Translate

Tampilkan postingan dengan label philosophy. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label philosophy. Tampilkan semua postingan

Senin, 18 Februari 2013

Lucifer's Pain (sebuah cerpen)

Hari itu semua mata tertuju padaku. Suatu hari yang takkan pernah kulupakan. Ia berdiri di hadapanku dan matanya menatap tajam ke arah mataku. Aku tahu Ia marah. Saat itu tidak ada satu pun dari mereka yang berani mendekati kami. Mereka menatap dari kejauhan tanpa berani besuara. Hanya kami berdua berhadap-hadapan. Ia lalu memelukku dengan erat sekali. Pelukan bagi seorang sahabat yang sangat dikasihinya.

“Mengapa?” tanyaNya lembut. “Mengapa kau lakukan ini terhadapKu?”
Aku diam. Aku tak tahu apa yang harus kukatakan kepadaNya.

Sekian lama kami bersahabat, jauh sebelum semuanya ada. Kami hanya berdua saja kala semua ini bermulai. Kemudian Ia mulai menciptakan segala sesuatu sesuai dengan rancangannya. Aku pun mendukungNya saat itu dan turut membantu menyelesaikan maha karya yang tak terkira itu. Namun kemudian aku mulai menyadari bahwa ada hal-hal yang tidak Ia penuhi atau berikan pada sebuah maha karya yang ajaib itu. Mereka tidak memiliki kemandirian. Mereka hanya ada untuk menyenangkanNya. Kemudian aku mulai berusaha untuk membantu. Kukatakan membantu karena manusia merupakan karya terbaikNya dan dibuat sesuai dengan setiap detail apa yang diinginkanNya. Aku ingin mereka mandiri. Memiliki akal dan budi sehingga dapat melangsungkan kehidupan dengan lebih baik dari pada hanya sekedar tunduk padaNya tanpa tahu mengapa harus tunduk.

Aku tak dapat menahan lagi. Kala salah satu dari mereka sedang berjalan-jalan sendiri, kuberikan ia cara untuk menjadi tahu. Selama ini kitab-kitab menuliskan bahwa aku menghasutnya. Itu adalah kekeliruan besar. Aku tidak menghasutnya. Menghasut adalah kata yang salah untuk ku karena aku menginginkan yang terbaik untuk mereka. Kukatakan bahwa ia dapat menjadi sepertinya, berpengetahuan dan sanggup membedakan mana yang baik dan tidak. Mereka akan menjadi otonom dan bertanggung jawab. Salahkah aku membuat mereka menjadi mengerti?

“Kau telah menghianati aku”
“Tidak” jawabku. “Aku mencintaiMu”
“Mengapa kau menghianatiku?”
“Tidak sekalipun aku pernah mau menghianatiMu. Aku hanya menginginkan mereka untuk mengerti. Tidakkah Kau mau mereka juga mengerti mengenai segala hal? Paham akan apa yang terjadi di sekitar mereka? Apa salahku mengajak mereka untuk tahu?”
“Pengetahuan yang kau bawa adalah kejahatan terselubung”
“Ya, tetapi ketaatan mereka hanyalah kebodohan yang bernasib sial.” Jawabku

Kami terdiam sesaat. Dari ujung mataku kulihat Gabriel tertunduk. Ia adalah pesuruh. Ia yang menyampaikan apa-apa saja yang perlu untuk disampaikan kepada mereka. Aku merasakan pelukannya melemah dan akhirnya ia mendorongku.
“Pergilah kau” katanya. “Aku tak mau kau ada di sini lagi. Pergilah dan jangan pernah kembali ke sini.”
Dapatkah kalian merasakan apa yang kurasakan saat itu. Saat seorang sahabat tak lagi mau bersahabat. Ia telah menghancurkan hatiku. Ia merobek-robek sukmaku. Ia lalu berpaling. Ku tahu bahwa Ia sedih telah mengatakan demikian. Ia sedih karena akan kehilangan diriku. Aku adalah sahabatnya, satu-satunya yang dipercayaiNya dan kini Ia memintaku untuk pergi dari hadapanNya.
Aku tertunduk, namun sebelum aku menjauhiNya aku berkata “Aku tetap mencintaiMu sahabat. Aku akan selalu mencintaiMu.” Lalu aku berlalu menjauh dari diriNya. Menjauh dari seorang sahabat yang begitu kukasihi. Menjauh dengan hati yang terkoyak-koyak dan kepedihan yang tak akan pernah kalian rasakan. Kala aku melangkah, aku berjanji pada hatiku untuk selalu menolongnya, menolong manusia agar memperoleh pengetahuan dan menjadi dewasa.


I


Saat ini, ku terdiam seorang diri. Mengapa begitu sepi hidupku? Mungkinkah kutukNya abadi? Jika begitu, maka sepi adalah keniscayaan yang harus kuhidupi sepanjang zaman.
Zaman ini, aku merupakan seorang mahasiswa di sebuah perguruan tinggi bergengsi. Rasanya aneh, aku telah menjadi tabib di abad-abad yang lalu, menjadi pemikir di abad tertentu, menjadi seniman, pendeta, rahib, ilmuan dan kini harus menjadi mahasiswa. Namun itulah aku. Mereka tidak boleh mengenal aku karena mereka akan menghancurkan aku jika mereka mengetahuinya. Kitab-kitab itu telah membuatku tidak dapat menjadi diriku sendiri. Mereka bahkan membuat gambaran yang sangat menyedihkan untuk diriku. Aku digambarkan sebagai mahluk berwajah merah, bertanduk dan buruk rupa. Gambaran tersebut lebih tepat untuk monster dan bukan diriku. Kadang aku heran dari mana datangnya gambaran diriku yang seperti itu. Adakah kalian pernah berpikir, sebagai seorang panglima tertinggi waktu itu, aku memiliki rupa yang demikian. Kalian menggambarkan Gabriel, Mikhael dengan wajah yang anggun. Aku adalah atasan mereka dan tampangku kalian buat lebih buruk dari seekor binatang. Keterlaluan, benar-benar keterlaluan. Ah, biarlah mereka yang percaya aku demikian tetap mempercayainya, tetapi bagi mereka yang bertanya-tanya, hendaklah berpikir mengenai gambaran yang salah tersebut. Kini sebagai seorang mahasiswa aku cukup puas dengan bentuk tubuh yang kuingini. Sebagai mahasiswa aku dapat menjadi begitu kreatif tanpa harus takut jika adaku terbongkar.
Tahukah kalian bahwa kreativitas merupakan hal yang penting bagi kita? Seorang mahasiswa merupakan sebuah peran di mana kreativitas menjadi hal yang dimaklumi. Orang-orang selalu beranggapan bahwa orang yang sudah mapan tidak lagi membutuhkan kreativitas. Mereka hanya perlu mengikuti apa yang ada dan mereka ciptakan di masa muda. Bah!! bagiku hal tersebut merupakan kebodohan yang paling bodoh dari umat manusia. Dunia ini diciptakan dengan kreativitas yang tinggi dariNya dan kalian telah mewarisi kreativitas tersebut. Akulah yang membukakan mata nenek moyang kalian. Menjadi seorang mahasiswa begitu menyenangkan. Kita dapat berpikir sebebas-bebasnya dan tak takut dengan belenggu apapun. Itulah diriku, itulah jiwaku. Sebuah diri yang dipenuhi semangat yang tak pernah habis dari zaman ke zaman. Revolusi, revolusi adalah keniscayaan yang harus ditempuh bagi dunia ini. Tanpa revolusi tak akan pernah ada apa-apa.
Mereka tak pernah tahu bahwa akulah yang menginspirasikan setiap perubahan di setiap bidang. Apa itu perubahan? Tidak lain adalah suatu cara untuk memperbaiki keadaan. Setiap revolusi suatu saat akan menjadi baku dan beku. Oleh karena itu revolusi tidak boleh dan tidak akan pernah berhenti sehingga segala sesuatu terus berjalan. Revolusi yang telah berjalan harus ditutup dengan revolusi yang kemudian. Begitu seterusnya dan seterusnya.
Ku ingat ketika dunia ini baru berjalan, ketika mereka baru belajar untuk tahu, mereka begitu rentan tehadap hal-hal yang ada di sekelilingnya. Dahulu para penulis kitab mengatakan takut akan Dia merupakan awal dari pengetahuan. Sebenarnya kesakitan dan penderitaan adalah permulaan dari pengetahuan. Saat mereka terlempar ke luar dari kenyamanan bersamaNya. Di saat terlempar itulah mereka mulai mencari kemungkinan-kemungkinan untuk tetap hidup. Aku, saat itu, tidak tinggal diam. Aku mengurus mereka, membantu mereka untuk memecahkan permasalahan yang ada. Mereka mulai menggunakan hewan-hewan untuk membantu mereka mengerjakan alam ini. Aku juga membantu mereka dalam memahami, memahami pengetahuan. Mereka mulai tahu beranak-pinak, bersahabat dengan alam dan memenuhi kebutuhan hidup mereka. Namun demikian, sahabatku berpandangan lain. Ia tak mengizinkan mereka untuk mengetahui secara tuntas. Mereka tidak diberi waktu karena mereka harus mati. Ya kematian merupakan suatu hambatan untuk mengetahui segala hal. Dari situ maka manusia harus berlomba dengan waktu, dengan masa depannya yaitu kematian, untuk meraup pengetahuan. Dapatkah kalian bayangkan betapa pedih hatiku melihat mereka yang bersemangat untuk tahu harus berhenti ketika kematian tiba. Kadang kematian tidak lagi memandang. Ia laksana batu yang dapat menimpa apa pun di bawahnya. Ia bahkan dapat menjemput seorang anak kecil yang bakat-bakatnya pun belum lagi nampak. Tahu kah kalian bahwa anak-anak yang direngut oleh kematian pada dasarnya merupakan anak-anak yang akan menjadi begitu jenius di usia yang matang. Aku tak dapat berbuat apa-apa bagi mereka. Aku tak dapat menyelamatkan mereka dari kematian.
Karena adanya kematian itu, maka seperti yang kukatakan tadi, revolusi menjadi keniscayaan. Manusia harus berevolusi agar evolusi kesadaran dimungkinkan. Tanpa itu mereka tak ada bedanya dengan hewan yang hanya menyerahkan diri pada takdir belaka.
Manusia mengerti. Ya, mereka mengerti bagaimana harus menghidupi diri. Namun mereka belum cukup untuk mengenali diri. Mengenali setiap potensi yang terdapat pada diri mereka. Mereka harus terus menggalinya dan untuk itulah maka aku ada. Aku adalah keabadian yang akan selalu membangkitkan kreativitas yang mereka miliki. Kreativitas yang berasal dari padaNya. Kalian pikir menjadi seperti apakah secitra dengannya? Ku katakan sekarang, menjadi secitra denganNya adalah menjadi sekreatif diriNya. Ia begitu kreatif. Lihatlah segala yang ada di sekeliling dunia. Lihatlah warna hijau. Dapatkah kalian hitung ada berapa macam warna hijau yang terdapat pada setiap daun? Lihatlah! Untuk satu warna saja Ia telah menciptakan ribuan variasi apa lagi terhadap hal-hal lain yang Ia ciptakan. Ia adalah seniman agung dan aku adalah sahabatNya dan sekaligus pemuja setiap karyaNya.
Tentu kalian tak akan mengerti mengapa aku begitu memujaNya setelah Ia mengusirku. Yang dapat kukatakan adalah Ia sahabatku dan aku selalu merindukan diriNya. Aku tidak pernah memendam apapun terhadapNya dan Ia pun begitu pula. Aku tahu Ia mengetahui apa yang kukerjakan. Apa yang aku lakukan hanyalah membantuNya. Terkutuklah mereka yang menganggap aku penyesat, sumber segala bencana dan penyebab kematian. Aku tidak inginkan itu semua terjadi pada kalian. Aku ingin kalian mandiri, bahagia dan abadi. Aku tidak pernah menginginkan kematian kalian. Mereka berbohong, mereka para penulis kitab itu berbohong. Mereka tak tahu apa yang sebenarnya terjadi antara aku dan Dia. Mereka hanya mereka-reka saja dan aku menjadi korbannya.


