena ia
menolak menjadi pemimpin, maka kesempatan-Nya untuk menjadikan dunia yang damai
dan penuh cinta kasih menjadi mustahil.
Gereja telah mengambil apa yang pernah ditawarkan iblis pada Kristus. Ia
menerima kekuasaan untuk menguasai dunia, dan karenanya gereja berhasil
mengorganisir manusia-manusia pembangkang yang lemah secara eksistensial.
Gereja
Menyelamatkan Lebih Banyak Dari Pada Kristus
Menurut
Kardinal, Kristus tidak sepenuhnya gagal dalam misinya. Terdapat orang-orang,
yang dengan kebebasannya, berhasil memahami ajaran Kristus dan memilih untuk
mengikutiNya. Tetapi berapakah jumlah mereka? Jumlah yang sangat sedikit
diabandingkan dengan mereka yang gagal, karena kelemahannya tidak mengerti apa
yang ditawarkan oleh Kristus. Mereka yang tidak memahami apa yang ditawarkan
Kristus kemudian ditampung oleh gereja. Melalui gereja mereka mempunyai
“pegangan” untuk dapat melalui hidup. Kardinal mengatakan:
”Ingatlah,
bahwa jumlah mereka hanya sedikit dan mereka lebih merupakan dewa dari pada
manusia. Lantas bagaimana dengan sisanya? Mengapa yang lain, mereka yang lemah,
menderita karena mereka tidak dapat bertahan seperti mereka yang kuat dapat
melalui rintangan tersebut? ... Benarkah bahwa Kau datang hanya untuk memilih
sedikit orang dari mereka semua? .... Katakan padaku, salahkah kami
memberitakan dan bertindak seperti yang telah kami lakukan? Tidakkah itu
merupakan cinta kami pada umat manusia yang membuat kami dapat menerima ide
dari ketidakmampuan mereka, bahkan memaklumkan kelemahan mereka untuk berdosa? (BK: 309)
Dari pernyataan-pernyataan di atas, jelaslah bahwa cinta
kasih Kristus, bagi Kardinal, tidak dapat menjangkau semua manusia. Ajarannya
hanya dimengerti dan diikuti oleh orang-orang yang jumlahnya sangat sedikit
dibanding dengan seluruh manusia dunia ini. Lebih jauh, bagaimana Ia dapat
memenangkan jiwa-jiwa mereka yang tidak mengerti maksud dari ucapan dan
tindakkanNya? PenyelamatanNya menjadi absurd. Menurut Kardinal, mereka yang
mampu mengikuti Kristus adalah pribadi-pribadi yang egoistik karena mengabaikan
mereka yang lemah. Kardinal mengatakan bahwa “… mereka yang bersama-sama denganMu hanya akan menyelamatkan diri sendiri
sementara kami akan menyelamatkan seluruh umat manusia.” (BK: 313)
Kisah
Sang Inkuisitor dalam Perspektif Utilitaris
Argumen-argumen kardinal dalam kisah Sang Inkuisitor
dapat ditelaah melalui kacamata aliran utilitaris. Mengapa? Pertama, dari sisi historis, Dostoevsky
memang menyerang pandangan kaum utilitaris yang saat itu berkembang di Rusia
lewat pemikiran-pemikiran sosialisme. Chernyshevsky seorang utilitaris, yang
juga masyur sebagai seorang revolusioner abad 19, merupakan titik serangan
argumen-argumen Dostoevsky. Chernyshevsky sendiri dipengaruhi oleh
pandangan-pandangan J. S. Mill, bahkan ia menerjemahkan karya-karya Mill dan
juga ulasan tentangnya.[2] Kedua, Argumen-argumen Sang Inkuisitor
mengenai penyelamatan bagi lebih banyak orang itu begitu lekat dengan diktum
utilitaris sendiri yaitu kebahagiaan terbesar untuk jumlah yang paling besar.
Dengan demikian, kita dapat melihat relasi setiap ungkapan Sang Inkuisitor
dengan pandangan aliran utilitaris.
Karena
kedekatan Mill dengan sejarah pemikiran Rusia, maka saya akan mengambil
argumen-argumen yang berasal dari dirinya untuk menganalisa Sang Inkuisitor. Secara
garis besar, pemikiran Mill menekankan pentingnya manfaat dari suatu tindakkan.
Dengan kata lain, tujuan memperoleh status yang sangat penting dari tindakan
manusia. Apakah tujuan dari manusia itu sendiri? Dalam konsepsi utilitarian,
tujuan manusia adalah memperoleh kenikmatan. Mill mengatakan:
“Credo yang diterima sebagai dasar
moral utiliti, atau kebahagiaan terbesar untuk jumlah yang paling besar, adalah
tindakan itu benar jika ia mengusahakan kebahagiaan. Tindakan adalah salah jika
ia membawa dampak sebaliknya dari kebahagiaan tersebut. Kebahagiaan yang
dimaksud di sini adalah kenikmatan (pleasure); dan juga ketiadaan rasa sakit
(pain).[3]
Dari
pernyataan di atas dapat dilihat bagaimana tindakan itu baik atau buruk tergantung
pada apakah tindakan itu mendatangkan kebahagiaan/kenikmatan atau sebaliknya.