***** ** ******* *******
Pada masa lalu, ketika peperangan tiap suku bangsa terjadi di mana-mana, aku hadir di situ. Aku tahu sahabatku tak menyukainya. Ia terlalu cinta pada manusia dan aku tahu betapa sedihnya Ia menyaksikan mereka bertikai dan saling bunuh. Kalian pasti berpikir aku ada di sana untuk menghasut mereka membunuh. Tidak! Ku katakan aku tidak menghasut mereka. Aku justru berusaha untuk menghentikan mereka. Ya, menghentikan mereka karena sahabatku tak menyukai hal tersebut. Ku kira kalian adalah mahluk paling aneh yang pernah ada. Kalian tidak pernah menyadari kesempurnaan kalian di banding dengan mahluk-mahluk lain. Dalam setiap pertikaian dan peperangan kalian selalu berpikir bahwa Ia ada di pihak kalian. Tahukah kalian bahwa hal tersebut merupakan hal terlucu yang pernah ada. Kalian meminta pada Dia yang sama? Kalian saling meminta kemenangan dan yakin bahwa Ia akan memihak kalian. Kukatakan sekarang: Ia tak pernah berpihak pada hal-hal tersebut. Ia tak pernah mau memenangkan yang satu dan mengorbankan yang lain. Bagaimana mungkin untuk satu orang atau kelompok Ia mengorbankan manusia ciptaannya yang lain, yang begitu dikasihinya?
Pada siapakah sebenarnya mereka berdoa? Kukatakan pada kalian bahwa mereka tidak berdoa kepada siapa-siapa, apalagi kepada Dia. Dia tidak pernah mendengarkan doa-doa semacam itu. Dia tahu tapi tak mau mendengarkan. Yang aku tahu dari semua permohonan-permohonan kalian untuk mendapatkan kemenangan hanyalah berita sedih bagiNya. Bagaimana mungkin Ia menolong kalian dan mencelakakan yang lain? Pikirkanlah!
Mereka menuduhku bahwa penyebab segala pertikaian, peperangan dan pembunuhan adalah aku. Akulah penyebab semua ini. Akulah yang mengakibatkan manusia memiliki ambisi buta, keinginan untuk saling mengungguli, keinginan untuk berkuasa dan keinginan untuk memasyurkan diri. Tidak! Keinginan-keinginan itu adalah milik kalian dan itu adalah alam kalian. Kuberi tahu satu hal, kalian sebenarnya dapat lepas dari keinginan kalian tersebut jika kalian mau belajar. Mau belajar menjadi seperti diriNya. Ia penuh dengan kasih dan mengerti diri. Yang kumaksud dengan mengerti diri adalah ia begitu tahu apa-yang perlu dan benar-benar perlu bagi diriNya. Ia tahu sifat-sifatnya dan segala potensi yang ada bagi diriNya. Jika kalian mampu belajar untuk memahami diri seperti Dia dan mampu mengembangkan kasih, maka kalian akan hidup dengan lebih baik. Mengertilah apa-apa saja yang dapat menyulut pertikaian di antara kalian dengan begitu kalian akan memahami bahwa pertikaian itu tidak perlu. Pengetahuan yang kuberikan pada kalian sebenarnya memampukan hal tersebut, namun kalian dibutakan oleh apa yang kalian sebut jati diri. Kalian saling ingin menegaskan diri masing-masing.

***** ** ******* *******

Kini kalian akan bertanya, bagaimana aku hadir di dunia ini? Bagaimana aku berperan pada kehidupan ini? Aku ada dari tiap generasi ke generasi. Aku menjadi seperti kalian. Hidup dalam kefanaan. Kalian pikir di mana aku akan hidup setelah ia mengusirku? Aku di sini bersama-sama dengan kalian. Aku tidak akan pernah pergi meninggalkan kalian karena aku telah membuka pintu pengetahuan bagi kalian dan aku bertanggungjawab atas apa yang telah kuberikan.
Aku hidup dalam tubuh fana namun jiwaku mengembara di dalam diri kalian. Aku memberi pengertian. Ahh ....... lebih tepatnya melengkapi pengertian kalian. Ia telah memberikan pengertian dan aku pun berbuat hal yang sama. Jika kalian mengerti, itulah sebabnya ada begitu banyak pengertian yang berbeda-beda yang dipahami oleh manusia. Tidak ada satupun yang tidak baik. Kukatakan sekali lagi bahwa tidak ada yang tidak baik yang kami berikan pada kalian, hanya saja kalian belum mau mengerti apa yang kalian benar-benar inginkan sehingga dapat timbul kekacauan dan pertikaian. Kenalilah dulu diri. Kalian adalah nada-nada yang otonom dari sebuah orkes. Bunyi-bunyi yang berbeda. Do bukanlah Re dan Mi bukan Fa. Namun jika kalian tahu kapan harus berbunyi dan dengan siapa kalian dapat berpadu dengan harmonis, maka kalian dapat hidup dengan begitu indah. Tidakkah kalian mengerti ungkapan ‘Carilah dulu kerajaanNya, maka semuanya akan dilimpahkan kepadamu’? kerajaanNya ada di dalam mu. Jika engkau mengerti siapa kalian dan apa yang benar-benar baik maka semua hal di luar kalian akan dapat dimengerti.

Aku ada untuk kerajaanNya. Tak dapat kusangkal bahwa aku ikut berperan di dalamnya dan seperti janjiku dahulu, aku akan selalu membantuNya untuk mewujudkan kerajaanNya. Suatu waktu di masa yang lalu, aku sempat bertemu denganNya. Ia hadir dalam rupa manusia. Pertama-tama aku memang tidak mengenalinya sampai ketika ia berada di padang gurun. Para penulis kitab mengatakan bahwa aku mencobai Dia di sana, tetapi yang benar bukan demikian. Pertemuan di gurun tersebut merupakan sebuah perjumpaan antar sahabat yang telah lama tak bertemu. Semula aku tidak yakin apakah itu adalah Dia, sahabat lamaku. Aku harus mengetahuinya dengan lebih jelas jika Ia benar-benar sahabatku. Ia nampak seperti manusia biasa. Ia tersenyum, bercanda atau seringkali bergunjing dengan para temanNya. Namun ada yang lain dari diriNya. Tatap mata yang tak akan pernah kulupa saat terakhir kali kami saling tatap.

Aku bertanya akankah dia mau menyerahkan kekhawatiranNya dengan mementingkan diriNya sendiri? Ia katakan tidak. Ia tidak memerlukan makanan duniawi untuk mengenyangkan diriNya. Dari situ aku tahu mengenai ketetapan hatiNya yang teguh. Lalu aku bertanya lagi apakah Ia sanggup menyelamatkan diriNya jika Ia benar adalah Dia. Ia tersenyum dan berkata bahwa aku tidak perlu meragukan apa yang benar-benar dapat dilakukanNya.
“Mengapa kau bertanya seolah-olah kau tidak mengenaliku?” BisikNya. “Apakah kau ragu tentang Aku? Ini adalah Aku.” Lanjutnya sambil mengores-goreskan kayu yang dipegangnya pada pasir yang mengeliling diriNya.

“Jika Engkau benar-benar Dia, apa yang Kau lakukan di sini? Tidakkah Engkau dapat melihatnya dari sana? Atau....kini Engkau sadar bahwa apa yang dahulu kulakukan hanyalah ingin membantuMu? Lihatlah kini, mereka sudah banyak belajar dari kehidupan. Ya..walaupun masih harus belajar lagi, tetapi mereka telah belajar untuk hidup. Maukah Kau bergabung denganku untuk mewujudkan apa yang dahulu pernah kulakukan?.”

“Tidak” jawabnya. “Bukan untuk itu Aku datang. Tidakkah kau lihat bahwa apa yang telah kau lakukan memakan begitu banyak korban? Kau selalu mengatakan soal diri otonom, lihatlah. Tidak akan pernah hal demikian menjadikan mereka baik. Otonomi diri merupakan ilusi dan keangkuhan diri. Mereka saling bunuh hanya atas nama otonomi diri, otonomi bangsa, otonomi daerah. Otonomi adalah penegasan diri yang semena-mena. Tidakkah kau mengerti hal itu?

“Tetapi itu hanya tahap di mana mereka belajar. Itu hanya bagian dari sebuah proses yang berlangsung. Mereka akan belajar dari situ dan suatu saat mereka akan mengerti bahwa hal-hal seperti itu sebenarnya tidak perlu. Bantulah aku untuk mewujudkan hal tersebut jika engkau benar-benar mampu.”

“Tidak! Jika engkau benar-benar yakin akan apa yang kau lakukan, lakukanlah. Namun Aku tidak akan bertindak demikian. Aku memiliki caraKu sendiri untuk membuat mereka mengerti.”

“Apa itu?”

“Cinta kasih yang akan membuat mereka mengerti dan bukan otonomi!” katanya sambil memberikan senyumNya.

Ya itu adalah Dia. Aku yakin bahwa itu adalah diriNya. Cinta kasih merupakan hal yang penting bagi diriNya dan bagi apa yang berasal dari diriNya. Setelah sekian lama ia tidak pernah berubah untuk mengasihi. Untuk mengasihi itulah Ia datang. Tetapi mereka tidak mengerti apa itu cinta kasih. Ia akhirnya mati dibunuh. Ia mati secara fisik, namun mereka tidak dapat benar-benar membunuhNya. Ia adalah sang abadi itu sendiri.
Saat Ia akan kembali ke sana, beberapa hari setelah kematianNya, aku berjumpa lagi denganNya.

“Lihatlah, mereka belum mengerti apa itu cinta kasih.” Kataku kepadaNya.
Mereka membunuhMu, tetapi ku katakan padaMu bahwa itu hanyalah bagian dari proses pembelajaran mereka. Mereka akan mengerti nantinya bahwa apa yang mereka lakukan padamu adalah kesalahan. Ah.., bukan mereka melainkan anak cucu mereka yang akan mengerti hal tersebut.”

Ia tersenyum, lalu dari balik senyumNya Ia berkata:
“Bukan untuk itu kawan, kematianKu bukan untuk suatu pembelajaran akan kebebasan atau otonomi diri. Lewat kematianKu Aku ingin mereka tahu bahwa dengan cinta kasih Aku rela menanggung apa yang tidak pantas bagi diriKu. Bahkan kematianpun bukan apa-apa jika ada cinta kasih. Dan Aku ingin mereka bertindak demikian.”

Tidakkah Ia mengerti bahwa dengan cinta kasih saja mereka belum mampu menanggung beban? Mereka tidak paham. Mereka menginginkan makanan duniawi, mereka butuh sesuatu yang tampak dan nyata untuk menenangkan diri sementara Ia hadir dengan menawarkan makanan rohani dan janji-janji yang tidak akan terdapat di dunia ini. Ya, janji-janjinya hanya akan terwujud di dunianya dan itu pun nanti. Jika semua ini berakhir dan bukan sekarang. Mereka butuh kekinian dan bukan nanti. Mewujudkan apa yang dia inginkan terjadi di sini seperti menginginkan sesuatu dari ketiadaan. Apa yang dapat kita diharapkan dari ketiadaan?

Selasa, 27 November 2012

“Что,батюшка, чест, кагда нечего есть?” Kepentingan Diri dalam Pergulatan Etika Keutamaan dan Etika Orang Biasa Dalam Kisah Sang Inkuisitor


“Что,батюшка, чест, кагда нечего есть?”[1]
Kepentingan Diri dalam Pergulatan Etika Keutamaan dan Etika Orang Biasa
Dalam Kisah Sang Inkuisitor