Setiap manusia, dapat dipastikan, menginginkan kebahagiaan. Namun demikian
bagaimana kita dapat tahu bahwa apa yang membahagiakan bagi kita juga merupakan
hal yang membahagiakan orang lain? Bukankah dapat terjadi hal yang
membahagiakan bagi kita justru mencedrai orang lain? Di sini Mill membagi dua
jenis kepentingan dalam diri manusia, yaitu: kepentingan yang mementingkan diri
(selfish interest) dan kepentingan
yang tak mementingkan diri (unselfish
interst). Yang pertama bertindak dengan berorientasi ke masa lalu,
sementara yang kedua selalu memperhitungkan dampak yang akan terjadi di masa
depan.[4]
Tentu saja kepentingan diri yang baik adalah yang memperhitungkan segala dampak
yang dapat terjadi di masa depan. Kepentingan diri bagi tiap orang ini
berbeda-beda. Namun demikian, secara umum konsepsi kepentingan diri menurut
Mill adalah cara memproteksi diri manusia, di mana di dalam melakukan hal
tersebut ia harus memperhitungkan dampak-dampak yang mungkin terjadi dan sebisa
mungkin untuk tidak mencederai orang lain.[5]
Dalam
kisah Sang Inkuisitor, dapat dilihat bagaimana sang Kardinal memiliki
pertimbangan tertentu untuk “menyelamatkan” umat manusia dalam hidup yang
menyedihkan. Mereka tidak dapat masuk ke dalam arus “orang-orang utama” yang
dapat memahami dan melakukan apa yang diajarkan oleh Kristus. Dikatakan pada
awal tulisan ini mereka adalah orang-orang yang lemah sehingga tidak sanggup
menjadi “orang-orang utama”. Atas dasar kecintaan pada umat manusia, Kardinal
beserta Gereja lantas “menggembalakan” mereka, kaum manusia biasa itu. (lih.
kutipan BK: 309) Banyak orang menjadi bahagia (dan mungkin juga memiliki
pengharapan), meski mereka adalah orang-orang lemah. Dari kacamata utilitaris
pandangan Kardinal dengan Gereja itu adalah baik adanya. Mereka “menyelamatkan”
umat manusia lebih banyak dari pada Kristus.
Gereja
pun telah mengambil alih tugas Kristus sebagai pemimpin umat manusia. Mengapa
bisa begitu? Pertama, ajaran Kristus itu
tidak bisa diikuti. Kedua, manusia
harus memiliki panduan untuk dapat diacu. Sebab manusia itu pada dasarnya takut
akan kebebasan. Kebebasan membuat ia melayang dan tidak memiliki pijakan. Dalam
pandangan Mill:
“...
tinggal di dalam masyarakat membuat tak terhidari bahwa setiap orang
harus melihat ke arah panduan. Panduan yang pertama adalah tidak merugikan
kepentingan orang lain; kedua adalah setiap orang saling berbagi kerja dan
mengorbankan apa yang ia dapat untuk kelangsungan masyarakat atau pun anggota-anggotanya
dari ketidakadilan dan penganiyayaan.”[6]
Panduan
seperti yang dimaksud di dalam kutipan di atas, dalam kisah Sang Inkuisitor,
disediakan oleh Gereja. Gereja adalah otoritas tertinggi dalam memberikan
panduan hidup manusia-manusia lemah itu. Selain itu, tidak seperti gagasan
Hobbes yang mengharuskan manusia menyerahkan kedaulatan personalnya, dalam
kisah Sang Inkuisitor manusia-manusia itu sendiri yang rela memberikan
kedaulatannya tanpa paksaan kepada Gereja. Di sini teori kontrak tidak berlaku.
Dengan demikian, ini sesuai dengan apa yang digagas oleh Mill bahwa “...
masyarakat tidak didirikan berdasarkan kontrak,...”[7]
Dari apa yang tertuang di dalam
di dalam kisah Sang Inkuisitor, terlihat bahwa apa yang dilakukan oleh Kardinal
dan Gereja lebih baik dari apa yang dilakukan oleh Kristus. Tetapi, apakah
benar bahwa apa yang dilakukan Kristus hanya akan menyelamatkan sedikit orang
saja, dan apakah yang sedikit itu adalah mereka yang egois karena tidak
berdampak pada orang lain sebagaimana Kardinal melihatnya? Saya akan
melanjutkan pembahasan ini dengan mengangkat gagasan Dostoevsky sang penulis
kisah itu.
Sang
Inkuisitor dan Dostoevsky
Sang
Inkuisitor bersama dengan Gerejanya merupakan perwujudan tanggung jawab manusia
setelah Tuhan tidak lagi berfungsi untuk menjawab problem kemanusiaan. Penolakan Kristus oleh Kardinal
dapat dilihat sebagai penolakan terhadap campur tangan Ilahi di dalam kehidupan
manusia. Tuhan telah gagal menyelamatkan umat manusia dari penderitaan. Oleh
karena itu Ia tidak perlu datang lagi untuk mengulangi kesalahan yang sama
untuk kedua kalinya. Gereja telah mengambil alih dan mengoreksi apa yang dahulu
gagal dilakukan oleh Kristus.
Apa yang menjadi
argumen Sang Inkuisitor tidak dapat diidentikan dengan pandangan Dostoevsky
mengenai problem yang tengah kita bahas ini. Kardinal bukanlah Dostoevsky,
meskipun ia adalah figur yang diciptakan di dalam novelnya, Karamazov
Bersaudara. Dostoevsky justru memiliki pandangan yang berbeda dari kedua tokoh
tersebut. Berikut adalah Pandangan
Dostoevsky
Penderitaan merupakan pembebas
Yang
menarik dari pandangan Dostoevsky adalah ia menempatkan penderitaan sebagai
jalan bagi penemuan eksistensi diri. Melalui penderitaan manusia langsung
berhadapan dengan beragam pilihan eksistensial untuk dirinya. Pilihan (vybor) dengan
pertimbangan kesadaran suara hati ( soznanie)
kemudian yang menentukan eksistensi manusia. Melalui
tindakkan memilih kebebasan hadir sebagai perwujudan eksistensi. Kristus
memberikan kebebasan bagi Suara hati manusia untuk mengikutinya tau tidak.
Meski bagi Kardinal ini merupakan kesalahan, bagi Dostoevsky hal ini tidak
dapat disalahkan. Kristus mengajarkan untuk mencintai seluruh umat manusia dan
ini berarti kebebasan pilihan dalam bertindak tidak boleh bersifat tertutup, atau egoistis (svoevolie).
Kesadaran memilih harus dilakukan atas dasar cinta kasih dan rasa
sepenanggungan atas penderitaan yang dialami oleh manusia. Dengan demikian,
bereksistensi adalah bergumul bersama
mengatasi penderitaan.
Jika demikian, bukankah sama
dengan Sang Inkuisitor yang
memiliki empati kepada manusia yang menderita, dan
berusaha untuk mengatasi penderitaan tersebut? Memang benar, bahwa Sang
Inkuisitor berempati dan merasa terpanggil untuk mengatasi penderitaan manusia.
Namun, bagi Dostoevsky, cara Kardinal untuk mengatasi penderitan manusia tidak akan pernah
membebaskan manusia dari penderitaan. Mengapa? Karena apa yang mereka lakukan
justru membuat manusia menjadi tidak sadar akan adanya pilihan-pilihan di dalam
hidupnya.
Apa
yang dilakukan oleh Kardinal dilihat Dostoevsky sebagai sebuah deifikasi terhadap manusia. Deifikasi sendiri
sebenarnya berasal dari kata apotheoō (ἀποθεόω) yang berarti menjadi ilahi. Secara teologis apotheoō
atau deifikasi dapat dipahami sebagai peninggian level manusia menjadi serupa
dengan yang ilahi. Deifikasi dipahami sebagai manusia menjadi tuhan dan berhak
menentukan apa saja yang dianggap layak dilakukan oleh dirinya. Bagi
Dostoevsky, yang harus
dilakukan bukanlah dengan deifikasi melainkan dengan kenosis (κένωσις
= pengosongan diri)
penderitaan dapat diatasi. Kisah tentang kenosis terdapat di dalam Surat Rasul Paulus kepada
jemaat di Filipi 2:7, yang mengatakan “Kristus
telah mengosongkan diriNya sendiri dan mengambil rupa seorang hamba, dan
menjadi sama dengan manusia”.
Dostoevsky percaya bahwa jika seseorang melakukan
pengosongan diri, seperti yang dilakukan Kristus bagi manusia, ia tidak lagi
menganggap diri lebih tinggi atau lebih sadar dari manusia-manusia lain.
Pandangan Dostoevsky ini direpresentasikan melalui ajaran tokoh Pastor Zosima,
ia mengatakan: “Cintailah sesamamu, cintailah umat
Tuhan,... Kita tidak lebih suci dari mereka.” (BK: 196) Dengan tindakan pengosongan diri, seluruh umat manusia
adalah sama dan sederajat. Tidak ada yang lebih tinggi, tidak ada yang lebih
sadar, dan tidak ada yang perlu untuk mengembalakan orang-orang yang dianggap
lemah. Dengan demikian, Dostoevsky menggagas perlunya kenosis sebagai jalan
untuk mengatasi penderitaan manusia.
Bukan Dalam Institusi
Melainkan Dengan Cinta Kasih
Cintakasih merupakan jawaban Dostoevsky untuk
masalah penderitaan manusia.[8] Dengan cinta kasih manusia akan benar-benar menjadi
tujuan bagi tindakan seseorang karena dengan cinta kasih manusia akan
dimampukan untuk bersikap adil terhadap sesamanya.[9]
Dengan demikian tidak ada lagi penindasan dan ketidakadilan yang menjadi
penyebab penderitaan manusia.
Ia mengatakan bahwa dengan cintakasih “manusia akan menjadi suci dan [lebih]
saling mencintai satu sama lain, tidak akan ada yang menjadi kaya atau miskin,
tidak ada yang kuat atau lemah, semua akan menjadi anak-anak Allah”.[10] Pandangan
Dostoevsky tentang cinta kasih ini adalah cinta yang aktif (delatel’naya lyobov).
Bagaimanakah
cinta kasih Kristus digambarkan dalam kisah Sang Inkuisitor? Bukankah Kristus
hanya diam saja? Memang, ketika Kardinal memenjarakan dan mengancam akan
membakarNya, Kristus hanya diam. Ia tidak menggugat balik sang Inkuisitor yang
menolak kedatanganNya, menolak mujizat-mujizat yang dilakukanNya, dan
merendahkan kuasaNya. Kristus diam dan hanya tersenyum. Satu-satunya respon Kristus terhadap Sang Inkuisitor
adalah ciuman yang membara dihati pemimpin gereja tersebut. Apakah
Kristus tidak mampu menunjukan kuasaNya pada Sang Inkuisitor? Mengapa Ia tidak
menjawab argumen-argumen yang menentangNya? Apa maksud dari ciumanNya? Ke-diam-an, senyum, dan ciuman
tersebut kiranya mengatakan: Penalarannmu memang tajam, tetapi cintaku lebih
kuat.
Penutup
Dalam kaitannya
dengan kepentingan diri, apakah yang dapat kita petik dari kisah Sang Inkuisitor
ini? Pertama, penderitaan manusia
haruslah diatasi. Orang lain menjadi paradigma yang menentukan suatu tindakan
yang akan diambil. kedua, kita dapat
melihat paradigma kepentingan diri yang dipakai, baik itu Kardinal maupun
Kristus dan Dostoevsky adalah altruisme.