Pada bahasan ini akan diperlihatkan masalah-masalah yang terkait dalam pemikiran utilitaisme. Untuk itu kasus yang akan dianalisa pada bahasan ini adalah kasus yang terdapat di dalam kisah Sang Inkuisitor yang ditulis oleh F. M. Dostoevsky  (1821 – 1881). Sang Inkuisitor sendiri terdapat di dalam novel terakhir Dostoevsky Karamazov Bersaudara, yang ditulis tahun 1878-1880. Di dalam kisah tersebut dapat dilihat bagaimana paradigma etis utilitaris yang menekankan manfaat suatu tindakan (diwakili oleh Kardinal) berhadapan dengan etika keutamaan (diwakili oleh Kristus). Atas nama orang-orang yang lemah, yang tidak dapat mengikuti etika keutamaan, sang Kardinal lantas menolak Kristus. Kedatangan Kristus ke dunia untuk kedua kalinya, bagi Kardinal, hanyalah mengacaukan stabilitas yang selama ini telah tercapai.
Pembahasan makalah ini akan mencoba menjawab tiga petanyaan berikut: (1) Mengapa Kardinal beranggapan bahwa ajaran Kristus gagal? (2)Apakah yang menjadi dasar dari argumen Kardinal tersebut? (3) Bagaimana Tanggapan Dostoevsky sendiri terhadap tokoh Kardinal? Guna menjawab tiga pertanyaan tersebut maka alur makalah ini adalah sebagai berikut: Pendahuluan yang akan memperlihatkan tokoh Kardinal dalam kisah Sang Inkuisitor. Dilanjutkan dengan argumen-argumen Kardinal untuk melihat mengapa ia menolak Kristus. Setelah itu akan dianalisa kisah Sang Inkuisitor dalam perspektif utilitaris. Sebagai pembanding akan dihadirkan pandangan Dostoevsky mengenai kisah Sang inkuisitor. Sebagai akhir akan disertakan penutup yang berisi kesimpulan dan refleksi.
Kisah Sang Inkuisitor dan Kardinal
Dalam kisah Sang Inkuisitor diceritakan mengenai kedatangan Yesus yang kedua kali di Seville, Spanyol pada masa inkuisisi. Kedatangan Yesus dianggap oleh Gereja, yang diwakili oleh Kardinal, membahayakan stabilitas yang selama ini telah tercapai di dalam keimanan umat secara umum. Oleh karena itulah Kardinal menangkap Yesus dan menjebloskannya ke dalam penjara. Di dalam penjara terjadilah dialog (lebih tepatnya monolog karena Yesus hanya diam saja; satu-satunya respon Yesus saat itu adalah ciuman pada Kardinal ketika ia dilepaskan dari penjara.). Di dalam dialog itu dapat dilihat mengenai pemikiran-pemikiran mengenai apa yang patut dan apa yang tidak. Singkatnya adalah apa yang diajarkan Kristus itu terlalu tinggi dan tak dapat dimengerti dan diikuti oleh orang kebanyakan. Yesus mewartakan keutamaan-keutamaan sementara apa yang dibutuhkan hanyalah makanan duniawi semata. Sang Kardinal mengatakan kepada Kristus demikian: “…Kau begitu bangga akan mereka yang terpilih, namun Kau hanya memiliki mereka, yang jumlahnya sedikit, sementara kami mampu memberi kedamaian pada seluruh umat manusia.” (BK: R. 320/ E. 311)
 Argumen-Argumen Kardinal
Sebagaimana disebutkan diatas, pandangan Kardinal ini bertumpu pada bagaimana menyelamatkan (membahagiakan) lebih banyak orang. Ajaran Kristus yang begitu sulit dianggap tidak memberikan jawaban kepada problem kemanusiaan yang dihadapi orang banyak di dalam hidup sehari-hari. Berikut Argumen-argumen penolakan Kardinal atas Yesus.
Argumen untuk Menolak Kristus
Atas nama penderitaan manusia, Kristus tidak diijinkannya kembali ke dunia ini untuk mengacau stabilitas yang telah dicapai oleh gereja. Mengapa gereja, yang direpresentasikan oleh Kardinal, menolak Kristus? Bukankah Kristus dipercaya sebagai kepala gereja? Kardinal memiliki dua alasan utama untuk menolak Kristus datang di dunia. Pertama, karena gereja telah menggantikan Kristus dalam misi melepaskan penderitaan manusia. Kedua, gereja telah mengoreksi kesalahan-kesalahan Kristus di masa lalu, dan untuk itu Ia tidak perlu lagi mengacaukan kestabilan yang telah tercipta.
            Kardinal menganggap kedatangan Kristus sebagai penambah beban kehidupan manusia. Mengapa? Karena Kristus datang dan  memberikan kebebasan yang lebih besar bagi manusia. Menurut Kardinal manusia itu lemah, bermental kawanan, dan takut menanggung kebebasan. Ia mengatakan bahwa  ”manusia itu tidak dapat hidup dengan kebebasannya karena manusia itu lemah, busuk, tidak layak, dan pemberontak.” (BK: 305.) Bagi Kardinal Kristus mungkin lupa atau tidak memahami atau tidak mau tahu kondisi manusia.
            Manusia adalah pembangkang sejati, dan karena itulah manusia menderita. Kebebasan hadir sebagai anugerah terbesar kehidupan menjadi sekaligus kutukan. Manusia takut akan kebebasannya. Ia ingin sesuatu yang tetap, konstan, dan tidak lagi mau berhadapan dengan pilihan-pilihan sebagaimana yang ditawarkan dalam kebebasan. Ia membutuhkan pemimpin yang dapat membimbingnya melalui kehidupan yang penuh derita. Oleh karena itulah, maka manusia menyerahkan diri pada institusi tertentu yang dapat mengatur kehidupan mereka dan menjadi tempat bagi mereka untuk meletakkan kebebasannya tepat di atas altar yang dijaga oleh para pemuka agama. Dalam kisah ini, institusi itu bernama Gereja.  
Kisah Pencobaan dalam Injil sebagai Referensi Kegagalan Kristus      
Penolakan Kardinal atas kedatangan Kristus didasari oleh suatu kisah yang terdapat di dalam injil. Dalam kisah tersebut dikisahkan bagaimana Iblis datang “mencobai” Kristus yang saat itu sedang berpuasa selama empat puluh hari empat puluh malam. Pada peristiwa itu iblis mengajukan tiga pertanyaan yang sangat penting dan merepresentasikan  keadaan kehidupan manusia. Pencobaan-pencobaan yang diajukan oleh Iblis tersebut di dalam injil adalah pertama “jika Engkau Anak Tuhan, ubahlah batu ini menjadi roti”. Kedua, Jika Engkau Anak Allah loncatlah dari menara ini karena malaikat-malaikat  Tuhan tidak akan membiarkanmu mati. Pencobaan ketiga adalah “Sembahlah aku (iblis), maka seluruh kerajan dunia akan menjadi milikmu.” Dalam tiga pencobaan tersebut termuat tiga masalah yang diangkat Kardinal dalam kehidupan manusia, yaitu: masalah pangan, masalah suara hati, dan masalah kesatuan umat manusia.
            Masalah Pangan
Salah satu masalah utama dalam kehidupan manusia adalah masalah pangan. Sejak dari dahulu, jika mengacu pada mitos penciptaan dalam Perjanjian Lama, manusia dihukum harus memenuhi kebutuhan pangannya dengan bekerja. Memang manusia tidak hidup untuk makan, tetapi makan untuk hidup. Namun makanan toh harus dicari atau diusahakan. Semua pekerjaan yang dilakukan oleh setiap orang bertujuan untuk memenuhi kebutuhan pangannya, disamping kebutuhan akan tempat tinggal dan pakaian tentunya. Orang bahkan dapat bertindak jahat karena kebutuhan pangannya tidak terpenuhi. Telah banyak contoh-contoh di mana orang mencuri, berbohong, mengemis, bahkan membunuh sesamanya untuk dapat makan.
            Kardinal yang adalah Sang Inkuisitor kiranya menyadari hal tersebut. Ia memberikan kebutuhan pangan bagi orang-orang yang lapar merupakan hal yang sangat penting untuk dapat memperoleh hati mereka. Ia sadar bahwa seorang pemimpin tidak dapat mengabaikan kebutuhan dasar orang-orang yang dipimpinnya. Kristus di sini tidak dapat menyediakan kebutuhan pangan bagi orang-orang yang lapar. Ia hanya menjanjikan makanan surgawi, sementara yang dibutuhkan secara kongkret adalah makanan duniawi yang dapat mengenyangkan perut mereka.  Kardinal mengatakan bahwa karena telah mengabaikan kebutuhan pangan duniawi itulah maka manusia bangkit melawanNya.
Kau telah janjikan mereka makanan surgawi, tetapi kuulangi lagi, bagaimana makanan itu dapat bersaing dengan makanan duniawi di hadapan orang-orang lemah, berdosa dan tak bermartabat? Bahkan jika ada seratus atau seribu yang mampu untuk mengikutiMu dan menerima makanan surgawi, bagaimana dengan jutaan manusia lain yang begitu lemah untuk mengabaikan makanan duniawi mereka? (BK: 305)
... Dengan makanan, Kau dapat menawarkan sesuatu yang akan membuat mereka patuh padaMu dengan segenap kesetiaan: Kau memberi makan dan manusia akan membungkukkan badannya untukMu. Karena tidak ada yang lebih penting bagi mereka selain makanan. .... (BK: 306)
Kesalahan pertama Kristus pada masalah pangan ini adalah Ia menolak atau mengabaikan kebutuhan pangan manusia, Ia telah menolak mengubah batu menjadi makanan (roti). Di sini, Ia tak mampu memberikan bukti empiris bahwa Ia mampu mengubahnya. Argumen Kristus yang mengatakan bahwa manusia tidak hidup dari roti saja membuat Ia sulit dipahami dan tak dapat diikuti. Kristus justru dapat dianggap telah “melecehkan” kemanusiaan dengan menolak memberi makanan duniawi bagi manusia.
            Masalah Suara Hati
            Pada pencobaan kedua ini iblis mengajak Kristus untuk membuktikan keilahianNya. Namun Kristus sekali lagi menolak  untuk melakukan pembuktian tersebut. Penolakan ini, menurut Kardinal, berdampak pada ketidakpercayaan manusia pada keilahian Kristus. Bagaimana manusia dapat yakin jika Ia adalah anak Allah jika Ia tidak dapat memberikan pembuktian kongkret atas keilahianNya? Manusia mengikuti sesuatu berdasarkan bukti. Tanpa bukti tersebut, dapat dipastikan bahwa suatu kepercayaan akan gagal. Kardinal mengatakan:
“Kau mengacuhkannya, menolak sarannya, melawan cobaan dan tidak terjun dari menara. Oh, tentu saja tindakanMu membanggakan dan mulia; bahkan kau bertindak seperti Tuhan, tetapi dapatkah Kau mengharapkan hal yang sama terjadi pada manusia, dengan kelemahan yang mereka miliki, tak disiplin, dan keturunan terkutuk, yang bukan Tuhan? (BK: 307 – 8))
Kesalahan Kristus yang kedua ini membuktikan bahwa dirinya tidak memiliki bukti konkret yang dapat membuat orang akan percaya bahwa ia adalah anak Allah. Kardinal mengatakan bahwa manusia membutuhkan pembuktian akan ke-Allah-an Kristus. Kesalahan Kristus ini, menurut Kardinal, telah membiarkan manusia untuk memilih apa yang ingin dipercayainya. Ia mengandaikan bahwa setiap manusia dapat memiliki suara hati sepertiNya. Namun, manusia lebih lemah dari yang Ia bayangkan, dan membiarkan mereka memilih dengan suara hatinya adalah keterlaluan karena mereka tidak memiliki kesadaran layaknya Kristus sendiri. Bukti tentang keilahianNya untuk tidak dapat mati juga tidak dipenuhi oleh-Nya dan dengan demikian manusia tidak dapat meyakinkan dirinya untuk mempercayai keilahian Kristus.
            Masalah Kesatuan Umat Manusia.
            Pada pencobaan ketiga, Kristus menolak kerajaan dunia yang ditawarkan oleh iblis. Kerajaan dunia ini, menurut Kardinal, merupakan satu-satunya cara untuk mengembalakan manusia. Bagaimana Kristus dapat menggembalakan manusia jika Ia menolak satu-satunya cara untuk mengorgansir manusia? Untuk membumikan suatu ajaran bagi manusia adalah dengan menerima kerajaan dunia (yang tentunya ada di bumi) lebih dahulu. Jika menolak dunia, bagaimana mau mendunia? Gereja yang dijunjung oleh Kardinal telah mengambil kesempatan yang ditawarkan iblis untuk menjadi raja dunia. Kardinal mengatakan:
“... sejak delapan abad yang lalu. Tepatnya delapan abad ketika kami menerima apa yang telah Kau tolak dengan kemarahan, pemberian terakhir yang ia tawarkan padaMu – semua kerajaan di muka bumi. Kami menerima Roma dan pedang kekaisaran darinya, dan kami memaklumatkan diri sebagai satu-satunya hukum di dunia,… Kau seharusnya menerima pedang kaisar ketika ia menawarkannya padaMu. Mengapa Kau menolak tawaran terakhirnya? Jika Engkau menerima tawaran ketiga yang diberikan oleh roh itu, kau akan dapat memenuhi kebutuhan paling mendasar dari umat manusia yaitu: kebutuhan untuk memiliki seorang yang dapat dipuja, seorang yang mampu untuk membebaskan mereka dari beban hati nurani yang mereka miliki dan akhirnya yang mampu menyatukan mereka dalam suatu harmoni di mana tak ada lagi suara-suara yang tak senada, karena haus yang tak dapat terpuaskan untuk kesatuan universal merupakan tawaran ketiga dan cobaan terakhir bagi manusia. Manusia selalu berusaha untuk mengorganisasikan diri menuju kesatuan universal...” (BK: 310)
            Kesalahan ketiga Kristus adalah menolak kerajaan dunia. Jika Ia mau menerima tawaran untuk memimpin pemerintahan dunia, maka Ia akan dapat menciptakan perdamaian dunia. Jika Kristus menerima untuk memimpin dunia, maka ajaran-Nya dapat diberlakukan secara universal. Namun, karena ia menolak menjadi pemimpin, maka kesempatan-Nya untuk menjadikan dunia yang damai dan penuh cinta kasih menjadi mustahil.  Gereja telah mengambil apa yang pernah ditawarkan iblis pada Kristus. Ia menerima kekuasaan untuk menguasai dunia, dan karenanya gereja berhasil mengorganisir manusia-manusia pembangkang yang lemah secara eksistensial.
Gereja Menyelamatkan Lebih Banyak Dari Pada Kristus
          Menurut Kardinal, Kristus tidak sepenuhnya gagal dalam misinya. Terdapat orang-orang, yang dengan kebebasannya, berhasil memahami ajaran Kristus dan memilih untuk mengikutiNya. Tetapi berapakah jumlah mereka? Jumlah yang sangat sedikit diabandingkan dengan mereka yang gagal, karena kelemahannya tidak mengerti apa yang ditawarkan oleh Kristus. Mereka yang tidak memahami apa yang ditawarkan Kristus kemudian ditampung oleh gereja. Melalui gereja mereka mempunyai “pegangan” untuk dapat melalui hidup. Kardinal mengatakan:
”Ingatlah, bahwa jumlah mereka hanya sedikit dan mereka lebih merupakan dewa dari pada manusia. Lantas bagaimana dengan sisanya? Mengapa yang lain, mereka yang lemah, menderita karena mereka tidak dapat bertahan seperti mereka yang kuat dapat melalui rintangan tersebut? ... Benarkah bahwa Kau datang hanya untuk memilih sedikit orang dari mereka semua? .... Katakan padaku, salahkah kami memberitakan dan bertindak seperti yang telah kami lakukan? Tidakkah itu merupakan cinta kami pada umat manusia yang membuat kami dapat menerima ide dari ketidakmampuan mereka, bahkan memaklumkan kelemahan mereka untuk berdosa? (BK: 309)
            Dari pernyataan-pernyataan di atas, jelaslah bahwa cinta kasih Kristus, bagi Kardinal, tidak dapat menjangkau semua manusia. Ajarannya hanya dimengerti dan diikuti oleh orang-orang yang jumlahnya sangat sedikit dibanding dengan seluruh manusia dunia ini. Lebih jauh, bagaimana Ia dapat memenangkan jiwa-jiwa mereka yang tidak mengerti maksud dari ucapan dan tindakkanNya? PenyelamatanNya menjadi absurd. Menurut Kardinal, mereka yang mampu mengikuti Kristus adalah pribadi-pribadi yang egoistik karena mengabaikan mereka yang lemah. Kardinal mengatakan bahwa “… mereka yang bersama-sama denganMu hanya akan menyelamatkan diri sendiri sementara kami akan menyelamatkan seluruh umat manusia.” (BK: 313)
Kisah Sang Inkuisitor dalam Perspektif Utilitaris
Argumen-argumen kardinal dalam kisah Sang Inkuisitor dapat ditelaah melalui kacamata aliran utilitaris. Mengapa? Pertama, dari sisi historis, Dostoevsky memang menyerang pandangan kaum utilitaris yang saat itu berkembang di Rusia lewat pemikiran-pemikiran sosialisme. Chernyshevsky seorang utilitaris, yang juga masyur sebagai seorang revolusioner abad 19, merupakan titik serangan argumen-argumen Dostoevsky. Chernyshevsky sendiri dipengaruhi oleh pandangan-pandangan J. S. Mill, bahkan ia menerjemahkan karya-karya Mill dan juga ulasan tentangnya.[2] Kedua, Argumen-argumen Sang Inkuisitor mengenai penyelamatan bagi lebih banyak orang itu begitu lekat dengan diktum utilitaris sendiri yaitu kebahagiaan terbesar untuk jumlah yang paling besar. Dengan demikian, kita dapat melihat relasi setiap ungkapan Sang Inkuisitor dengan pandangan aliran utilitaris.