Pemikiran
utilitarian memang memiliki rujukan pada orang lain, dengan kata lain adalah
altruis. Dari kisah Sang Inkuisitor terkuak bagaimana konsep altruisme
utilitaris antara Kardinal dengan Kristus; sesuatu yang dapat diterapkan
(gagasan Kardinal) berhadapan dengan keutamaan (Kristus). Dari sisi kongkret
dapat dilihat bahwa apa yang dilakukan Kardinal itu baik karena memang
bermanfaat bagi banyak orang. Namun gagasan Dostoevsky mengenai Kristus sendiri
kiranya tidak dapat dianggap remeh. Ajaran mengenai cinta kasih kiranya dapat
menjadi dasar bagi utilitarianisme sendiri. Ajaran Kristus tidak serta merta
hanyalah ajaran utama yang hanya dapat menyelamatkan sedikit orang saja. Justru
sebaliknya, ”orang-orang utama” memiliki tugas untuk memberikan pencerahan pada banyak orang. Jadi tidk seperti Kardinal
yang memimpin orang-orang lain yang lemah, orang-orang utama dalam pandangan
Dostoevsky dan juga Kristus justru menjadi pelayan bagi orang-orang yang lemah.
* Catatan kaki dan daftar pustaka tidak diberikan untuk meminimalisir hal-hal yang tidak berkenan dikemudian hari. Bagi yang berminat membaca versi lengkap silakan menghubungi penulis.
Sabtu, 21 April 2012
OPTIMISME SEJARAH MANUSIA PENCERAHAN “ Kritik Herder terhadap Filsafat Sejarah Kant”
Zaman Pencerahan merupakan
zaman yang optimistik dengan kemajuan sains dan rasionalitasnya.
Kemajuan-kemajuan tersebut membawa keyakinan bahwa manusia bisa dan pada
akhirnya akan menuju ke arah kemajuan yang paripurna. Pandangan yang optimistik
tersebut kiranya berdampak pada konsepsi sejarah manusia pada zaman itu.
Makalah ini akan mempresentasikan filsafat sejarah yang ada ada pemikiran Kant
dan tanggapan Herder terhadapnya. Karena itu pembahasan akan dimulai dengan
konsep diri. Ini penting karena otonomi diri di zaman Pencerahan begitu
diagung-agungkan. Pembahasan ini akan memberikan gambaran singkat tentang diri sebelum
melihat mengenai kesejarahan manusia. Pembahasan kemudian akan melihat hubungan
filsafat sejarah dan diri, di mana keduanya sebenarnya merupakan hal yang
spekulatif adanya. lalu akan dibahas singkat filsafat sejarah Kant dengan
dilanjutkan tanggapan dari Herder. makalah ini akan ditutup dengan kesimpulan
dan tanggapan kristis.
Diri
Sebagai Acuan
Zaman Pencerahan tidak
dapat dilepaskan dari keterpesonaan terhadap manusia yang terjadi sejak zaman
Renaisans sekitar abad 16. Melalui kelahiran kembali (Renaissance) ini orang
mulai memandang diri sebagai sesuatu yang unik. Mereka melihat diri dan tubuh
mereka dengan tidak asing seperti sebelumnya, melainkan dengan rasa takjub.
Takjub terhadap dirinya sebagai manusia. Rasa keterpesonaan itu nantinya
membawa manusia pada subjektivitasnya. Ia menjadi pusat dan penentu bagi apa
yang ada di dunianya.
Sejak itu pula rasionalitas
manusia menjadi penting. Dengan rasio manusia mulai menalar kehidupannya dan
bersikap kritis terhadap tradisi-tradisi yang selama ini mengungkungnya. Secara
sederhana dapat dikatakan bahwa zaman modern memiliki tiga jiwa di dalamnya,
yakni: pertama, kesadaran diri sebagai subjek; kedua, sikap
kritis terhadap prasangka-prasangka dari tradisi/percaya
kepada otoritas sains; dan ketiga, progresivitas. Ketiga
jiwa modernitas di atas tidak dapat dipisahkan satu dengan yang lainnya. Mereka
eksis secara utuh bersama-sama.
Kesadaran diri sebagai subjek yang otonom merupakan tujuan manusia. Dengan
sadar akan diri sebagai subjek otonom, maka dewasalah ia.[1]
Di sini konsepsi mengenai
diri sebagai subjek yang otonom menjadi penting adanya. Namun demikian, diri yang
dimaksud bukanlah diri dalam pengertian biasa, melainkan diri yang transenden;
yang melampaui kedirian personal. Schroeder mengatakan:
“Diri yang dipertanyakan
(di zaman modern – HS) bukanlah diri yang biasa, bukan individu secara
personal... Diri yang menjadi primadona (star performer) pada filsafat modern
Eropa adalah diri transendental atau ego transendental... Diri transenden itu
adalah diri yang tak lekang waktu, universal, dan berada di dalam setiap
manusia sepanjang sejarah.”[2]
lebih
lanjut, dalam filsafat Kant dapat ditemukan bahwa
“Diri tidak hanya menjadi fokus perhatian,
melainkan keseluruhan materi – subjek dari filsafat. Diri tidak hanya sebuah
entitas tertentu di dunia, melainkan
sesuatu yang menciptakan dunia. Memikirkan diri tidak hanya mengetahui
diri, melainkan mengetahui diri-diri yang lain, juga mengetahui struktur dari
tiap diri ada dan setiap diri yang mungkin.”[3]
Dari
pernyataan Schroeder tersebut dapat dilihat bagaimana keuniversalan itu penting
adanya di dalam zaman Pencerahan. Suatu konsepsi itu harus dapat benar dan
berlaku menyeluruh. Tidak terbatasi oleh tempat atau waktu.
Filsafat Sejarah dan Diri
Apakah
hubungan antara filsafat sejarah dan diri? Di atas telah disebutkan bahwa diri
dalam konsepsi Pencerahan adalah diri yang transenden, yang universal. Filsafat
sejarah berbicara tentang sesuatu yang transenden, ia adalah kebeluman. Apa
yang dibicarakan di dalam filsafat sejarah bukanlah sejarah dalam artian biasa,
yang telah lewat di belakang, melainkan adalah apa yang dapat ada di dalam
historisitas manusia itu sendiri. Namun demikian, ada baiknya jika jelas dahulu
pengertian sejarah dan filsafat sejarah sebelum kita melihat lebih jauh
keterkaitan filsafat sejarah dengan diri.
Sejarah
dan Pendekatan Terhadapnya
Kelahiran manusia adalah
keterlemparannya ke dalam sejarah. Ia terlempar ke dalam sejarah hidupnya
sendiri, terlempar ke dalam sejarah keluarga, ke dalam sejarah suku, bangsa,
negara, dunia dan terlebih ia terlempar ke dalam sejarah umat manusia. Tidak
ada cara lain, keterlemparan ke dalam sejarah merupakan faktisitas kehidupan
itu sendiri. Namun demikian, meskipun ia ada di dalam sejarah dan bersama-sama
menyejarah, sering kali sejarah itu menjadi sesuatu yang sangat berjarak dari
dirinya. Manusia baru menyadari akan adanya keterkaitan hidupnya dengan
“sejarah”[4]
justru ketika ia berusaha memaknai hidupnya. Dalam usaha memaknai itulah ia
melihat keterkaitan sejarah hidupnya sengan “sejarah”.
Keberjarakan dan pemaknaan
hidup memberikan pendekatan tersendiri yang khusus bagi sejarah. Baiklah kita
melihatnya demikian: Pendekatan terhadap sejarah dengan pengandaian adanya
jarak adalah sejarah saintifik. Sementara itu, pendekatan dengan pemaknaan
adalah sejarah spekulatif atau disebut juga filsafat sejarah.[5]
Sejarah saintifik, menurut Gordon Graham adalah:
“Sebuah usaha yang hanya
sampai pada pelaporan akan hal-hal yang terjadi pada masa lampau dengan
berdasarkan bukti-bukti yang ada tanpa perlu berefleksi atas hal tersebut,
tanpa perlu memprediksi arah dari kejadian-kejadian itu di masa depan, atau
memahami makna yang ada bagi umat manusia.”[6]
Dari penjelasan Gordon
tersebut dapat dilihat bagaimana suatu kejadian dihadapi sebagai data-data.
Orang melihat sejarah hanya sebagai sesuatu yang telah terjadi. Ini berarti
bahwa sejarah tidak dipahami sebagai sesuatu yang sedang berlangsung melainkan
sebagai sesuatu yang telah dilewati. Karena ia adalah masa yang telah dilewati,
maka pengetahuan terhadapnya juga hanya sebagai informasi atas peristiwa.
Misalnya, pernah terjadi gempa di kota A, atau penah di masa hidupku aku
mengalami kejadian X. Itulah yang terjadi di dalam pengetahuan akan sejarah
sebagai data-data.
Sementara itu, dalam
sejarah spekulatif dimungkinkan pemaknaan terhadap hidup dan kehidupan itu
sendiri. Dalam filsafat sejarah terdapat usaha untuk memahami makna sejarah
manusia sebagai keseluruhan. Gordon mengatakan bahwa filsafat sejarah adalah “untuk melihat dasar dari kejadian-kejadian
dan menemukan makna terdalam atau terutama.”[7]
Di sini dapat dilihat bagaimana filsafat sejarah mencoba menguak apa yang
tersembunyi di balik fenomena-fenomena yang timbul di dalam sejarah. Sekilas,
orang dapat mengatakan bahwa antara filsafat sejarah dan sejarah saintifik itu
berbeda sama sekali. Namun demikian, sungguh merupakan kekeliruan jika kita
memandang dua pendekatan ini sebagai sesuatu yang tidak berhubungan sama
sekali. Filsafat sejarah tidak mungkin berdiri tanpa fenomena-fenomena aktual
sebagaimana yang dilaporkan di dalam sejarah saintifik. Dengan kata lain,
filsafat sejarah membutuhkan atau bahkan hadir sebagai “kanopi komprehensif”
dari sejarah saintifik.
Filsafat
Sejarah
Sebagaimana telah dijelaskan di atas, filsafat sejarah
merupakan suatu usaha untuk memahami makna sejarah manusia sebagai keseluruhan,
maka pada bagian ini akan berfokus pada penjelasan terhadapnya. Istilah
“filsafat sejarah” diperkenalkan pertama kali oleh Voltaire dalam karyanya Essay on the Customs and the Spirit of Nations, 1769. Di situ ia meneliti
mengenai kebiasaan-kebiasaan dan agama dari berbagai negara termasuk Cina,
India, dan tentu saja Eropa. Apa yang menarik dari karyanya itu adalah pertama
perspektif baru yang digunakannya untuk melihat kemajuan (progress)
dari umat manusia. Kedua, kesadaran untuk menggunakan metode yang
rasional dalam menjelaskan kemajuan umat manusia tersebut.[8]
Dari dua
hal yang menarik dari Voltaire tersebut dapat dilihat bagaimana sejarah,
sebagai sesuatu yang lebih besar dari pada sekedar data-data dari masa lampau,
harus mendapat penjelasan yang rasional. Maksudnya adalah tidak cukup hanya
dengan penjelasan-penjelasan mitis dan mitologis mengapa sesuatu dapat terjadi
dan akan membawa kita ke mana peristiwa yang terjadi tersebut. Rasionalitas
dalam filsafat sejarah kiranya terangkum melalui tiga pertanyaan mendasar yang
di catat oleh Roland H. Nash sebagai berikut. [9]
1.
Apakah pola dari sejarah itu?
2.
Apakah mekanisme yang berlaku di dalam sejarah?
3.
Apakah tujuan atau nilai dari sejarah?
Pada
pertanyaan pertama tertuang tiga jawaban yang berbeda. Pertama pola
sejarah dipahami sebagai suatu pola yang berulang atau siklis. Pada filsafat
Yunani misalnya, sejarah dipahami sebagai sesuatu yang berulang adanya. Jawaban
kedua adalah pola sejarah itu linear. Sementara jawaban ketiga, yang
dikembangkan di kemudian hari merupakan gabungan dari pola sejarah siklis dan
linear (namun demikian, untuk memfokuskan pada pembahasan mengenai Kant dan
Herder, saya menekankan hanya pada pola siklis dan linear saja). Tradisi Kristen kiranya cendrung memahami
sejarah sebagai sesuatu yang linear.