Karena kedekatan Mill dengan sejarah pemikiran Rusia, maka saya akan mengambil argumen-argumen yang berasal dari dirinya untuk menganalisa Sang Inkuisitor. Secara garis besar, pemikiran Mill menekankan pentingnya manfaat dari suatu tindakkan. Dengan kata lain, tujuan memperoleh status yang sangat penting dari tindakan manusia. Apakah tujuan dari manusia itu sendiri? Dalam konsepsi utilitarian, tujuan manusia adalah memperoleh kenikmatan. Mill mengatakan:
“Credo yang diterima sebagai dasar moral utiliti, atau kebahagiaan terbesar untuk jumlah yang paling besar, adalah tindakan itu benar jika ia mengusahakan kebahagiaan. Tindakan adalah salah jika ia membawa dampak sebaliknya dari kebahagiaan tersebut. Kebahagiaan yang dimaksud di sini adalah kenikmatan (pleasure); dan juga ketiadaan rasa sakit (pain).[3]

Dari pernyataan di atas dapat dilihat bagaimana tindakan itu baik atau buruk tergantung pada apakah tindakan itu mendatangkan kebahagiaan/kenikmatan atau sebaliknya. Setiap manusia, dapat dipastikan, menginginkan kebahagiaan. Namun demikian bagaimana kita dapat tahu bahwa apa yang membahagiakan bagi kita juga merupakan hal yang membahagiakan orang lain? Bukankah dapat terjadi hal yang membahagiakan bagi kita justru mencedrai orang lain? Di sini Mill membagi dua jenis kepentingan dalam diri manusia, yaitu: kepentingan yang mementingkan diri (selfish interest) dan kepentingan yang tak mementingkan diri (unselfish interst). Yang pertama bertindak dengan berorientasi ke masa lalu, sementara yang kedua selalu memperhitungkan dampak yang akan terjadi di masa depan.[4] Tentu saja kepentingan diri yang baik adalah yang memperhitungkan segala dampak yang dapat terjadi di masa depan. Kepentingan diri bagi tiap orang ini berbeda-beda. Namun demikian, secara umum konsepsi kepentingan diri menurut Mill adalah cara memproteksi diri manusia, di mana di dalam melakukan hal tersebut ia harus memperhitungkan dampak-dampak yang mungkin terjadi dan sebisa mungkin untuk tidak mencederai orang lain.[5]

Dalam kisah Sang Inkuisitor, dapat dilihat bagaimana sang Kardinal memiliki pertimbangan tertentu untuk “menyelamatkan” umat manusia dalam hidup yang menyedihkan. Mereka tidak dapat masuk ke dalam arus “orang-orang utama” yang dapat memahami dan melakukan apa yang diajarkan oleh Kristus. Dikatakan pada awal tulisan ini mereka adalah orang-orang yang lemah sehingga tidak sanggup menjadi “orang-orang utama”. Atas dasar kecintaan pada umat manusia, Kardinal beserta Gereja lantas “menggembalakan” mereka, kaum manusia biasa itu. (lih. kutipan BK: 309) Banyak orang menjadi bahagia (dan mungkin juga memiliki pengharapan), meski mereka adalah orang-orang lemah. Dari kacamata utilitaris pandangan Kardinal dengan Gereja itu adalah baik adanya. Mereka “menyelamatkan” umat manusia lebih banyak dari pada Kristus.

Gereja pun telah mengambil alih tugas Kristus sebagai pemimpin umat manusia. Mengapa bisa begitu? Pertama, ajaran Kristus itu tidak bisa diikuti. Kedua, manusia harus memiliki panduan untuk dapat diacu. Sebab manusia itu pada dasarnya takut akan kebebasan. Kebebasan membuat ia melayang dan tidak memiliki pijakan. Dalam pandangan Mill:

“... tinggal di dalam masyarakat membuat tak terhidari bahwa setiap orang harus melihat ke arah panduan. Panduan yang pertama adalah tidak merugikan kepentingan orang lain; kedua adalah setiap orang saling berbagi kerja dan mengorbankan apa yang ia dapat untuk kelangsungan masyarakat atau pun anggota-anggotanya dari  ketidakadilan dan penganiyayaan.”[6]

Panduan seperti yang dimaksud di dalam kutipan di atas, dalam kisah Sang Inkuisitor, disediakan oleh Gereja. Gereja adalah otoritas tertinggi dalam memberikan panduan hidup manusia-manusia lemah itu. Selain itu, tidak seperti gagasan Hobbes yang mengharuskan manusia menyerahkan kedaulatan personalnya, dalam kisah Sang Inkuisitor manusia-manusia itu sendiri yang rela memberikan kedaulatannya tanpa paksaan kepada Gereja. Di sini teori kontrak tidak berlaku. Dengan demikian, ini sesuai dengan apa yang digagas oleh Mill bahwa “... masyarakat tidak didirikan berdasarkan kontrak,...”[7]
Dari apa yang tertuang di dalam di dalam kisah Sang Inkuisitor, terlihat bahwa apa yang dilakukan oleh Kardinal dan Gereja lebih baik dari apa yang dilakukan oleh Kristus. Tetapi, apakah benar bahwa apa yang dilakukan Kristus hanya akan menyelamatkan sedikit orang saja, dan apakah yang sedikit itu adalah mereka yang egois karena tidak berdampak pada orang lain sebagaimana Kardinal melihatnya? Saya akan melanjutkan pembahasan ini dengan mengangkat gagasan Dostoevsky sang penulis kisah itu.

Sang Inkuisitor dan Dostoevsky
Sang Inkuisitor bersama dengan Gerejanya merupakan perwujudan tanggung jawab manusia setelah Tuhan tidak lagi berfungsi untuk menjawab problem kemanusiaan. Penolakan Kristus oleh Kardinal dapat dilihat sebagai penolakan terhadap campur tangan Ilahi di dalam kehidupan manusia. Tuhan telah gagal menyelamatkan umat manusia dari penderitaan. Oleh karena itu Ia tidak perlu datang lagi untuk mengulangi kesalahan yang sama untuk kedua kalinya. Gereja telah mengambil alih dan mengoreksi apa yang dahulu gagal dilakukan oleh Kristus.
Apa yang menjadi argumen Sang Inkuisitor tidak dapat diidentikan dengan pandangan Dostoevsky mengenai problem yang tengah kita bahas ini. Kardinal bukanlah Dostoevsky, meskipun ia adalah figur yang diciptakan di dalam novelnya, Karamazov Bersaudara. Dostoevsky justru memiliki pandangan yang berbeda dari kedua tokoh tersebut.  Berikut adalah Pandangan Dostoevsky
Penderitaan merupakan pembebas
Yang menarik dari pandangan Dostoevsky adalah ia menempatkan penderitaan sebagai jalan bagi penemuan eksistensi diri. Melalui penderitaan manusia langsung berhadapan dengan beragam pilihan eksistensial untuk dirinya. Pilihan (vybor) dengan pertimbangan kesadaran suara hati ( soznanie) kemudian yang menentukan eksistensi manusia. Melalui tindakkan memilih kebebasan hadir sebagai perwujudan eksistensi. Kristus memberikan kebebasan bagi Suara hati manusia untuk mengikutinya tau tidak. Meski bagi Kardinal ini merupakan kesalahan, bagi Dostoevsky hal ini tidak dapat disalahkan. Kristus mengajarkan untuk mencintai seluruh umat manusia dan ini berarti kebebasan pilihan dalam bertindak tidak boleh bersifat tertutup, atau egoistis (svoevolie). Kesadaran memilih harus dilakukan atas dasar cinta kasih dan rasa sepenanggungan atas penderitaan yang dialami oleh manusia. Dengan demikian, bereksistensi  adalah bergumul bersama mengatasi penderitaan.
            Jika demikian, bukankah sama dengan Sang Inkuisitor yang memiliki empati kepada manusia yang menderita, dan berusaha untuk mengatasi penderitaan tersebut? Memang benar, bahwa Sang Inkuisitor berempati dan merasa terpanggil untuk mengatasi penderitaan manusia. Namun, bagi Dostoevsky, cara Kardinal untuk mengatasi penderitan manusia tidak akan pernah membebaskan manusia dari penderitaan. Mengapa? Karena apa yang mereka lakukan justru membuat manusia menjadi tidak sadar akan adanya pilihan-pilihan di dalam hidupnya.
Apa yang dilakukan oleh Kardinal dilihat Dostoevsky sebagai sebuah deifikasi terhadap manusia. Deifikasi sendiri sebenarnya berasal dari kata apotheoō (ἀποθεόω) yang berarti menjadi ilahi. Secara teologis apotheoō atau deifikasi dapat dipahami sebagai peninggian level manusia menjadi serupa dengan yang ilahi. Deifikasi dipahami sebagai manusia menjadi tuhan dan berhak menentukan apa saja yang dianggap layak dilakukan oleh dirinya. Bagi Dostoevsky, yang harus dilakukan bukanlah dengan deifikasi melainkan dengan kenosis (κένωσις = pengosongan diri) penderitaan dapat diatasi. Kisah tentang kenosis terdapat di dalam Surat Rasul Paulus kepada jemaat di Filipi 2:7, yang mengatakan “Kristus telah mengosongkan diriNya sendiri dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia”.
            Dostoevsky percaya bahwa jika seseorang melakukan pengosongan diri, seperti yang dilakukan Kristus bagi manusia, ia tidak lagi menganggap diri lebih tinggi atau lebih sadar dari manusia-manusia lain. Pandangan Dostoevsky ini direpresentasikan melalui ajaran tokoh Pastor Zosima, ia mengatakan: “Cintailah sesamamu, cintailah umat Tuhan,... Kita tidak lebih suci dari mereka.” (BK: 196) Dengan tindakan pengosongan diri, seluruh umat manusia adalah sama dan sederajat. Tidak ada yang lebih tinggi, tidak ada yang lebih sadar, dan tidak ada yang perlu untuk mengembalakan orang-orang yang dianggap lemah. Dengan demikian, Dostoevsky menggagas perlunya kenosis sebagai jalan untuk mengatasi penderitaan manusia.
Bukan Dalam Institusi Melainkan Dengan Cinta Kasih
             Cintakasih merupakan jawaban Dostoevsky untuk masalah penderitaan manusia.[8] Dengan cinta kasih manusia akan benar-benar menjadi tujuan bagi tindakan seseorang karena dengan cinta kasih manusia akan dimampukan untuk bersikap adil terhadap sesamanya.[9] Dengan demikian tidak ada lagi penindasan dan ketidakadilan yang menjadi penyebab penderitaan manusia. Ia mengatakan bahwa dengan cintakasih “manusia akan menjadi suci dan [lebih] saling mencintai satu sama lain, tidak akan ada yang menjadi kaya atau miskin, tidak ada yang kuat atau lemah, semua akan menjadi anak-anak Allah”.[10] Pandangan Dostoevsky tentang cinta kasih ini adalah cinta yang aktif (delatel’naya lyobov).           
Bagaimanakah cinta kasih Kristus digambarkan dalam kisah Sang Inkuisitor? Bukankah Kristus hanya diam saja? Memang, ketika Kardinal memenjarakan dan mengancam akan membakarNya, Kristus hanya diam. Ia tidak menggugat balik sang Inkuisitor yang menolak kedatanganNya, menolak mujizat-mujizat yang dilakukanNya, dan merendahkan kuasaNya. Kristus diam dan hanya tersenyum. Satu-satunya  respon Kristus terhadap Sang Inkuisitor adalah ciuman yang membara dihati pemimpin gereja tersebut. Apakah Kristus tidak mampu menunjukan kuasaNya pada Sang Inkuisitor? Mengapa Ia tidak menjawab argumen-argumen yang menentangNya? Apa maksud dari ciumanNya? Ke-diam-an, senyum, dan ciuman tersebut kiranya mengatakan: Penalarannmu memang tajam, tetapi cintaku lebih kuat.
Penutup
Dalam kaitannya dengan kepentingan diri, apakah yang dapat kita petik dari kisah Sang Inkuisitor ini? Pertama, penderitaan manusia haruslah diatasi. Orang lain menjadi paradigma yang menentukan suatu tindakan yang akan diambil. kedua, kita dapat melihat paradigma kepentingan diri yang dipakai, baik itu Kardinal maupun Kristus dan Dostoevsky adalah altruisme.
Pemikiran utilitarian memang memiliki rujukan pada orang lain, dengan kata lain adalah altruis. Dari kisah Sang Inkuisitor terkuak bagaimana konsep altruisme utilitaris antara Kardinal dengan Kristus; sesuatu yang dapat diterapkan (gagasan Kardinal) berhadapan dengan keutamaan (Kristus). Dari sisi kongkret dapat dilihat bahwa apa yang dilakukan Kardinal itu baik karena memang bermanfaat bagi banyak orang. Namun gagasan Dostoevsky mengenai Kristus sendiri kiranya tidak dapat dianggap remeh. Ajaran mengenai cinta kasih kiranya dapat menjadi dasar bagi utilitarianisme sendiri. Ajaran Kristus tidak serta merta hanyalah ajaran utama yang hanya dapat menyelamatkan sedikit orang saja. Justru sebaliknya, ”orang-orang utama” memiliki tugas untuk memberikan pencerahan  pada banyak orang. Jadi tidk seperti Kardinal yang memimpin orang-orang lain yang lemah, orang-orang utama dalam pandangan Dostoevsky dan juga Kristus justru menjadi pelayan bagi orang-orang yang lemah.

 1] Chto, batyushka, chest, kagda nechego est/ Apa itu kehormatan kawan,  jika tidak ada yang dapat dimakan?

* Catatan kaki dan daftar pustaka tidak diberikan untuk meminimalisir hal-hal yang tidak berkenan dikemudian hari. Bagi yang berminat membaca versi lengkap silakan menghubungi penulis.

Sabtu, 21 April 2012

OPTIMISME SEJARAH MANUSIA PENCERAHAN “ Kritik Herder terhadap Filsafat Sejarah Kant”

Zaman Pencerahan merupakan zaman yang optimistik dengan kemajuan sains dan rasionalitasnya. Kemajuan-kemajuan tersebut membawa keyakinan bahwa manusia bisa dan pada akhirnya akan menuju ke arah kemajuan yang paripurna. Pandangan yang optimistik tersebut kiranya berdampak pada konsepsi sejarah manusia pada zaman itu. Makalah ini akan mempresentasikan filsafat sejarah yang ada ada pemikiran Kant dan tanggapan Herder terhadapnya. Karena itu pembahasan akan dimulai dengan konsep diri. Ini penting karena otonomi diri di zaman Pencerahan begitu diagung-agungkan. Pembahasan ini akan memberikan gambaran singkat tentang diri sebelum melihat mengenai kesejarahan manusia. Pembahasan kemudian akan melihat hubungan filsafat sejarah dan diri, di mana keduanya sebenarnya merupakan hal yang spekulatif adanya. lalu akan dibahas singkat filsafat sejarah Kant dengan dilanjutkan tanggapan dari Herder. makalah ini akan ditutup dengan kesimpulan dan tanggapan kristis.
Diri Sebagai Acuan
Zaman Pencerahan tidak dapat dilepaskan dari keterpesonaan terhadap manusia yang terjadi sejak zaman Renaisans sekitar abad 16. Melalui kelahiran kembali (Renaissance) ini orang mulai memandang diri sebagai sesuatu yang unik. Mereka melihat diri dan tubuh mereka dengan tidak asing seperti sebelumnya, melainkan dengan rasa takjub. Takjub terhadap dirinya sebagai manusia. Rasa keterpesonaan itu nantinya membawa manusia pada subjektivitasnya. Ia menjadi pusat dan penentu bagi apa yang ada di dunianya.
Sejak itu pula rasionalitas manusia menjadi penting. Dengan rasio manusia mulai menalar kehidupannya dan bersikap kritis terhadap tradisi-tradisi yang selama ini mengungkungnya. Secara sederhana dapat dikatakan bahwa zaman modern memiliki tiga jiwa di dalamnya, yakni: pertama, kesadaran diri sebagai subjek; kedua, sikap kritis terhadap prasangka-prasangka dari tradisi/percaya kepada otoritas sains; dan ketiga, progresivitas. Ketiga jiwa modernitas di atas tidak dapat dipisahkan satu dengan yang lainnya. Mereka eksis secara utuh bersama-sama. Kesadaran diri sebagai subjek yang otonom merupakan tujuan manusia. Dengan sadar akan diri sebagai subjek otonom, maka dewasalah ia.[1]
Di sini konsepsi mengenai diri sebagai subjek yang otonom menjadi penting adanya. Namun demikian, diri yang dimaksud bukanlah diri dalam pengertian biasa, melainkan diri yang transenden; yang melampaui kedirian personal. Schroeder mengatakan:
“Diri yang dipertanyakan (di zaman modern – HS) bukanlah diri yang biasa, bukan individu secara personal... Diri yang menjadi primadona (star performer) pada filsafat modern Eropa adalah diri transendental atau ego transendental... Diri transenden itu adalah diri yang tak lekang waktu, universal, dan berada di dalam setiap manusia sepanjang sejarah.”[2]
lebih lanjut, dalam filsafat Kant dapat ditemukan bahwa
“Diri tidak hanya menjadi fokus perhatian, melainkan keseluruhan materi – subjek dari filsafat. Diri tidak hanya sebuah entitas tertentu di dunia, melainkan  sesuatu yang menciptakan dunia. Memikirkan diri tidak hanya mengetahui diri, melainkan mengetahui diri-diri yang lain, juga mengetahui struktur dari tiap diri ada dan setiap diri yang mungkin.”[3]
Dari pernyataan Schroeder tersebut dapat dilihat bagaimana keuniversalan itu penting adanya di dalam zaman Pencerahan. Suatu konsepsi itu harus dapat benar dan berlaku menyeluruh. Tidak terbatasi oleh tempat atau waktu.
Filsafat Sejarah dan Diri
Apakah hubungan antara filsafat sejarah dan diri? Di atas telah disebutkan bahwa diri dalam konsepsi Pencerahan adalah diri yang transenden, yang universal. Filsafat sejarah berbicara tentang sesuatu yang transenden, ia adalah kebeluman. Apa yang dibicarakan di dalam filsafat sejarah bukanlah sejarah dalam artian biasa, yang telah lewat di belakang, melainkan adalah apa yang dapat ada di dalam historisitas manusia itu sendiri. Namun demikian, ada baiknya jika jelas dahulu pengertian sejarah dan filsafat sejarah sebelum kita melihat lebih jauh keterkaitan filsafat sejarah dengan diri.
Sejarah dan Pendekatan Terhadapnya
Kelahiran manusia adalah keterlemparannya ke dalam sejarah. Ia terlempar ke dalam sejarah hidupnya sendiri, terlempar ke dalam sejarah keluarga, ke dalam sejarah suku, bangsa, negara, dunia dan terlebih ia terlempar ke dalam sejarah umat manusia. Tidak ada cara lain, keterlemparan ke dalam sejarah merupakan faktisitas kehidupan itu sendiri. Namun demikian, meskipun ia ada di dalam sejarah dan bersama-sama menyejarah, sering kali sejarah itu menjadi sesuatu yang sangat berjarak dari dirinya. Manusia baru menyadari akan adanya keterkaitan hidupnya dengan “sejarah”[4] justru ketika ia berusaha memaknai hidupnya. Dalam usaha memaknai itulah ia melihat keterkaitan sejarah hidupnya sengan “sejarah”.
Keberjarakan dan pemaknaan hidup memberikan pendekatan tersendiri yang khusus bagi sejarah. Baiklah kita melihatnya demikian: Pendekatan terhadap sejarah dengan pengandaian adanya jarak adalah sejarah saintifik. Sementara itu, pendekatan dengan pemaknaan adalah sejarah spekulatif atau disebut juga filsafat sejarah.[5] Sejarah saintifik, menurut Gordon Graham adalah:
“Sebuah usaha yang hanya sampai pada pelaporan akan hal-hal yang terjadi pada masa lampau dengan berdasarkan bukti-bukti yang ada tanpa perlu berefleksi atas hal tersebut, tanpa perlu memprediksi arah dari kejadian-kejadian itu di masa depan, atau memahami makna yang ada bagi umat manusia.”[6]
Dari penjelasan Gordon tersebut dapat dilihat bagaimana suatu kejadian dihadapi sebagai data-data. Orang melihat sejarah hanya sebagai sesuatu yang telah terjadi. Ini berarti bahwa sejarah tidak dipahami sebagai sesuatu yang sedang berlangsung melainkan sebagai sesuatu yang telah dilewati. Karena ia adalah masa yang telah dilewati, maka pengetahuan terhadapnya juga hanya sebagai informasi atas peristiwa. Misalnya, pernah terjadi gempa di kota A, atau penah di masa hidupku aku mengalami kejadian X. Itulah yang terjadi di dalam pengetahuan akan sejarah sebagai data-data.
Sementara itu, dalam sejarah spekulatif dimungkinkan pemaknaan terhadap hidup dan kehidupan itu sendiri. Dalam filsafat sejarah terdapat usaha untuk memahami makna sejarah manusia sebagai keseluruhan. Gordon mengatakan bahwa filsafat sejarah adalah “untuk melihat dasar dari kejadian-kejadian dan menemukan makna terdalam atau terutama.”[7] Di sini dapat dilihat bagaimana filsafat sejarah mencoba menguak apa yang tersembunyi di balik fenomena-fenomena yang timbul di dalam sejarah. Sekilas, orang dapat mengatakan bahwa antara filsafat sejarah dan sejarah saintifik itu berbeda sama sekali. Namun demikian, sungguh merupakan kekeliruan jika kita memandang dua pendekatan ini sebagai sesuatu yang tidak berhubungan sama sekali. Filsafat sejarah tidak mungkin berdiri tanpa fenomena-fenomena aktual sebagaimana yang dilaporkan di dalam sejarah saintifik. Dengan kata lain, filsafat sejarah membutuhkan atau bahkan hadir sebagai “kanopi komprehensif” dari sejarah saintifik.