Jawaban
bagi pertanyaan kedua adalah menyangkut soal bagaimana perubahan itu terjadi.
Di sini dicoba diungkap apakah yang memungkinkan sejarah itu terjadi. Pada Kant
rasionalitas merupakan pembentuk, sementara pada Hegel dikemukakan bahwa
roh-lah yang memungkinkan perubahan demi menemukan dirinya sendiri. Sementara
itu pada pertanyaan ketiga merupakan pertanyaan teleologis yang mau memberikan
jawaban apa yang ada di ujung proses sejarah yang berlangsung.
Kant dan Filsafat Sejarah
Immanuel
Kant merupakan pemikir yang sangat sentral di dalam alam pikir pencerahan.
Gagasan filosofis yang diusungnya bersumber dari usahanya untuk mendamaikan
pertentangan yang terdapat di dalam rasionalisme dan empirisisme. Secara
sederhana problem yang dihadapi oleh dua aliran pemikiran itu adalah dari
manakah sumber pengetahuan tersebut? Kaum rasionalis meyakini bahwa rasiolah
yang menjadi sumber pengetahuan. Dalam
hal ini, dapat dikatakan bahwa pengetahuan itu bersifat apriori. Sementara itu,
kaum empiris meyakini bahwa melalui pengalamanlah pengetahuan itu dimungkinkan,
atau pengetahuan itu bersifat aposteriori.
Pendamaian
yang dilakukan oleh Kant adalah “membenarkan” apa yang diyakini oleh kaum
rasionalis dan juga apa yang diyakini oleh kaum empiris. Namun demikian, ia
memberikan catatan terhadap kedua aliran itu pula. Baginya pengalaman memang
merupakan sumber dari pengetahuan, namun apa yang didapat dari pengalaman
belumlah sungguh-sungguh sebuah pengetahuan. Untuk menjadi pengetahuan,
pengalaman harus diolah lagi oleh rasio. Di sini diperlukan kategori-kategori
(yang berjumlah 12[10])
untuk dapat menjadikan pengalaman menjadi sebuah pengetahuan. Melalui 12
kategori tersebut, pengalaman (pengetahuan taraf awal, pengetahuan kaum
empiris) dikonseptualisasi sedemikian sehingga menjadi pengetahuan. Jadi
pengetahuan sebenarnya adalah sintesis dari unsur apriori dan unsur
aposteriori.
Dalam
proses untuk mencapai pengetahuan, Kant membagi tiga tahap proses pengetahuan,
yakni: taraf pengenalan inderawi,
taraf Verstand, dan taraf Vernunft.
1.
Taraf Pengenalan Inderawi
Sebelum
melihat lebih jauh apa itu yang dapat diketahui, perlu kiranya kita mengerti
bahwa Kant membagi realitas menjadi fenomena
dan noumena. Fenomena adalah realitas
yang dapat ditangkap oleh indera-indera manusia, seperti alam, kursi, meja dan
hal-hal material lainnya. Sementara itu, realitas noumena tidak dapat
diinderai. Namun demikian, bukan berarti noumena
adalah sebuah “omong kosong” belaka. Bagi Kant, noumena ini berada dan menjadi unsur penting adanya fenomena. Jika fenomena adalah das Ding für mich (benda bagi diriku), maka noumena adalah das Ding an Sich (benda pada dirinya
sendiri).
Apa yang
dapat diketahui oleh manusia adalah apa yang dapat diinderai olehnya. Apa yang
dapat diinderai itu tidak lain adalah realitas fenomena. Taraf pengenalan
inderawi terdapat pada realitas ini. Kita mengetahui bahwa ada air, ada batu,
ada hujan dan banyak hal lain karena kita memiliki pengalaman terhadap
realitas-realitas itu.
2.
Taraf Verstand (nalar)
Pada
taraf ini pengalaman-pengalaman inderawi kemudian di konseptualisasi sedemikian
rupa melalui 12 kategori yang dimiliki oleh manusia. Hasil dari konseptualisasi
itulah yang kemudian disebut sebagai pengetahuan. Misalnya, saya meletakan
sepanci air di atas api. Saat air itu mencapai suhu 100 derajat celcius ia
mendidih. Berdasarkan pengalaman yang saya jumpai, akal budi saya pada taraf
ini akan menerapkan kategori kausalitas pada fenomena ini. Dari situ saya
mengambil kesimpulan bahwa jika air dipanaskan hingga mencapai suhu 100 derajat
celcius, maka ia mendidih. Itulah pengetahuan.
3.
Taraf Vernunft (budhi)
Taraf ini
tidak menndasarkan diri pada fenomena seperti pada taraf-taraf sebelumnya. Apa
yang ada pada taraf ini adalah perangkuman pengetahuan dan mengangkatnya ke
taraf yang lebih tinggi. Maksudnya adalah pengetahuan yang ada selama ini dirangkum
sedemikian rupa dalam suatu kesatuan tertinggi (ide). Kant melihat ada tiga
idea, yakni: ide jiwa, ide dunia dan ide
Allah. Ide jiwa itu merupakan ide
yang mendasari semua fenomena batiniah yang ada. Sementara ide dunia menyatukan
fenomena-fenomena lahiriah. Sedangka ide Allah adalah dasar bagi ide jiwa dan
ide dunia. Ketiga ide tersebut mengarahkan seluruh pengetahuan manusia kea rah
yang lebih tinggi.
Sebagai
sebuah ilmu, filsafat sejarah Kant berada pada tataran Verstand. Maksudnya adalah dengan bertumpu pada apa yang terjadi di
realitas empirik, ia menyimpulkan dan memprediksi jalannya sejarah. Sebagaimana
yang terjadi di sejak zaman Renaisans, di mana kemajuan ilmu-ilmu alam
berkembang dengan pesatnya, maka filsafat sejarah Kant tidak terlepas dari “roh
kemajuan”itu sendiri. Ia dengan optimis melihat bahwa sejarah manusia akan
menjadi semakin lebih baik dan semakin rasional.
Filsafat
sejarah Kant membawa ide-ide zaman Pencerahan di dalamnya.[11]
Sebagaimana telah disebutkan di atas, tiga elemen penting dalam Pencerahan,
yakni: rasionalitas, kritis terhadap tradisi (percaya pada sains), dan
kemajuan, ada di dalam konsepsi filsafat sejarah Kant. Ketiga elemen tersebut
kemudian membentuk pandangan sejarah yang bersifat linear, maju ke arah
tertentu. Dengan kata lain, sejarah itu memiliki telos-nya yang rasional.
Seperti yang diungkapkan oleh Nash:
“Kant menghadirkan sejarah secara linear yang
mendorong optimisme ke arah masa depan. Ia begitu yakin bahwa manusia akan
terus ke arah pemerintahan dunia (worldwide government) yang akan menetapkan
kedamaian dan hukum rasional.”[12]
Terkait dengan pandangan tentang rasionalitas manusia di zaman
Pencerahan, sejarah dalam pandangan Kant terkait dengan nalar (reason). Dengan
kata lain sejarah adalah sejarah nalar (history of reason). Sejarah nalar
sendiri terejawantah menjadi menjai (1) sejarah nalar pembentuk kembali dunia
dan (2) sejarah nalar yang kemudian diketahui (becoming known) dan menjelaskan
dirinya.[13]
Kategori sejarah nalar pertama
bersifat praksis. Maksudnya adalah dalam kategori praksis ini nalar manusia
mengejawantahkan dirinya ke dalam dunia aktual, atau fenomenal. Misalnya saat
kita menulis. Ketika menulis, nalar yang berada di dalam pikiran
mengejawantahkan diri ke dalam tulisan-tulisan yang kita buat. Dalam arti
tertentu, sesuatu yang noumenal terejawantah ke alam fenomenal dan dapat
diinderai. Di sini aktivitas sejarah bersifat terbuka dan dinamis. Sementara
itu, kategori sejarah kedua ada pada lingkup teoritis. Di sini nalar manusia
membentuk paradigma atas sejarah itu sendiri. Ia mengartikulasikan konsep,
prinsip dan kepentingan lain dalam suatu sistem yang koheren. Di sini sejarah
menjadi tertutup adanya karena terbelenggu pada disiplin ilmu teoritis
tertentu.[14]
Sejarah praxis merupakan sejarah
yang begitu penting bagi Kant. Mengapa? Karena ia melihat adanya tugas moral di
dalam sejarah itu sendiri. Di sini, sejarah menjadi domain di mana tindakan
manusia secara normatif untuk membuat sintesa antara tuntutan dan dunia
keseharian. Hasil dari sintesa tersebut adalah prinsip totalisasi tertinggi
yang bermuara pada kebaikan tertinggi di dunia. Tentu sangat jelas kebaikan
tertinggi itu sendiri adalah moralitas yang rasional. Dengan demikian, apa yang
terjadi di dalam sejarah terkait erat dengan maxim yang terdapat di dalam etika
Kant.
Filsafat Sejarah Herder
(Tanggapan terhadap sejarah rasional Pencerahan)
Johann Gottfried Herder lahir di
Prusia tahun 1744. pendidikan yang dienyamnya adalah filsafat, sastra, dan
teologi di universitas Köningsberg. Ia adalah salah seorang murid Kant dan
banyak dipengaruhi olehnya, namun dikemudian hari pandangannya menjadi berbeda
dengan Kant sendiri.
Filsafat sejarah Herder tertuang
di dalam bukunya Ideas Toward a Philosophy of the History of man. Buku ini
sendiri terbit pada tahun yang sama dengan karya Kant (esai), Idea of a
Universal History, yaitu tahun 1784.
Berbeda dengan Kant, Herder tidak
memandang sejarah sebagai sesuatu yang lurus dan menuju pada sesuatu yang
melulu pasti lebih baik adanya. Tidak
ada tujuan di dalam sejarah itu sendiri. Lebih lanjut, tidak ada tempat bagi impian utopis tentang
kesempurnaan yang dapat dicapai manusia.[15]
Dengan demikian, seperti apakah filsafat
sejarah Herder itu? Berbeda dengan Kant yang memandang sejarah itu bersifat
universal dan rasional, Herder lebih menekankan aspek partikular di dalam
sejarah. Maksudnya, sejarah itu berbeda di tiap tempat dan zaman. Masing-masing
budaya mengembangkan atau menjalani sejarahnya sendiri. Di sini nampak bahwa
apa yang digagas oleh Kant dengan universalitas dan rasionalitas sejarahnya itu terlalu
memaksakan dan bersifat utopis.
Bagaimana mungkin budaya yang berbeda dapat menjadi sama. Paling tidak, walau
pun pada budaya lain ada rasionalitas tetapi apakah rasionalitas yang sama
dengan apa yang dimaksud Kant? Berbeda dari Kant yang melihat bahwa
perkembangan manusia ditandai dengan rasionalitas, pada Herder perkembangan itu
ditandai oleh kapasitas-kapasitas lain di dalam manusia.[16]
Misalnya, kepercayaan, seni, sosialitas, dan lain-lain.
Kritik Herder sebenarnya
memperlihatkan kelemahan pengandaian filsafat sejarah Pencerahan yang begitu menekankan kesatuan (universalitas) dan rasioalitas.