Filsafat Sejarah
Sebagaimana telah dijelaskan di atas, filsafat sejarah merupakan suatu usaha untuk memahami makna sejarah manusia sebagai keseluruhan, maka pada bagian ini akan berfokus pada penjelasan terhadapnya. Istilah “filsafat sejarah” diperkenalkan pertama kali oleh Voltaire dalam karyanya Essay on the Customs and the Spirit of Nations, 1769. Di situ ia meneliti mengenai kebiasaan-kebiasaan dan agama dari berbagai negara termasuk Cina, India, dan tentu saja Eropa. Apa yang menarik dari karyanya itu adalah pertama perspektif baru yang digunakannya untuk melihat kemajuan (progress) dari umat manusia. Kedua, kesadaran untuk menggunakan metode yang rasional dalam menjelaskan kemajuan umat manusia tersebut.[8]
Dari dua hal yang menarik dari Voltaire tersebut dapat dilihat bagaimana sejarah, sebagai sesuatu yang lebih besar dari pada sekedar data-data dari masa lampau, harus mendapat penjelasan yang rasional. Maksudnya adalah tidak cukup hanya dengan penjelasan-penjelasan mitis dan mitologis mengapa sesuatu dapat terjadi dan akan membawa kita ke mana peristiwa yang terjadi tersebut. Rasionalitas dalam filsafat sejarah kiranya terangkum melalui tiga pertanyaan mendasar yang di catat oleh Roland H. Nash sebagai berikut. [9]
1.      Apakah pola dari sejarah itu?
2.      Apakah mekanisme yang berlaku di dalam sejarah?
3.      Apakah tujuan atau nilai dari sejarah?

Pada pertanyaan pertama tertuang tiga jawaban yang berbeda. Pertama pola sejarah dipahami sebagai suatu pola yang berulang atau siklis. Pada filsafat Yunani misalnya, sejarah dipahami sebagai sesuatu yang berulang adanya. Jawaban kedua adalah pola sejarah itu linear. Sementara jawaban ketiga, yang dikembangkan di kemudian hari merupakan gabungan dari pola sejarah siklis dan linear (namun demikian, untuk memfokuskan pada pembahasan mengenai Kant dan Herder, saya menekankan hanya pada pola siklis dan linear saja).  Tradisi Kristen kiranya cendrung memahami sejarah sebagai sesuatu yang linear.

Jawaban bagi pertanyaan kedua adalah menyangkut soal bagaimana perubahan itu terjadi. Di sini dicoba diungkap apakah yang memungkinkan sejarah itu terjadi. Pada Kant rasionalitas merupakan pembentuk, sementara pada Hegel dikemukakan bahwa roh-lah yang memungkinkan perubahan demi menemukan dirinya sendiri. Sementara itu pada pertanyaan ketiga merupakan pertanyaan teleologis yang mau memberikan jawaban apa yang ada di ujung proses sejarah yang berlangsung.

Kant dan Filsafat Sejarah
Immanuel Kant merupakan pemikir yang sangat sentral di dalam alam pikir pencerahan. Gagasan filosofis yang diusungnya bersumber dari usahanya untuk mendamaikan pertentangan yang terdapat di dalam rasionalisme dan empirisisme. Secara sederhana problem yang dihadapi oleh dua aliran pemikiran itu adalah dari manakah sumber pengetahuan tersebut? Kaum rasionalis meyakini bahwa rasiolah yang menjadi  sumber pengetahuan. Dalam hal ini, dapat dikatakan bahwa pengetahuan itu bersifat apriori. Sementara itu, kaum empiris meyakini bahwa melalui pengalamanlah pengetahuan itu dimungkinkan, atau pengetahuan itu bersifat aposteriori.
Pendamaian yang dilakukan oleh Kant adalah “membenarkan” apa yang diyakini oleh kaum rasionalis dan juga apa yang diyakini oleh kaum empiris. Namun demikian, ia memberikan catatan terhadap kedua aliran itu pula. Baginya pengalaman memang merupakan sumber dari pengetahuan, namun apa yang didapat dari pengalaman belumlah sungguh-sungguh sebuah pengetahuan. Untuk menjadi pengetahuan, pengalaman harus diolah lagi oleh rasio. Di sini diperlukan kategori-kategori (yang berjumlah 12[10]) untuk dapat menjadikan pengalaman menjadi sebuah pengetahuan. Melalui 12 kategori tersebut, pengalaman (pengetahuan taraf awal, pengetahuan kaum empiris) dikonseptualisasi sedemikian sehingga menjadi pengetahuan. Jadi pengetahuan sebenarnya adalah sintesis dari unsur apriori dan unsur aposteriori.
Dalam proses untuk mencapai pengetahuan, Kant membagi tiga tahap proses pengetahuan, yakni: taraf pengenalan inderawi, taraf Verstand, dan taraf Vernunft.
1.      Taraf Pengenalan Inderawi
Sebelum melihat lebih jauh apa itu yang dapat diketahui, perlu kiranya kita mengerti bahwa Kant membagi realitas menjadi fenomena dan noumena. Fenomena adalah realitas yang dapat ditangkap oleh indera-indera manusia, seperti alam, kursi, meja dan hal-hal material lainnya. Sementara itu, realitas noumena tidak dapat diinderai. Namun demikian, bukan berarti noumena adalah sebuah “omong kosong” belaka. Bagi Kant, noumena ini berada dan menjadi unsur penting adanya fenomena.  Jika fenomena adalah das Ding für mich (benda bagi diriku), maka noumena adalah das Ding an Sich (benda pada dirinya sendiri).
Apa yang dapat diketahui oleh manusia adalah apa yang dapat diinderai olehnya. Apa yang dapat diinderai itu tidak lain adalah realitas fenomena. Taraf pengenalan inderawi terdapat pada realitas ini. Kita mengetahui bahwa ada air, ada batu, ada hujan dan banyak hal lain karena kita memiliki pengalaman terhadap realitas-realitas itu.
2.      Taraf Verstand (nalar)
Pada taraf ini pengalaman-pengalaman inderawi kemudian di konseptualisasi sedemikian rupa melalui 12 kategori yang dimiliki oleh manusia. Hasil dari konseptualisasi itulah yang kemudian disebut sebagai pengetahuan. Misalnya, saya meletakan sepanci air di atas api. Saat air itu mencapai suhu 100 derajat celcius ia mendidih. Berdasarkan pengalaman yang saya jumpai, akal budi saya pada taraf ini akan menerapkan kategori kausalitas pada fenomena ini. Dari situ saya mengambil kesimpulan bahwa jika air dipanaskan hingga mencapai suhu 100 derajat celcius, maka ia mendidih. Itulah pengetahuan.
3.      Taraf Vernunft (budhi)
Taraf ini tidak menndasarkan diri pada fenomena seperti pada taraf-taraf sebelumnya. Apa yang ada pada taraf ini adalah perangkuman pengetahuan dan mengangkatnya ke taraf yang lebih tinggi. Maksudnya adalah pengetahuan yang ada selama ini dirangkum sedemikian rupa dalam suatu kesatuan tertinggi (ide). Kant melihat ada tiga idea, yakni: ide jiwa, ide dunia dan ide Allah. Ide jiwa itu  merupakan ide yang mendasari semua fenomena batiniah yang ada. Sementara ide dunia menyatukan fenomena-fenomena lahiriah. Sedangka ide Allah adalah dasar bagi ide jiwa dan ide dunia. Ketiga ide tersebut mengarahkan seluruh pengetahuan manusia kea rah yang lebih tinggi.
Sebagai sebuah ilmu, filsafat sejarah Kant berada pada tataran Verstand. Maksudnya adalah dengan bertumpu pada apa yang terjadi di realitas empirik, ia menyimpulkan dan memprediksi jalannya sejarah. Sebagaimana yang terjadi di sejak zaman Renaisans, di mana kemajuan ilmu-ilmu alam berkembang dengan pesatnya, maka filsafat sejarah Kant tidak terlepas dari “roh kemajuan”itu sendiri. Ia dengan optimis melihat bahwa sejarah manusia akan menjadi semakin lebih baik dan semakin rasional.
Filsafat sejarah Kant membawa ide-ide zaman Pencerahan di dalamnya.[11] Sebagaimana telah disebutkan di atas, tiga elemen penting dalam Pencerahan, yakni: rasionalitas, kritis terhadap tradisi (percaya pada sains), dan kemajuan, ada di dalam konsepsi filsafat sejarah Kant. Ketiga elemen tersebut kemudian membentuk pandangan sejarah yang bersifat linear, maju ke arah tertentu. Dengan kata lain, sejarah itu memiliki telos-nya yang rasional. Seperti yang diungkapkan oleh Nash:
“Kant menghadirkan sejarah secara linear yang mendorong optimisme ke arah masa depan. Ia begitu yakin bahwa manusia akan terus ke arah pemerintahan dunia (worldwide government) yang akan menetapkan kedamaian dan hukum rasional.”[12]