Nash mencatat empat perbedaan dari filsafat sejarah Kant (Pencerahan) dan
filsafat sejarah yang digagas oleh Herder.[17]
- Zaman pencerahan menekankan kemajuan. Sejarah dipandang sebagai perkembangan umat manusia dari bentuk yang paling barbar dan dipenuhi tahayul ke arah tercerahkan dan rasional. Herder melihat bahwa sejarah itu tidak berjalan secara rasional, melainkan justru nonrasional dan tak sadar (unconcious). Dengan demikian, berbeda dari Kant yang melihat sejarah itu adalah hasil dari kesadaran pikiran dan rencana manusia, Herder melihat bahwa manusia di berbagai tempat dan waktu mengembangkan dirinya tanpa diikuti oleh kepatuhan pada harapan-harapan rasional.
- Zaman Pencerahan melihat masa lalu sebagai masa barbar dan tak tercerahkan. Sementara itu, Herder memandang bahwa masa lalu itu harus dilihat dengan simpati. Kita tidak bisa menilai masa lalu dengan standar masa kini melainkan kita harus mengerti dari dalam masa lalu itu sendiri. maksudnya adalah jika kita mau menilai masa lalu, maka kita harus melihat pula aspek-aspek lain yng ada saat itu. Dengan demikian, masa lalu dapat dipahami dalam keunikannya.
- Zaman Pencerahan memandang umat manusia itu seragam dan tak berubah. Implikasinya, setiap kelompok masyarakat digerakan oleh ideal-ideal yang sama yaitu rasional. Sementara itu, Herder melihat bahwa manusia itu berbeda di tiap tempat dan zamannya. Untuk menjelaskan hal tersebut, tidak seperti Pencerahan yang gemar menganalogikan sesuatu dengan mesin, Herder memakai analogi tumbuhan. Baginya pertumbuhan budaya di tiap tempat dan daerah adalah hasil dari orang yang berada pada waktu dan tempat yang tepat. Budaya itu tumbuh dengan caranya masing-masing tanpa dibatasi oleh hukum universal tertentu.
- Zaman Pencerahan mengandaikan keajegan manusia. Ia mengesampingkan pengaruh lingkungan pada sejarah manusia. Bagi Herder sejarah manusia itu sendiri berkembang dengan pengaruh dari kondisi-kondisi tertentu dan lingkungan di sekitarnya.
- Zaman Pencerahan mendekati sejarah dengan kontrol dari pengandaian akan data-data. Maksudnya adalah data-data aktual yang ada di dalam sejarah dapat dijadikan tolok ukur untuk merumuskan pola sejarah. Bagi Herder masa lalu itu harus diperlakukan tanpa bias dari masa kini.
Penutup
Cita-cita manusia pencerahan yang mengacu pada otonomi dan
rasionalitas diri memiliki kaitan erat dengan konsepsi mereka mengenai
kesejarahan umat manusia. Dari sudut filsafat sejarah sendiri, konsepsi
Pencerahan (dalam hal ini Kant) tidak dapat melepaskan diri dari semangat
Pencerahan yaitu: kesadaran diri sebagai subjek yang otonom, Kritis terhadap
tradisi, dan percaya akan progresivitas. Sejarah dipahami sebagai tunggal dan
bersifat universal dibawah hukum rasional; dan secara rasional pula sejarah
menuju ke arah yang lebih baik.
Herder,
meskipun hidup di zaman Pencerahan
memiliki tendensi yang berbeda dalam melihat sejarah. Ia melihat bahwa
totalitas sejarah yang terdapat di dalam semangat Pencerahan itu sendiri dapat
menimbulkan bias-bias tertentu dalam memahami kemanusiaan dan juga sejarah atasnya.
Penekanan pada partikularitas di dalam sejarah dari Herder tentunya penting
mengingat dalam setiap totalitas akan ada banyak yang tertindas.
Namun
demikian, masih bisa diperdebatkan mengenai sanggahan-sanggahan yang
dikemukakan oleh Herder. Misalnya, tidakkah pandangannya dapat jatuh ke dalam
relativisme? jika melihat bahwa ia menolak universalitas, maka ia tentu bisa
jatuh ke dalam relativisme. Lebih lanjut, ketika ia menawarkan untuk melihat
sejarah dari dalam untuk meminimalisir bias yang dapat timbul. Bagaimana
mungkin kita bisa benar-benar melihat dari dalam masa lalu itu sendiri? ini
kiranya merupakan pertanyaan epistemologis yang mendasar bagi Herder. Kemudian,
pandangannya yang menolak data-data faktual untuk merumuskan sejarah. Bagaimana
mungkin ada rumusan tanpa didasari data aktual? Bukankah Herder sendiri
membangun gagasannya berdasarkan data-data yang ia terima? Dari sini terlihat
ada paradox dalam pandangan Herder. Namun demikian, Ada hal penting yang dapat
kita pelajari dari Herder pada kritiknya terhadap sejarah model Pencerahan.
Kritik Herder tersebut mengingatkan kita untuk melihat bagaimana proyek-proyek
kemajuan, seperti yang diusung dalam filsafat sejarah Kant dapat menjadi
tendensius jika dikaitkan dengan otoritarian dalam politik. Lebih dari itu,
pandangan sejarah yang mengacu pada kemajuan itu kiranya kurang melihat aspek
keragaman dari kpasitas manusia terhadap ide kemajuan tersebut. Di sini saya
pikir kritik Herder masih dapat bergaung di zaman ini.
* DAFTAR PUSTAKA DAN CATATAN KAKI TIDAK DIPERLIHATKAN GUNA MENGHINDARI HAL-HAL YANG TIDAK DIINGINKAN. NAMUN JIKA BERMINAT ANDA DAPAT MEMINTA VERSI LENGKAP DARI TULISAN INI
Langganan:
Postingan (Atom)