Terkait dengan  pandangan tentang rasionalitas manusia di zaman Pencerahan, sejarah dalam pandangan Kant terkait dengan nalar (reason). Dengan kata lain sejarah adalah sejarah nalar (history of reason). Sejarah nalar sendiri terejawantah menjadi menjai (1) sejarah nalar pembentuk kembali dunia dan (2) sejarah nalar yang kemudian diketahui (becoming known) dan menjelaskan dirinya.[13]
Kategori sejarah nalar pertama bersifat praksis. Maksudnya adalah dalam kategori praksis ini nalar manusia mengejawantahkan dirinya ke dalam dunia aktual, atau fenomenal. Misalnya saat kita menulis. Ketika menulis, nalar yang berada di dalam pikiran mengejawantahkan diri ke dalam tulisan-tulisan yang kita buat. Dalam arti tertentu, sesuatu yang noumenal terejawantah ke alam fenomenal dan dapat diinderai. Di sini aktivitas sejarah bersifat terbuka dan dinamis. Sementara itu, kategori sejarah kedua ada pada lingkup teoritis. Di sini nalar manusia membentuk paradigma atas sejarah itu sendiri. Ia mengartikulasikan konsep, prinsip dan kepentingan lain dalam suatu sistem yang koheren. Di sini sejarah menjadi tertutup adanya karena terbelenggu pada disiplin ilmu teoritis tertentu.[14]
Sejarah praxis merupakan sejarah yang begitu penting bagi Kant. Mengapa? Karena ia melihat adanya tugas moral di dalam sejarah itu sendiri. Di sini, sejarah menjadi domain di mana tindakan manusia secara normatif untuk membuat sintesa antara tuntutan dan dunia keseharian. Hasil dari sintesa tersebut adalah prinsip totalisasi tertinggi yang bermuara pada kebaikan tertinggi di dunia. Tentu sangat jelas kebaikan tertinggi itu sendiri adalah moralitas yang rasional. Dengan demikian, apa yang terjadi di dalam sejarah terkait erat dengan maxim yang terdapat di dalam etika Kant.

Filsafat Sejarah Herder (Tanggapan terhadap sejarah rasional Pencerahan)
Johann Gottfried Herder lahir di Prusia tahun 1744. pendidikan yang dienyamnya adalah filsafat, sastra, dan teologi di universitas Köningsberg. Ia adalah salah seorang murid Kant dan banyak dipengaruhi olehnya, namun dikemudian hari pandangannya menjadi berbeda dengan Kant sendiri.
Filsafat sejarah Herder tertuang di dalam bukunya Ideas Toward a Philosophy of the History of man. Buku ini sendiri terbit pada tahun yang sama dengan karya Kant (esai), Idea of a Universal History, yaitu tahun 1784.
Berbeda dengan Kant, Herder tidak memandang sejarah sebagai sesuatu yang lurus dan menuju pada sesuatu yang melulu  pasti lebih baik adanya. Tidak ada tujuan di dalam sejarah itu sendiri. Lebih lanjut, tidak ada  tempat bagi impian utopis tentang kesempurnaan yang dapat dicapai manusia.[15] Dengan demikian,  seperti apakah filsafat sejarah Herder itu? Berbeda dengan Kant yang memandang sejarah itu bersifat universal dan rasional, Herder lebih menekankan aspek partikular di dalam sejarah. Maksudnya, sejarah itu berbeda di tiap tempat dan zaman. Masing-masing budaya mengembangkan atau menjalani sejarahnya sendiri. Di sini nampak bahwa apa yang digagas oleh Kant dengan universalitas dan  rasionalitas sejarahnya itu terlalu memaksakan  dan bersifat utopis. Bagaimana mungkin budaya yang berbeda dapat menjadi sama. Paling tidak, walau pun pada budaya lain ada rasionalitas tetapi apakah rasionalitas yang sama dengan apa yang dimaksud Kant? Berbeda dari Kant yang melihat bahwa perkembangan manusia ditandai dengan rasionalitas, pada Herder perkembangan itu ditandai oleh kapasitas-kapasitas lain di dalam manusia.[16] Misalnya, kepercayaan, seni, sosialitas, dan lain-lain.
Kritik Herder sebenarnya memperlihatkan kelemahan pengandaian filsafat sejarah Pencerahan yang begitu menekankan kesatuan (universalitas) dan rasioalitas. Nash mencatat empat perbedaan dari filsafat sejarah Kant (Pencerahan) dan filsafat sejarah yang digagas oleh Herder.[17]
  1. Zaman pencerahan menekankan kemajuan. Sejarah dipandang  sebagai perkembangan umat manusia dari bentuk yang paling barbar dan dipenuhi tahayul ke arah tercerahkan dan rasional. Herder melihat bahwa sejarah itu tidak berjalan secara rasional, melainkan justru nonrasional dan tak sadar (unconcious). Dengan demikian, berbeda dari Kant yang melihat sejarah itu adalah hasil dari  kesadaran pikiran dan rencana manusia, Herder melihat bahwa manusia di berbagai tempat dan waktu mengembangkan dirinya tanpa diikuti oleh kepatuhan pada harapan-harapan rasional.
  2. Zaman Pencerahan melihat masa lalu sebagai masa barbar dan tak tercerahkan. Sementara itu, Herder memandang bahwa masa lalu itu harus dilihat dengan simpati. Kita tidak bisa menilai masa lalu dengan standar masa kini melainkan kita harus mengerti dari dalam masa lalu itu sendiri. maksudnya adalah jika kita mau menilai masa lalu, maka kita harus melihat pula aspek-aspek lain yng ada saat itu. Dengan demikian, masa lalu dapat dipahami dalam keunikannya.
  3. Zaman Pencerahan memandang umat manusia itu seragam dan tak berubah. Implikasinya, setiap kelompok masyarakat digerakan oleh  ideal-ideal yang sama yaitu rasional. Sementara itu, Herder melihat bahwa manusia itu berbeda di tiap tempat dan zamannya. Untuk menjelaskan hal tersebut, tidak seperti Pencerahan yang gemar menganalogikan sesuatu dengan mesin, Herder memakai analogi tumbuhan. Baginya pertumbuhan budaya di tiap tempat dan daerah adalah hasil dari orang yang berada pada waktu dan tempat yang tepat. Budaya itu tumbuh dengan caranya masing-masing tanpa dibatasi oleh hukum universal tertentu.
  4. Zaman Pencerahan mengandaikan keajegan manusia. Ia mengesampingkan pengaruh lingkungan pada sejarah manusia. Bagi Herder sejarah manusia itu sendiri berkembang dengan pengaruh dari kondisi-kondisi tertentu dan lingkungan di sekitarnya.
  5. Zaman Pencerahan mendekati sejarah dengan kontrol dari pengandaian akan data-data. Maksudnya adalah data-data aktual yang ada di dalam sejarah dapat dijadikan tolok ukur untuk merumuskan pola sejarah. Bagi Herder masa lalu itu harus diperlakukan tanpa bias dari masa kini.
Penutup
Cita-cita manusia pencerahan yang mengacu pada otonomi dan rasionalitas diri memiliki kaitan erat dengan konsepsi mereka mengenai kesejarahan umat manusia. Dari sudut filsafat sejarah sendiri, konsepsi Pencerahan (dalam hal ini Kant) tidak dapat melepaskan diri dari semangat Pencerahan yaitu: kesadaran diri sebagai subjek yang otonom, Kritis terhadap tradisi, dan percaya akan progresivitas. Sejarah dipahami sebagai tunggal dan bersifat universal dibawah hukum rasional; dan secara rasional pula sejarah menuju ke arah yang lebih baik.
Herder, meskipun  hidup di zaman Pencerahan memiliki tendensi yang berbeda dalam melihat sejarah. Ia melihat bahwa totalitas sejarah yang terdapat di dalam semangat Pencerahan itu sendiri dapat menimbulkan bias-bias tertentu dalam memahami kemanusiaan dan juga sejarah atasnya. Penekanan pada partikularitas di dalam sejarah dari Herder tentunya penting mengingat dalam setiap totalitas akan ada banyak yang tertindas.
Namun demikian, masih bisa diperdebatkan mengenai sanggahan-sanggahan yang dikemukakan oleh Herder. Misalnya, tidakkah pandangannya dapat jatuh ke dalam relativisme? jika melihat bahwa ia menolak universalitas, maka ia tentu bisa jatuh ke dalam relativisme. Lebih lanjut, ketika ia menawarkan untuk melihat sejarah dari dalam untuk meminimalisir bias yang dapat timbul. Bagaimana mungkin kita bisa benar-benar melihat dari dalam masa lalu itu sendiri? ini kiranya merupakan pertanyaan epistemologis yang mendasar bagi Herder. Kemudian, pandangannya yang menolak data-data faktual untuk merumuskan sejarah. Bagaimana mungkin ada rumusan tanpa didasari data aktual? Bukankah Herder sendiri membangun gagasannya berdasarkan data-data yang ia terima? Dari sini terlihat ada paradox dalam pandangan Herder. Namun demikian, Ada hal penting yang dapat kita pelajari dari Herder pada kritiknya terhadap sejarah model Pencerahan. Kritik Herder tersebut mengingatkan kita untuk melihat bagaimana proyek-proyek kemajuan, seperti yang diusung dalam filsafat sejarah Kant dapat menjadi tendensius jika dikaitkan dengan otoritarian dalam politik. Lebih dari itu, pandangan sejarah yang mengacu pada kemajuan itu kiranya kurang melihat aspek keragaman dari kpasitas manusia terhadap ide kemajuan tersebut. Di sini saya pikir kritik Herder masih dapat bergaung di zaman ini.




* DAFTAR PUSTAKA DAN CATATAN KAKI TIDAK DIPERLIHATKAN GUNA MENGHINDARI HAL-HAL YANG TIDAK DIINGINKAN. NAMUN JIKA BERMINAT ANDA DAPAT MEMINTA VERSI LENGKAP DARI TULISAN INI